
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 wib. Sudah waktunya untuk para karyawan beristirahat. Aku menelepon Rena untuk makan di kantin bersama. Rena berkata aku duluan saja ke kantin. Karena dia harus menyerahkan laporan pada manajer produksi.
Aku kemudian menunggu di meja no.8. Kemudian memesan Jus wortel susu dan kentang goreng. Sambil melihat handphone yang penuh dengan pesan, chat, telepon dari Putra. Hatiku masih terasa kesal. Walaupun isi dalam pesan itu Putra mengatakan bahwa aku hanya salah paham. Tidak mungkin, kataku dalam hati. Kalau benar iya, seharusnya dia tidak biarkan wanita itu memeluknya. Dia memang terlihat tidak nyaman dengan wanita itu. Tetapi tetap saja. Dia seolah membiarkan wanita itu tetap bersamanya.
"Hah... wajah itu lagi, " Rena melihatku melamun dan segera duduk di mejaku.
"Aku lagi kesel banget tahu" jawabku sambil seolah mengeluh kepada Rena
"Aku udah tahu, sejak dulu memang selalu begitu. Setiap kali ada masalah wajahmu berubah seperti ini, " Rena menerutkan mukanya dan memegang kepala dengan dua tangannya.
"Iya-iya, gak usah ditiru juga kali" jawabku
"Aku mau cerita jadi tadi kan....
"Tunggu-tunggu, aku mau pesan makanan dulu, " seru Rena menyelaku bicara
__ADS_1
"Kebiasaan. suka kali merusak moment! " jawabku tidak mau kalah
"Hehehe maaf-maaf. Soalnya pasti lama. Aku udah lapar tahu, aku bakal dengerin kamu curhat kamu kok, " kata Rena sambil sedikit tersenyum jahil.
Rena kemudian memanggil pelayan dan segera memesan makanan. Rena dan aku sama-sama memesan nasi goreng spesial. Untuk minumannya, aku memesan teh lemon dan Rena memesan teh hijau. Setelah memesan makanan aku dan Rena diam. Kemudian Rena mulai menyuruhku untuk bercerita tentang masalahku.
30 menit telah berlalu. Aku menceritakan semua keluh kesahku pada Rena. Tentang perjodohanku. Janji dengan Putra. Tentang Reyhan yang tidak menepati janji dan tidak mau bilang apa alasannya. Serta pengkhianatan Putra kepadaku. Marah, kesal sedih bercampur jadi satu. Selama aku bercerita Rena terlihat berpikir keras dan menyimak dengan seksama. Mencoba mencari penyelesaian dari masalahku.
"Hmm... ini masalah yang agak rumit, " jawab Rena sambil menyesap teh hijaunya.
Rena kemudian berkata padaku. " Menurutku kamu harus lebih mengenal mereka berdua lagi, walaupun kamu sudah lama mengenal putra tetapi tetap saja kalian baru saja bertemu lagi. Mungkin selama dia di Amerika dia sudah banyak berubah."
"Aku hanya tidak menyangka, dia melanggar janjinya. Untuk pertama kali sejak kami berteman, dia melakukan hal ini." Aku bicara sambil sedikit mengusap mataku karena tidak ingin dilihat orang lain. Aku merasa tepat memilih meja ini. Karena letaknya yang berada diujung ruangan, membuat aku tidak banyak dilihat orang lain.
"Iya, tidak apa-apa. Merasa sedih dan kesal itu wajar. Tetapi jika kamu merasa bebanmu terlalu besar dan kamu tidak bisa menyelesaikan masalahmu sendiri, jangan ragu untuk membagi bebanmu pada orang lain," Rena berusaha menenangkanku serta menghiburku
__ADS_1
"Jadi, saranmu aku sekarang harus bagaimana?"
"Pertama, kamu harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau dari ceritamu tadi sepertinya baik Putra maupun Reyhan menyembunyikan sesuatu. Hal yang sangat penting. Mereka berdua tidak ingin kamu tahu akan hal itu Putri. Jadi cari tahu tanpa ketahuan mereka"
"Baiklah, tapi tolong bantu aku ya kamu mau kan? aku mohon," tanyaku dengan muka memelas
"Jangan lupa traktir ya nanti," jawab Rena sambil tertawa
"Huh iya. Orang lagi sedih juga malah ketawa," aku memarahi rena sambil cemberut
"Supaya jangan terlalu tegang hai Putri," Rena masih saja tertawa, walau tidak sekuat yang pertama.
"Sudahlah nanti kita pikirkan lagi. Sekarang ayo kita habiskan makanan ini. Sebentar lagi kita harus balik ke ruangan untuk bekerja." Rena berkata padaku demikian sambil menghabiskan sisa nasi gorengnya
"Iya," aku menjawab sambil melanjutkan makanku.
__ADS_1