Putra & Putri

Putra & Putri
Perjuangan


__ADS_3

Suara riuh terdengar dari arah dapur. Aku mencoba mencuri pandang, dengan sembunyi-sembunyi. Sampai seseorang dari belakang menepuk pundakku. Memaksaku untuk menoleh


"Jangan khawatir nak," ucap mama sambil memasang muka memelas


"Kenapa papa berbuat seperti ini ma? Bukankah papa sudah berkata, aku bebas menentukan sendiri pilihanku?"


"Kau benar sayang. Tetapi papamu pasti ada maksud melakukan semua ini. Sudahlah, kamu tenang saja." Mama tersenyum, sedangkan aku masih cemas akan Putra di dalam sana


"Kamu jangan berani berlaku curang untuk membantu dia ya," tegas papa menemuiku. Membuat emosiku meningkat tajam.


"Papa keterlaluan! papa bilang aku boleh menentukan pasanganku sendiri. Kenapa malah berbuat seperti ini! "


"Putri, jangan berani membantah perkataan papa. Nanti jika sudah waktunya, papa akan memanggilmu untuk masuk! "

__ADS_1


Aku keluar dan pergi menjauh dari rumah. Mencari ketenangan dari kebisingan dari papa. Apakah Putra akan bisa memuaskan papa. Aku merenung. Memikirkan maksud papa melakukan hal ini untukku.


"Memangnya aku ini anak kecil apa. Papa selalu mengatur-atur aku," gerutuku sambil memasang wajah cemberut sepanjang jalan


Terlihat di langit layangan yang berkejaran. Suara tawa anak-anak yang berlarian, berhasil melepas penatku sejenak. Aku tersenyum. Membayangkan seolah anak itu adalah aku. Yang sedang tertawa lepas, tanpa beban.


Sudah 1 jam berlalu, setelah aku meninggalkan rumahku, beserta semua kebingungan. Mau tidak mau, aku terpaksa harus kembali. Karena papa meneleponku untuk pulang. Setibanya di depan pintu rumah, aku terheran-heran. "Aneh," pikirku. "Kenapa seolah tidak ada orang? Kemana mereka semua pergi?"


Aku masuk ke dalam dan mencari di setiap sudut rumah. Tidak ada siapapun. Hanya ada sepucuk surat yang tertempel di depan kulkas.


Kubuka tudung saji itu dengan rasa penasaran. Ada dua jenis makanan yang tersedia disana. Yang pertama sepiring nasi goreng dan yang kedua adalah gulai ikan nila kesukaanku.


"Apa maksudnya ini?" ucapku sambil mendekatkan piring berisi nasi goreng itu kearahku.

__ADS_1


Kusendokan gumpalan nasi itu ke dalam mulutku. Rasa pedas, gurih, dan sedikit rasa kecap merekah di dalam mulutku. Nasi goreng ini, cukup enak. Telurnya dimasak dengan pas. Serta dilengkapi sedikit sayuran, seperti buncis, wortel dan jagung yang dipotong kecil-kecil.


Selanjutnya aku memakan gulai ikan nila. Namun, baru menyesap kuahnya saja, aku berhenti karena kepedasan. Berapa banyak cabai yang dimasukan di dalam sini. Selain itu, gulai ini juga terlalu asam untukku.


Walaupun demikian, aku tetap memakan gulai ikan itu. Mamaku mengajarkan untuk tidak membuang makanan. Aku memakan gulai ikan ini, bukan karena hanya mendengarkan nasihat mama. Tetapi, aku ingin menghargai orang yang telah membuatkan makanan ini untukku. Aku tidak mau, dia kecewa karena menganggapku tidak ingin mencicipi masakannya.


Gulai ikan nila itu, hanya sanggup aku habiskan setengahnya. Sementara, nasi goreng tadi, telah habis kulahap. Selanjutnya, aku menaruh nilai kepada kedua masakan tersebut, di kertas yang sudah dipersiapkan oleh papa di dalam tudung saji.


"Sudah selesai, nak?" ucap papa dari arah belakangku


"Sudah papa," jawabku


"Baiklah, sekarang kamu dan Putra tunggulah bersama ibu di ruang tamu. Papa akan segera kesana dan mengumumkan keputusan papa."

__ADS_1


Aku dan Putra hanya bisa saling terdiam satu sama lain. Bisa kulihat peluh di dahi Putra yang cukup banyak. Dia kelihatan gugup dan mengigit bawah bibirnya. Sementara aku, hanya bisa berharap yang terbaik untuk kami berdua.


__ADS_2