
Sosok Tante Winda perlahan mulai aku ingat kembali. Paras wajahnya yang teduh, bibirnya yang berwarna merah muda yang tak hentinya memberikan nasihat dan memperingatkan kami, apabila kami berdua, bermain terlalu jauh dan mungkin bisa membahayakan diri kami. Serta jilbab hijau muda yang biasa dia kenakan ketika berada di tempat ini. Beliau adalah sosok yang lembut, santun dan penyabar. Terutama saat menghadapi tingkah kami berdua.
"Ini untuk Putri" Tante Winda sering memberikanku makanan ringan kecil saat aku hendak pulang bersama mama.
"Aduh Winda, maaf ya karena saya sering merepotkan kamu" kata mama itu sering dilontarkan ketika aku hendak pulang
"Tidak apa-apa, Nissa. Aku tidak merasa direpotkan kok. Justru aku senang, jadi Reyhan punya teman bermain disini, sambil dia menunggu pekerjaanku selesai" ucap Tante Winda dengan lembut.
"Oh iya, ini ada hadiah untuk Putri. Besok-besok jangan sungkan untuk main kemari lagi ya" Tante Winda menyerahkan makanan kecil untukku.
"Ayo bilang apa Putri?" tanya Mama
"Terima kasih tante" sahutku sambil menyalami tangan beliau.
__ADS_1
"Sama-sama sayang"
"Dadah.... tante" kataku sambil melambai kearah Tante Winda dan Reyhan.
"Dadah.... besok main kemari lagi ya" sahut mereka berdua dari kejauhan.
Tante Winda sering memberiku makanan ringan. Yang menurutku, biasa dia beli sebelum menjemput kami berdua. Seperti sepotong coklat, permen, kue, kacang, bahkan es krim. Aku sangat menyayangi Tante Winda.
Bahkan, pernah suatu ketika saat ibuku sakit. Beliau bersedia membantu untuk menjagaku sementara waktu. Waktu itu ibuku menderita penyakit DBD dan harus di opname. Jujur aku merasa sangat sedih saat itu, melihat ibuku yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Namun Tante Winda menguatkanku. Membuatku tenang dan bersedia menjadi penampung air mataku, saat aku merindukan Mama. Bagiku, beliau adalah ibu keduaku.
Reyhan mulai melanjutkan ceritanya. Dia kemudian mengenggam tanganku lebih erat, seolah mencegahku agar tidak kabur ketika dia mengatakan hal itu kepadaku.
***
__ADS_1
Saat itu umurku sudah menginjak 5 tahun. Dan ternyata hari itu bertepatan dengan hari kelulusan kami dari TK. Keluarga Om Adinata mengajak kami untuk membuat sebuah perayaan kecil. Seolah seperti syukuran kecil, untukku dan Reyhan karena kami sebentar lagi akan memasuki bangku sekolah dasar.
Kertas-kertas warna yang menggantung di ruangan tengah kantor ini terlihat sangat indah. Para karyawan kantor Om Adinata yang juga hadir guna memeriahkan acara ini, berdiri dan memberikan selamat kepada kami. Aku dan Reyhan merasa sangat senang sekali dan asik bercanda satu sama lain.
Di tengah keramaian aku mengajak Reyhan ke tempat persembunyian kami. Didalam sana aku menunjukkan barang yang aku sembunyikan dan aku bawa dari rumah.
"Kamu mau kasih lihat apa sih Riri?" ujar Reyhan sambil bertanya
"Jangan kaget ya?" kataku pelan. "Jeng jeng jeng" aku mengeluarkan petasan yang aku beli diam-diam di warung dekat rumahku.
"Kenapa kamu bawa benda beginian sih? Bahaya tahu" Reyhan merasa heran melihat tingkahku yang tidak seperti biasanya.
"Ih kamu ini. Kalau pesta itu harus dirayakan dengan meriah dong. Makanya aku sengaja bawa benda ini kesini" sahutku dengan semangat.
__ADS_1
Reyhan merasa aneh dengan tingkahku yang menurutnya tidak wajar. Saat itu dia melihatku dengan tatapan yang terlihat takut dan bimbang. Tetapi aku mengacuhkannya. Aku tidak sabar melihat warna-warni petasan ini di langit. Tanpa kutahu tindakanku ini akan membuatku sangat menyesal seumur hidupku.