
Ting.. sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Aku baru saja terbangun dan masih agak sedikit mengantuk. Kuhiraukan pesan itu dan segera menuju kamar mandi. Saat aku baru saja hendak masuk, seseorang meneleponku. Tertera di layar ponselku nama "Putra".
"Halo Putra, ada apa telepon pagi-pagi?" tanyaku
"Kamu belum membaca pesanku ya?" sambung Putra
"Iya, aku baru bangun nih," ucapku setengah mengantuk
"Haduh, udah nanti kamu baca ya pesanku. Jangan lupa," tegas Putra
"Kenapa nggak ngomong sekarang aj...." belum sempat aku bertanya Putra sudah menutup teleponnya
Akhirnya dengan sedikit terpaksa aku membuka pesan dari Putra
Untuk : Putri Nikita
***Hari ini jam 17.00 sore* sepulang kerja, aku akan menunggumu di pohon jambu waktu itu. Aku ingin mendengar jawabanmu. Akan aku tunggu. Dari temanmu Putra**.
Jder.... hatiku seolah disambar petir. Hatiku yang kemarin terasa berbunga-bunga kini menjadi mendung. Apakah Putra akan marah kepadaku? Apakah dia akan membenciku atau tidak mau lagi berteman denganku? entahlah aku tidak tahu. Hatiku sudah mantap menentukan pilihan kepada Reyhan. Ya, pria yang baru saja aku kenal seminggu yang lalu. Aku segera mandi dan bersiap hendak ke kantor.
__ADS_1
Liontin yang diberikan oleh Reyhan terlihat sangat indah. Aku kemudian memakainya ke kantor. Walaupun tidak terlihat karena aku memakai jilbab, tetapi tetap terasa hangat. Sehangat sinar wajah Reyhan yang aku lihat kemarin saat kami bertemu.
***
Rena terkejut saat aku mengatakan bahwa aku menerima lamaran dari Reyhan
"Kamu yakin Putri?" kata Rena
"Iya aku sudah yakin memilih dia," sahutku sambil menyeruput jus alpukat yang sudah kupesan
Rena kemudian mengambil nafas dan berkata "Baiklah sebagai sahabatmu aku hanya bisa mendukungmu, tetapi bagaimana dengan Reyhan?"
"Sore ini aku akan mengatakan padanya, kuharap dia tidak terlalu kecewa."
"Iya Ren, maafkan aku ya."
"Maaf kenapa?" tanya Rena
"Karena aku akan menikah duluan, padahal sahabatku masih sendiri saja," kataku sambil melihat Rena dan kemudian dia tertawa
__ADS_1
"Kamu ini ya Putri, jodoh setiap orang sudah ditentukan. Aku hanya masih lebih nyaman sendirian. Kalau sudah waktunya nanti aku yakin akan bertemu dengan pasanganku." Rena kemudian menepuk dan mencubit pipiku
"Ih sakit tau gak," aku kemudian mengelus pipiku yang kini sedikit merah
"Biarin nanti kalau kamu sudah nikah kita akan jarang bercanda begini," kata Rena
Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Rena. Walaupun terkadang dia jahil dan ngeselin, tetapi dia akan selalu mendukung dan membantuku.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 aku segera menaiki sepeda motor dan segera bergegas menuju lapangan itu. Saat aku sampai disana Putra masih belum datang. Aku kemudian menunggu sambil memakan roti yang aku beli tadi di kantin. Angin yang menghembus dan suasana damai ini sangat aku rindukan. Teringat masa kecilku bermain disini bersama dengan Putra. Aku menunggu. Namun hingga pukul 17.15, Putra masih belum sampai hingga membuatku kesal. Saat aku hendak pulang. Tiba-tiba seseorang menarik lenganku.
"Siapa....
"Jreng.... hai Putri."
Rupanya itu Putra. Aku merasa penampilan dia hari ini seolah pernah aku lihat sebelumnya. Dia memakai kaus hijau dan celana kain panjang warna coklat.
"Baju ini?"
__ADS_1
"Iya Putri, ini pakaian yang sama saat aku mengucapkan janji kepadamu, aku terus menjaganya untuk hari ini." Putra menatapku dengan lembut dan mengeluarkan suatu benda dari belakang tubuhnya
"Putri maukah kamu menerima lamaranku?" Putra terlihat sangat tampan dan manis. Sambil memegang sebuah buket bunga mawar berwarna merah, suasana yang sangat romantis. Membuatku menahan tangis di hadapannya.