
Jam telah menunjukkan pukul 20.00. Aku dan Rena bersiap akan pergi ke rumah Putra malam ini. Kami berdua berharap Putra menceritakan semua hal yang sebenarnya terjadi. Soal hubungannya dengan wanita itu. Aku sekarang sedang menunggu di depan rumah, menunggu untuk dijemput Rena.
"Tin... Tin..." suara klakson berbunyi
"Ayo Putri kita berangkat sekarang," Rena sudah berada di depan rumah sambil mengendarai motornya
"Iya," aku kemudian bergegas naik dan kami berdua segera meluncur ke rumah Putra.
"Syukurlah jalanan rumahmu tidak banyak berubah ya. Aku jadi mudah menjemputmu" Rena mengobrol denganku sambil berkendara
__ADS_1
"Iya, walaupun banyak bangunan baru disini, tapi arah jalannya masih sama. Hanya suasana saja yang berubah," aku menjawab pernyataan Rena
Sekarang aku dan Putra bukan tetangga lagi. Sejak dia pindah ke Amerika, rumah Putra yang lama dijual, untuk membantu kuliah Putra disana. Sekarang yang menempati rumah itu adalah ibu Merry dan keluarganya. Putra kini tinggal di Komplek Perumahan Bougenville. Dekat dengan kantornya.
Kami berdua sudah sampai di rumah Putra yang baru. Putra tampak terkejut melihatku mau menemuinya. Padahal baru tadi pagi kami berdua bertengkar hebat. Rena yang menjadi penengah kemudian mengajak kami untuk mengobrol bersama di dalam rumah.
Suasananya terasa tegang sekali. Aku tidak sanggup melihat wajah Putra. Aku mengalihkan pandanganku dan hanya melihat ke arah vas bunga di dekat Rena.
"Baiklah aku akan menceritakan semuanya pada kalian. Tetapi aku mohon jangan potong pembicaraanku sebelum selesai." Putra menjawab pernyataan Rena dengan mantap
__ADS_1
Fina adalah mantan pacarku. Kami berdua bertemu di amerika 4 tahun yang lalu, tepatnya di kampus aku berkuliah. Dulu dia anak yang baik, cantik, dan sangat aktif dalam organisasi kampus. Kami berdua mulai berpacaran saat semester 3. Aku sangat menyukainya karena sifatnya yang ramah, tegas dan punya sifat kepemimpinan yang tinggi. Namun hubungan kami berdua retak saat semester 7. Karena sibuknya aku dengan penelitianku, mungkin aku jarang bersama dengannya. Akhirnya dia menduakanku, kemudian kami berdua akhirnya putus. Sejak saat itu aku tidak pernah berhubungan dengannya lagi. Tetapi kejadian yang berlangsung 1 tahun kemarin pada Fina membuatku merasa sedih sekaligus prihatin padanya. Membuat aku tidak bisa meninggalkannya. Putra kemudian menghela nafas panjang.
Fina kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan mobil. Kedua orang tuanya tewas di tempat. Tetapi Fina ternyata tahu sebabnya. Ini karena ulah pacarnya. Pacarnya ternyata memiliki dendam pada orang tua Fina. Ayah pacarnya itu dipenjara. Ibunya sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal. Ayahnya tidak terima dengan hal itu, sehingga dia juga menghilangkan nyawanya sendiri. Hal ini karena orang tua Fina menjebloskan ayah pria itu, karena kasus korupsi perusahaan. Ternyata ayah pria itu adalah Pak Burhan. Tangan kanan ayahnya dahulu yang berjasa pada perusahaan, sebelum ayah Fina menikah.
Fina yang mengetahui hal ini berusaha menjebloskan pria itu ke penjara. Namun apa daya. Pacarnya jauh lebih cerdik darinya. Dia tidak memiliki bukti apapun. Harta orang tuanya juga sudah habis diambil alih olehnya. Fina kemudian diusir dari rumahnya sendiri. Syukurlah Fina masih memiliki perhiasan yang tersisa. Dia menjual semua itu dan pergi menyusulku kemari. Dia merasa depresi dan sangat tertekan akan hal ini. Dia juga terus menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak mengetahui niat pria itu dulu ketika menjadi pacarnya. Aku terus membinanya dan mencoba membawanya ke psikiater untuk memulihkannya. Tetapi dia selalu menolak. Dia akan bersikap seolah baik-baik saja di depan orang lain dan menyembunyikan kondisi mentalnya. Putra kembali menghela nafas dan melihat kearahku.
"Sepertinya aku tahu kenapa dia tadi mengatakan bahwa kalian masih berpacaran. Dia tidak ingin kamu juga meninggalkannya. Mengkhianatinya. Sehingga dia berani bersikap demikian padamu Putra," aku mencoba menjawab tatapan Putra walaupun dengan berat hati
"Baiklah." Rena kembali berbicara. Aku sepertinya tahu siapa orang yang bisa membantu kita menyelesaikan masalah ini. Kita bertiga besok berkumpul lagi ke rumah itu dan akan kubawa orang itu bersamaku. Tenang saja dia orang yang bisa dipercaya.
__ADS_1
Aku, Rena dan Putra kemudian mengakhiri pembicaraan ini dan menunggu hingga esok hari. Aku sama sekali tidak menyangka. Bahwa Fina yang kelihatannya berperilaku sangat tidak sopan itu, punya masa lalu yang kelam. Aku tidak bisa menyalahkannya maupun Putra dalam masalah ini. Aku hanya berharap dia bisa segera sembuh dari traumanya dan Putra tidak lagi merasa bersalah padanya.