Putra & Putri

Putra & Putri
Rasa yang tetap sama


__ADS_3

Aku merasa ada makhluk aneh yang terus-menerus membelai kepalaku sejak tadi. Kubuka perlahan mataku dan terkejut melihat Putra yang telah tertidur disampingku. Pasti aku tertidur karena lelah menangis. Yang membuatku malu, aku menangis dihadapan Putra.


"Sudah berhenti nangisnya," ujar Putra sambil melihatku dengan tatapan jahilnya


Mataku membulat dan mulai menonjok bahunya keras "Kamu sengaja ya, kenapa tidak membangunkan aku sejak tadi."


"Lagian tidur kamu nyenyak banget sih. Udah kayak bayi saja, aku jadi gak tega bangunin," tegurnya polos tanpa dosa


"Alasan aja kamu kan, ngaku deh."


"Ih beneran tau. Emangnya siapa yang dari tadi nangis terus sampai akhirnya tidur di bahuku."


Deg, aku kemudian menutup wajahku yang memerah mengingat kelakuanku barusan. Putra kemudian menggodaku dan tertawa riang.


"Kamu ini! masih aja nyebelin," ucapku sambil meninju bahunya ringan

__ADS_1


"Walaupun nyebelin kamu tetap sayang kan?"


"Ah udah ah, jangan menggodaku terus," ujarku kepada Putra sambil sedikit tertawa.


"Nah gini dong, Putri kamu itu gak cocok kalau menangis."


Aku mematut melihat wajah Putra yang terkena pantulan sinar lampu taman. Suara tawa dan senyum indahnya begitu menggoda. Baru kusadari bahwa Putra sengaja berbuat seperti ini untuk menghilangkan kesedihanku.


Kumencoba merekah senyum terbaikku seindah mungkin untuk lelaki yang tengah dihadapanku ini. Saat aku mencoba mengeluarkan kalimat untuk memecah suasana, Putra memegangi kepalaku


"Kamu ini udah jelek tau. Kalau menangis nanti bukan jelek lagi tapi buruk rupa," seru Putra sambil berlari menjauh dari taman


Kami berdua tenggelam dalam kegembiraan. Cahaya bulan purnama serta bintang di langit malam ini seolah menjadi saksi, bahwa Putra adalah orang yang selalu mengerti dan mampu membuatku melupakan masalahku.


"Nah udah ketangkep kan," ujarku

__ADS_1


"Ampun.... ampun Riri," Putra tertawa dan berusaha melepaskan genggamanku di jaketnya, kemudian dia berkata...


"Nah sekarang sudah tidak sedih lagi kan? Sekarang sudah hampir tengah malam nih, selamat tidur ya, jangan nangis terus."


Aku baru menyadari, bahwa putra berlari menggiringku menuju ke arah rumahku. Namun sebelum dia beranjak pergi, dia kembali memakaikan jaketnya ke tubuhku.


"Aku tidak mau kamu sampai sakit karena kedinginan. Pakai saja jaketku ini ya."


"Terus kamu bagaimana? nanti justru kamu yang sakit," ucapku sambil melihat wajahnya


"Aku ini laki-laki, gak gampang sakit kayak kamu."


"Dasar sombong," aku memalingkan arah tubuhku dan berniat membuka pintu, disaat itulah seseorang menarik lenganku dan secara tiba-tiba langsung mengecup dahiku dengan lembut.


"Jangan bersedih lagi ya. Riri," ucap Putra sembari mengelus rambutku

__ADS_1


Ugh... Kenapa malam ini kamu terlihat begitu tampan. Wangi parfum Putra, bahunya yang kokoh, dan bibirnya yang lembut yang mendarat di dahiku membuat aku kini mabuk kepayang. Disaat dirinya perlahan menghilang diantara gelapnya malam, aku merasa hatiku seakan bergejolak. Aku sempat berpikir, setelah Putra mengkhianati janjinya dia pasti akan menjadi sosok yang berbeda. Tetapi aku salah, Putra tetaplah Putra. Walau kini tampilannya berubah, isinya tetaplah sama. Teman terbaik yang aku punya. Yang selalu mengerti akan aku. Lelaki pertama yang menyatakan cintanya kepadaku secara langsung. Namun kenapa aku tidak bisa mencintaimu dan justru memilih orang lain.


"Maafkan aku, karena aku ini wanita yang bodoh karena tidak menyadari ketulusan cintamu," gumamku pelan.


__ADS_2