
Setelah pengakuan yang dikatakan oleh Reyhan, suasana di rumahku terasa berbeda. Mama, menyetujui pilihan kami berdua untuk tidak mengikat janji suci. Tetapi papa, seolah acuh tak acuh terhadapku.
"Papa kecewa sama kamu Putri. Bisa-bisanya kamu menolak Reyhan dan memilih pria lain! Kamu tahu, sejak dulu papa mengincar Reyhan agar bisa menjadi pendampingmu. Tetapi kamu malah membuang kesempatan ini," ujar papa sambil mengusap kepalanya
"Papa, Putri tahu papa ingin Putri bahagia. Reyhan adalah pria yang baik. Putri berterima kasih pada papa, karena telah mempertemukan kami kembali. Tetapi, Putri tidak ingin menikah dengan lelaki yang tidak Putri cintai," aku mencoba menenangkan papa yang tengah kesal tererus ego beserta emosi
"Memangnya siapa, lelaki yang berhasil membuat Putriku ini jatuh hati. Sampai menolak calon mantu pilihan papa."
Aku tersenyum, lalu berkata "Papa juga pasti mengenalnya. Dia anak tetangga kita dahulu. Putra Rahmadana,"
"Apa! Putra tetangga kita yang bandel itu. Nak, kamu tahu, papa tidak terlalu suka dengan dia. Apa kamu tidak ingat? gara-gara dia, Putri kecil papa ini sering melakukan hal yang berbahaya."
Papa mengerutkan dahinya dan beranjak pergi. Sejak dulu, papa tidak suka aku terlalu akrab dengan Putra. Bagi papa, Putralah yang membuat citra anak gadis satu-satunya ini menjadi gadis yang tomboy. Suka memanjat pohon, bermain bola dan lebih menyukai celana dibandingkan rok. Sejak Putra pindah, papa mulai melihat perubahan drastisku. Aku yang dahulu lebih suka bergabung dengan kelompok laki-laki perlahan berubah haluan. Belajar dandan dan menjadi lebih feminim. Semuanya berkat jasa teman wanitaku tentunya, Rena.
***
__ADS_1
"Kelihatannya papamu tidak menyukaiku ya? wajar saja sih, soalnya aku sering mengajakmu bermain sampai terkadang lupa waktu. Maafkan aku dengan sikapku yang dulu," raut wajah Putra memancarkan kekecewaan
"Jangan khawatir. Aku yakin setelah papa bertemu denganmu, papa akan berubah pikiran." seruku bersemangat
"Baiklah, aku tidak akan mengecewakan kamu lagi Putri. Aku akan berjuang untuk mendapatkan restu papamu." Putra tersenyum dan mengepalkan tangannya
Aku menyandarkan kepalaku ke bahu Putra. Kami berdua sedang duduk di bawah pohon jambu kenangan kami. Menikmati semilir angin yang menerpa wajah. Tenang dan damai.
"Kamu!" ujar seseorang dari arah belakang mengagetkan kami yang tengah santai
Papa menarik tanganku, menyeretku ke belakang tubuhnya.
"Berani ya kamu dekati anak saya." seru Papa
"Om... tolong tenang dulu ya," jawab Putra
__ADS_1
"Sabar pa... sabar" seruku
"Papa, perkenalkan ini Putra" ujarku. Papa menatap sinis. Sementara Putra, hanya terdiam kaku.
"Kamu mungkin berhasil merebut hati anak saya. Tetapi, tidak semudah itu saya bisa menerima kamu di keluarga kami," Papa mengatakan hal itu sambil mengitari tubuh Putra
"Saya akan berjuang papa. Karena saya sangat tulus mencintai Putri," Jawab Putra dengan tegas
"Baiklah. Kalau memang demikian, kamu siap untuk menerima tantangan saya,"
"Siap," seru Putra mantap
Kami bertiga berjalan menuju pasar. Disana, papa membeli berbagai macam bahan makanan segar. Mulai dari ikan, beras, telur, sayur mayur dan buah-buahan. Kemudian, papa mengajak aku dan Putra ke rumah. Setelah papa meletakan barang belanja di dapur, dia menyuruhku untuk pergi keluar. Papa berkata, bahwa ini adalah urusan laki-laki. Karena itu, perempuan tidak boleh ikut campur.
"Sepertinya kamu sudah bisa menebak apa tantangan yang akan saya berikan" ucap Papa menyelidik
__ADS_1
"Iya, papa. Saya akan melakukan yang terbaik," seru Putra sambil mengepalkan tangannya.