Putra & Putri

Putra & Putri
Janji antar lelaki


__ADS_3

Entah apa yang dipikirkan oleh Reyhan. Saat aku mengecek ponselku pagi ini, kulihat ada notifikasi pesan darinya.


Putra, aku ingin bicara sesuatu hal yang penting denganmu. Kita bertemu di kafe mawar biru jam 16.00, Sore ini. Aku tunggu.


Sore itu, kulajukan sepeda motorku menuju kafe yang dikatakan Reyhan. Kuharap, dia tidak berniat mengacaukan pernikahanku dengan Putri. Yang kini hanya tinggal menghitung hari. Setelah aku akhirnya berhasil mendapat restu dari papa Putri, keluarga kami berdua telah bersepakat untuk segera melaksanakan pernikahan kami. Alasannya sederhana, ayahku akan segera melaksanakan perjalanan kembali ke Amerika dalam waktu lama. Sehingga, beliau takut tidak bisa melihatku menikah. Akhirnya, kami berdua bersepakat untuk menikah pada hari minggu. Yang jatuh 2 hari lagi.


Kulihat dari jauh, dia melambaikan tangannya. Mempersilahkan aku untuk duduk, dan segera memanggil pelayan untuk mencatat pesanan kami. Setelahnya, langsung dia letakkan ponsel yang dia mainkan dan mulai bicara.


"Aku mau bicara satu hal denganmu," ujar Reyhan

__ADS_1


"Tentang apa? kalau kau mau memintaku untuk melepaskan Putri, maaf ya. Jangan berharap. Kami berdua saling mencintai dan kamu juga sudah memilih untuk mundur," jawabku dengan nada agak sombong.


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan merebut Putri dari sisimu. Aku hanya ingin tahu, sejak kapan kamu mengenal dan menyimpan rasa pada wanita itu." Reyhan menyesap teh hijau yang dipesannya. Sementara Putra, yang duduk di hadapannya, mengangguk dengan raut wajah asam.


"Kau tahu, sejak kamu meninggalkannya, akulah yang selalu bersama dia. Jujur, aku pernah berpikir. Akulah satu-satunya pria yang pernah singgah di hatinya. Bahkan aku dan dia sudah mengikat janji 10 tahun yang lalu, untuk menikah ketika sudah dewasa. Tak kusangka, aku akan mendapat seorang saingan untuk menjadi pasangan Putri," ujar Putra sembari mengertakkan giginya geram.


"Oh benarkah. Tetapi apa buktinya kau benar-benar mencintainya?" tanya Reyhan lagi


Reyhan tertawa lepas. Melihat Putra yang marah di hadapannya. Dengan sigap, dia kembali menyuruh Putra untuk rileks agar memadamkan emosinya.

__ADS_1


"Sebenarnya, apa maksudmu mengajakku ke tempat ini," tanya Putra sambil memalingkan wajahnya.


"Tidak ada apa-apa. Kau tahu, aku mengajakmu kemari agar kita bisa berbaikan. Tidak ada gunanya bagi kita untuk saling mendendam. Persaingan kita sudah selesai, dan kaulah pemenangnya. Putri telah memilihmu. Untuk apa aku masih mengejar-ngejar dia?" Reyhan mengatakan semua itu sambil melihat raut wajah cemburu Putra.


"Kau benar." ujar Putra sembari tersenyum. "Jujur saat aku tahu Putri awalnya memilihmu, hatiku rasanya sakit. Selama beberapa hari, aku tidak bisa menerima kenyataan. Dan akhirnya aku berhasil mengikhlaskan dia bersamam. Tak kusangka, takdir berkehendak lain. Dia mengembalikan Putri ke pelukanku."


Reyhan menghabiskan teh hijaunya. Kemudian dia berkata "Sebagai seorang lelaki, tak pantas rasanya jika kita menyakiti hati seorang wanita. Aku juga sangat mencintai Putri. Sama sepertimu. Tetapi, aku tidak mau, dia menjadi tidak bahagia bersamaku."


"Ingat ya Putra, aku tidak akan segan menghajarmu. Jika kau berani membuat Putri menangis sekali saja." Reyhan mengatakan semua itu sambil mengacungkan telunjuknya.

__ADS_1


"Iya tentu saja," jawab Putra tegas.


Reyhan dan Putra menghabiskan sore itu, dengan berbincang-bincang. Tentang diri masing-masing. Persaingan mereka dulu. Juga tentang Putri. Wanita yang mereka cintai. Disaat orang-orang semakin ramai, dan udara mulai mendingin, mereka akhirnya menghentikan pembicaraan. Tetapi salah satu di antara mereka tidak akan pernah tahu, bahwa masih ada satu hati yang terluka.


__ADS_2