Putra & Putri

Putra & Putri
Bersamamu (END)


__ADS_3

"Terima kasih sudah datang," ucap Putra dan aku, Putri sambil tersenyum.


Seusai ijab kabul, acara dilanjutkan dengan resepsi. Aku dan Putra berdiri sambil menyalami para undangan dan tamu yang terus datang beriringan.


"Selamat ya, Putri. Akhirnya kamu menikah juga. Semoga kalian bisa menjadi keluarga yang bahagia," Fina datang dan memberi salam kepada kami berdua.


"Iya, terima kasih sudah datang Fina," sahut Putra. Fina kemudian mengulurkan tangannya padaku, namun aku tak langsung menyambutnya. Pikiranku terbayang dengan kejadian antara wanita ini dengan Putra dahulu.


"Iya Fina, terima kasih," sahutku pelan.


"Putri, maafkan aku atas perlakuanku yang dulu. Aku tidak akan lagi mengambil Putra, darimu. Kalian sangat serasi. Kumohon maafkan aku, ya?" tatapan Fina penuh dengan rasa kekecewaan. Kuakui dia memang cantik, sehingga tak heran membuat Putra sempat berpaling dariku. Namun kalau bukan karena dia, Mungkin aku tidak bisa jujur pada perasaanku sendiri kepada Putra.


"Fin, iya aku maafkan kamu. Semoga kamu juga segera dipertemukan dengan jodohmu ya," kataku. Membuat raut wajah Fina berubah menjadi cerah. Putra juga sangat senang melihatku dan Fina berbaikan.


"Aku pergi kesana dulu ya," seru Fina sambil menunjuk ke arah meja prasmanan dan berlalu meninggalkan kami.


"Kupikir, kamu masih marah padaku karena aku sempat berpacaran dengannya," goda Putra. Membuatku geli.


"Yang lalu biarlah berlalu. Tetapi awas saja, kalau kau berani menggoda wanita lain lagi. Lihat saja nanti!" seruku galak sambil sedikit menarik kuping Putra.


"Siap bos!" sambung Putra sambil bergaya hormat.


***


PRANG! suara piring pecah mengagetkan semua orang yang tengah menikmati hidangan pesta.


"Aduh maafkan saya kakak," seru Nanda.


"Nggak usah dibersihkan non, biar saya nanti yang akan membersihkan pecahan piringnya." Ibu Nanda menghentikan seorang gadis yang tengah membersihkan kepingan piring yang telah pecah tersebut.


"Tidak apa-apa. Ini salah saya karena tidak hati-hati sehingga menjatuhkan piring saya sendiri," ujar gadis cantik itu, sambil memasukkan pecahan piring ke dalam sebuah kantong plastik. Segera dia berjalan untuk membuang kantong tersebut ke dalam tempat sampah, sampai seorang lelaki datang menghentikan langkahnya.


"Sudah aku bilang hati-hati."


"Aku sudah hati-hati tau. Cuma, tadi tanganku agak licin makanya piringnya jatuh," seru sang gadis.

__ADS_1


"Berikan tanganmu. Lihatkan, jadi lecet begini. Makanya lain kali hati-hati." Sang Pria mengoleskan salep dan mengelap telapak tangan gadis tersebut dengan sapu tangan.


"Iya-iya, bawel banget sih," seru sang gadis.


"Biarin, wajar dong kalau bawel sama pacar sendiri."


"Eh sembarangan, emangnya kapan kita pacaran."


"Sejak tadi," seru sang pria sambil tertawa cekikikan.


"Dasar," seru sang gadis sambil tersenyum malu-malu.


Putra dan aku yang melihat tingkah kedua oarng tersebut, saling bertatapan dan kemudian tertawa. Tak kusangka kami menemukan hal yang menarik di hari bahagia kami. Sang pria dan gadis tersebut adalah dua orang yang kami kenal. Sang pria yang hangat dan sedikit usil tersebut adalah Reyhan Adinata. Sementara sang gadis yang ditolongnya adalah teman akrab kami berdua, Auryna, atau yang biasa kupanggil dengan nama Rena.


"Putra dan Putri selamat ya. Semoga kalian bisa membentuk keluarga yang sakinah marwadah warahmah." Rena terlihat sangat bersemangat disusuli dengan Reyhan di belakangnya.


"Iya Ren, terima kasih," seru Putri.


"Kalian kok tiba-tiba bisa jadi dekat gini sih? Wah nggak nyangka aku, rupanya secepat itukah kau move on dari Putri?" Putra mengintrogasi Reyhan dan membuat Reyhan tergelak.


"Cie bentar lagi nyusul nih," goda Putra lagi.


"Terserah nanti, ya kalau memang nanti kami berjodoh." Reyhan maju dan kini berada di hadapanku.


Aduh, walaupun aku sudah menolak Reyhan tetapi kenapa mendadak hatiku bergetar. Kepalaku seolah memutar moment manisku bersamanya. Sadar Putri, kau ini sudah menikah dengan Putra. Kenapa sekarang kau malah memikirkan Reyhan.


"Rey... Aku... Aku.."


"Kamu hari ini sangat cantik Putri. Selamat atas pernikahan kalian. Aku harap kamu selalu bahagia." Reyhan menyalamiku, lama. Sedangkan aku sendiri, tenggelam dalam sinar matanya.


"Yak! sudah cukup," Putra melepaskan tangan kami, yang sedari tadi bertaut.


"Haha.. iya. Kamu nggak usah takut, aku tidak akan merebut Putri lagi darimu. Kalian ini sudah sah." Reyhan tertawa, mencairkan suasana canggung ini.


"Eh, kita foto dulu yuk. Masa kita nggak foto bareng pengantin baru." Rena mengeluarkan ponselnya dan menyuruh fotongrafer untuk memotret kami.

__ADS_1


"Siap ya, 1 2 3" seru abang fotografer


"Cheers," seru kami berempat sambil bergaya masing-masing. Entah berapa kali kami berpose dan berfoto. Setelahnya Rena dan Reyhan berlalu meninggalkan kami dan berjalan berduaan.


"Sepertinya akan ada romansa cinta baru nih," seruku kepada Putra.


"Iya, kalau mereka jadian dan akhirnya menikah. Kita juga harus datang."


"Ya harus dong. Masa sih nggak." sahut Putra bersemangat.


Acara selanjutnya adalah pemotongan tumpeng. Aku memotong ujung tumpeng tersebut dan mengambil beberapa lauk.


"Suapin suaminya dong Putri," tegur mama.


Aku malu-malu sambil menyendokan nasi kuning itu ke dalam mulut Putra. Sedangkan Putra, malah menikmatinya dengan senyum yang membuatku muak.


"Gantian ya, sayang." Putra menyendokan nasi dan menaruhnya di mulutku. Sementara para tamu lain, sibuk mengambil foto kemesraan kami.


Akhirnya acara puncak dimulai. Mama menyerahkan sebuket mawar berwarna pink bercampur merah ke tanganku. Aku menghadap ke belakang dan melemparnya ke arah para tamu. Suara riuh terdengar berusaha menangkap bunga tersebut. Akhirnya bunga cantik tersebut jatuh ditopang oleh dua tangan yang berbeda. Tangan yang pertama tangan kecil dan halus, sedangkan yang satunya lagi adalah tangan besar dan berwarna lebih gelap.


"Tuh kan, benar aku bilang. Bentar lagi kalian nyusul." Putra terlihat sangat senang mengetahui yang menangkap buket tersebut adalah Rena dan Reyhan.


"Selamat ya Rena. Semoga langgeng sampai ke pelaminan," seruku sambil bertepuk tangan.


"Putri, udahlah. Jangan godain kami terus," ujar Rena sambil cemberut.


"Ini untukmu saja." Reyhan menyerahkan buket tersebut kepada Rena, yang dibalas dengan rona pipi merahnya.


Dikatakan bahwa, orang yang mengambil buket yang telah dilemparkan pengantin, akan menikah setelah mereka. Reyhan dan Rena terlihat malu dan canggung satu sama lain. Aku harap mereka bisa menjadi pasangan yang bahagia, seperti yang kurasakan bersama Putra hari ini.


"Akhirnya janji masa kecil kita terwujud ya," sahut Putra sambil menatap wajahku.


"Iya," ucapku sambil tersenyum.


Jujur, setelah yang kualami selama ini, aku bersyukur. Bisa bersama denganmu. Maafkan aku yang sempat meragukan besarnya kasih sayangmu, padaku. Aku harap, kita berdua bisa membina rumah tangga sebaik-baiknya, dan mendidik anak-anak kita nanti, dengan cinta dan kasih.

__ADS_1


__ADS_2