
Aku merasa akan pulang dengan hati yang bimbang sambil menunggu di tempat parkir. Mencari tentang apa yang sebenarnya terjadi pasti tidak akan mudah. Walaupun demikian, aku harus mencoba. Supaya aku bisa menetapkan hatiku. Apakah dengan Reyhan ataukah dengan Putra.
"Sudah siap?" Rena membangunkan aku dari lamunanku
"Iya, memangnya kita mau kemana?"
"Ke tempat perempuan tadi"
"Apa! kamu sudah gila ya?" aku memarahi Rena. Untuk apa pergi ke rumah wanita itu lagi. Dia pasti bukan hanya akan menamparku nanti, tetapi juga Rena.
"Justru kita harus kesana. Kita harus tahu apa hubungan mereka saat ini. Kalau dari ceritamu tadi, sepertinya Putra tidak bisa meninggalkannya. Aku juga penasaran dia wanita yang seperti apa." Rena berusaha meyakinkanku
__ADS_1
"Baiklah," seruku sambil menghela napas panjang. "Tetapi, kita harus sembunyi-sembunyi ya. Aku tidak mau kita berdua dicelakai olehnya," aku menjawab pernyataan Rena
"Sini, biar aku saja yang membawa motormu, kamu aku bonceng saja. Soalnya kamu udah terlihat capek banget dengan semua ini" Rena berkata sambil seolah meminta kunci motor
"Nih, pelan-pelan bawanya ya. Jangan kencang-kencang," aku memberikan kunci pada Rena dan kami segera menuju rumah wanita tadi.
Rumah kecil itupun terlihat. Tertutupi dengan semak-semak dan pohon tumbang. Membuat kesan angker melekat pada jalanan rumah ini. Aku dan Rena menyelinap masuk ke dalam rumah itu. Kami berdua masuk dan bersembunyi di balik papan tua yang rubuh di depan pintu masuk. Terdengar suara yang membuat kami berdua merinding.
Suara tangisan dan rintihan dari seorang gadis. Semakin lama semakin keras. Tak jarang juga kami mendengar gadis itu tiada henti memukulkan tongkat ke dinding. Piring dan gelas yang berserakan di lantai. Gadis itu tak henti meminta maaf sambil memegang sebuah foto usang.
Kraas.... suara kaleng itu berbunyi
__ADS_1
"Siapa itu? siapa itu hah!"
Gadis itu mendekati pintu masuk. Namun sebelum kami hendak ditangkap olehnya. Putra sampai ke rumah itu dan wanita itu merasa lega. Dia langsung memeluk dan menangis di depan Putra. Putra diam dan membiarkan dia bersikap demikian. Seolah hendak menolong depresi yang dideritanya.
"Sudahlah Fina. Ikhlaskan mereka. Bukan salahmu mereka berdua meninggal." Putra berusaha menghibur wanita yang diketahui bernama Fina itu.
"Aku sangat takut Putra. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Belum lagi tadi pagi ada wanita yang mengaku jadi pacarmu. Aku tidak mau sendirian lagi." Fina menangis sesegukan sambil tetap memeluk erat Putra.
"Kita mungkin sudah tidak berpacaran lagi. Tetapi aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu akan tetap jadi temanku. Kamu bisa saja pergi dari tempat ini. Tetapi kamu selalu tidak mau pergi. Mereka berdua juga akan sedih di atas sana jika melihat keadaanmu sekarang." Putra mengeratkan pelukannya dan menghibur gadis itu
"Aku tidak mau, kenanganku dengan mereka terlalu banyak di tempat ini. Aku tidak mau lupa" Fina menangis lagi
__ADS_1
"Aku ini tidak gila. Aku cuma merasa sangat sedih dengan kepergiaan mereka. Karena kesalahanku mereka harus pergi dari dunia ini"
Aku dan Rena penasaran. Sebenarnya apa yang telah terjadi. Kejadian apa yang dialami wanita itu sehingga membuatnya jadi seperti itu. Aku dan Rena kemudian menyelinap keluar dan pergi sejauh mungkin meninggalkan rumah itu. Aku bersama Rena memutuskan untuk menemui Putra nanti malam di rumahnya. Agar rasa penasaran kami dapat terpuaskan dengan misteri ini.