Putra & Putri

Putra & Putri
Keputusan


__ADS_3

Pagi telah tiba. Aku berpamitan kepada Rena dan hendak pulang ke rumah. Hari ini aku akan mengatakan keputusanku. Rena berniat untuk mengantarkanku pulang, tetapi aku menolak. Aku tidak mau terlalu merepotkan dia lagi. Taksi yang melaju membuatku merasakan sedikit ketenangan. Aku berdoa sepanjang perjalanan menuju rumah, semoga ini adalah keputusan yang tidak salah. Tanaman merah berduri yang harum nan cantik terlihat di depanku dan taksi kemudian berhenti. Di depan pintu rumah mama sudah menantiku dengan kantung plastik yang di pegangnya. Aku kemudian berjalan mencium tangan mama.


"Kamu sudah siap sayang," tanya mama


Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan "Iya mama, Putri sudah siap."


Kakiku melangkah menuju kamar dan mengenakan pakaian yang mama pegang. Blus berwarna merah berbalut dengan paduan lembut warna hijau muda. Aku merasa seperti kuncup mawar yang siap mekar. Mama masuk ke kamarku dan memegang pundakku.


"Kamu terlihat cantik sekali sayang," ucap mama


"Terima kasih mama," sahutku


"Maafkan mama karena melakukan perjodohan ini padamu," sambung mama dengan raut wajah murung


"Mama jangan merasa bersalah, Putri tau. Ini mama lakukan untuk kepentingan Putri kan?"

__ADS_1


ujarku


Mama menahan tangisnya dan membelai kepalaku dengan sentuhan hangat


"Tentu saja sayang."


"Mama, aku mohon jangan marah jika keputusanku membuat mama kecewa," sambungku


Mama kemudian memelukku dari belakang dan berbisik "Mama hanya bisa memberikan pilihan, tetapi kamulah yang memutuskan, karena ini hidupmu nak."


Suara klakson berbunyi tepat di depan rumah. Aku sudah bisa menduga siapa itu. Reyhan dan Ayahnya. Mama memanggilku untuk keluar kamar. Ayah Reyhan bersalaman dengan papa dan mama. Sedangkan aku mematung di samping mama. Aku tidak berani menatap Reyhan dan menunduk. Sepasang sepatu kulit yang dia kenakan terlihat baru di semir. Aku menarik kedua sisi bibirku ke atas agar dia tidak mengira aku sombong.


"Nak Reyhan silahkan duduk disini," kata Papa.


Reyhan duduk berhadapan denganku. sedangkan ayahnya duduk berhadapan dengan Papa. Mama kemudian pergi ke dapur mengambil minuman dan segera duduk di sebelahku.

__ADS_1


"Nak Putri, hari ini kami datang kemari untuk mendengar keputusanmu," seru Om Adinata, Ayah Reyhan kepadaku.


"Aku sudah memutuskan, tetapi sebelum itu aku ingin bertanya pada Reyhan," ujarku


"Silahkan," sambung Om Adinata


Aku menguatkan diriku menatap wajah Reyhan. Dia terlihat tegang dan sedikit pucat. Mengenakan pakaian yang sama saat pertama kali dia datang.


"Reyhan kenapa kamu mau di jodohkan denganku," tanyaku padanya


"Karena aku ingin selalu melindungimu," jawabnya tanpa rasa ragu


Aku kemudian membulatkan tekadku dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mengeluarkannya dari lubang kecilku.


"Aku memutuskan bahwa aku menerima untuk di jodohkan dengan Reyhan," seruku yang membuatnya kaget

__ADS_1


Reyhan kemudian menatapku tak percaya. Seolah dia merasa ini tidak mungkin. Bukankah kemarin kami baru bertengkar. Dia mencoba menyadarkan diri dengan mencubit punggung tangannya. Tidak, ini bukan mimpi. Terlihat rona wajah bahagia pada kedua orang tuaku dan juga Ayah Reyhan. Mereka terlihat sangat bahagia, karena sebentar lagi akan menjadi keluarga. Aku kemudian menunjukkan senyum tulusku pada Reyhan. Membuatnya tanpa sadar bergumam "Kamu terlihat sangat anggun bagai bunga mawar yang baru mekar di pagi ini."


__ADS_2