Putra & Putri

Putra & Putri
Gara-gara aku


__ADS_3

Aku tak bisa merasakan kakiku dan rasanya badanku tertimpa beban yang sangat berat. Perlahan bisa kurasakan panasnya api yang menjalar menghanguskan hampir seluruh ruangan ini. Asap yang mengepul, menusuk paru-paru kecilku dan terasa begitu menyesakkan. Aku berusaha tetap bernafas sambil berteriak meminta pertolongan.


"Tolong... tolong.... mama... papa..."


Kubisa dengar suara orang yang berusaha memadamkan api yang semakin menjalar. Saat kesadaranku perlahan memudar, bisa kurasakan seseorang yang menggendongku dan mendekapku dengan erat. Aku tidak tahu siapa dia. Yang aku tahu, dia adalah orang yang sangat berani dan tulus. Tak memperdulikan ganasnya si jago merah yang mengepung kami, dia terus menggendongku. Aku sangat terkejut saat tubuhku dilempar olehnya melalui jendela. Samar kudengar suara Papa dan Mama di dekatku. Aku kemudian pingsan dan merasa begitu lemah.


***


Cahaya lampu membangunkanku yang sejak tadi tak sadarkan diri. Kurasakan infus yang mengeliat di tangan kecilku, dan perban yang membalut tubuhku disana-sini.


"Putri sayang syukurlah kamu sudah sadar" wajah mama yang kulihat pertama kali saat aku terbangun begitu lelah dan bisa kulihat dengan jelas, bekas air mata yang berada di garis wajahnya.


"Mama.... ini dimana?" tanyaku sambil melihat sekitar


"Di rumah sakit sayang, syukurlah kamu selamat" sahut mama sambil berusaha tersenyum.


Dokter datang dan memeriksa tubuhku yang lemah. Samar kudengar bahwa aku harus dirawat selama 1 minggu akibat peristiwa ini. Dalam benakku aku menangis. Aku merasa hal ini terjadi akibat perbuatanku. Kalau saja aku tidak membawa petasan itu, mungkin aku tidak terbaring seperti ini sekarang. Tetapi hal yang lebih membuatku penasaran adalah, siapa sosok penyelamatku itu. Aku tentu saja ingin berterima kasih padanya. Karena, dialah yang telah menyelamatkanku dengan begitu berani.

__ADS_1


Satu minggu sudah aku dirawat di rumah sakit ini. Selama itu, Mama dan Papa terus bergantian menjagaku. Namun anehnya aku tidak melihat Reyhan. Yang terkadang terlihat, hanyalah Om Adinata yang kadang mampir untuk menjagaku bersama dengan Papa.


"Selamat ya Putri, hari ini Putri sudah boleh pulang" seru bu dokter sambil mengelus kepalaku.


"Terima kasih bu dokter" jawabku


"Syukurlah ya sayang, sekarang ayo kita siap-siap pulang. Mama udah siapin makanan kesukaan Putri loh"


"Mama?" tanyaku


"Kenapa sayang?"


Mama dan Papa terdiam sambil menatapku dengan tatapan yang aneh. Aku sangat kebingungan. Berulang kali aku mengulang pertanyaan yang sama, namun mereka tetap bungkam. Sampai aku tidak sengaja melihat bulatan air yang keluar dari pelupuk mata mama.


"Mama... Papa... apa yang terjadi? tolong jawab apa yang terjadi?" seruku sambil sedikit menangis.


"Bapak, Ibu, lebih baik jujur saja pada anak kalian. Jangan terus menyembunyikan hal ini" tegur bu dokter yang sedari tadi melihat keributan kami.

__ADS_1


Mama menarik nafas panjang dan kemudian memegang kedua bahuku


"Putri, jangan sedih ya"


"Kenapa mama?"


"Kamu tahu siapa orang yang telah menyelamatkanmu?"


"Siapa mama?"


"Tante Winda"


"Syukurlah, mama ayo kita segera ke rumah Tante Winda. Putri mau berterima kasih kepadanya" seruku sambil menarik-narik lengan baju mama.


"Tidak bisa sayang" jawab mama


"Kenapa ma?"

__ADS_1


"Sekarang Tante Winda sudah terbang jauh ke surga" sahut mama.


Hatiku hancur berkeping-keping saat mengetahui maksud perkataan mama. Tante Winda sudah meninggalkan dunia ini, karena menyelamatkanku. Pantas saja, Reyhan tidak pernah menjengukku kemari. Gara-gara aku, dia jadi kehilangan ibunya. Aku mengerang dan menangis di pelukan mama. Aku sama sekali tidak menyangka akan menjadi seperti ini. "Semua ini gara-gara aku", batinku dalam hati.


__ADS_2