Putra & Putri

Putra & Putri
Pengkhianat


__ADS_3

Aku bingung dengan situasi ini. Putra, Aku, dan wanita itu saling bertukar pandangan. Wanita yang memakai blus kuning dan rok hitam itu terlihat sangat cantik. Rambutnya hitam pendek keriting dan kulitnya yang terlihat putih halus. Namun matanya terlihat agak sayu dan wajahnya yang seolah hendak meledak di hadapanmu.


"Siapa kamu! wanita itu berkata dengan suara keras kearah wajahku"


"Aku Putri, teman baik Putra. jawabku seadanya."


"Oh jadi kamu ya, wanita ****** yang berani merebut pacarku!"


"Bukan, aku.....


"Cukup Fina, apa yang kau lakukan? hentikan!" Putra berusaha melerai aku dan wanita yang bernama Fina itu.


"Dengarkan baik-baik ya! Putra itu milikku, walaupun kami berdua sudah putus, tetapi kami masih saling cinta. Sebaiknya kamu mundur!" jawab Fina keras dihadapanku sambil memegang bajuku.


Aku berlari secepat mungkin meninggalkan mereka. Putra mengejarku, berusaha menjelaskan semuanya padaku. Namun aku sudah tidak peduli. Aku pikir dia lelaki yang baik. Sahabatku sejak kecil. Tetapi dia telah mengkhianatiku. Janji palsu, yang membuat diriku sempat terlena dahulu. Kini telah aku buang. Dasar pengkhianat.

__ADS_1


Sepanjang jalan aku ke kantor, handphoneku terus berdering. Putra berusaha berulang kali menghubungiku, namun aku sudah tidak peduli. Aku tidak menyangka Putra ternyata orang yang seperti itu. Aku pikir aku sudah cukup mengenalnya. Ternyata tidak.


Aku masuk ke kantor dengan mata agak sembab, setelah mengantarkan kue pesanan. Aku berusaha untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Walaupun hatiku terasa sesak melihat Putra dengan wanita lain. Aku sudah tidak peduli.


"Putri, tolong kesini sebentar" panggil pak Wandi manajer di kantorku dari arah ruangannya.


"Iya bapak, bapak memanggil saya?" jawabku seraya masuk ke ruangan


"Tolong antarkan ini ke bagian produksi, ini laporan penjualan produk kita bulan ini. Kamu bisa memberikannya pada sekretaris baru disana."


Aku bekerja di sebuah perusahaan mainan terkenal di kota ini. Sudah sekitar 5 tahun dan sekarang aku telah diangkat menjadi sekretaris disini. Sekretaris baru ya, siapa kira-kira. Aku harap dia orang yang kelihatan baik dan semoga kami bisa berteman. Pak Wandi bilang dia baru dipindahkan dari kantor pusat ke kantor cabang disini.


Sesampainya di gedung produksi, aku mencari wanita itu. Aku bertanya pada orang produksi, dimana sekretaris itu karena dia tidak ada di ruangan. Ternyata dia sedang pergi ke toilet. Karena itu, aku menaruh berkas itu diatas meja kerjanya. Aku bergegas kembali ke ruanganku. Tiba-tiba aku bertabrakan dengan seseorang.


"Maaf"

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa. Loh kamu?"


Wanita itu berpakaian sederhana, namun terlihat sangat cantik. Jilbab biru muda, dan baju kantor yang dia gunakan terlihat sangat serasi. Walaupun penampilan luarnya terlihat sangat berubah. Tetapi aku teringat sesuatu. Suaranya. Sama seperti dia.


"Rena! kamu Rena kan?" jawabku seyakin mungkin


"Iya, kamu Putri kan. Best friend aku pas SMA."


"Iya aku Putri. ya ampun aku gak nyangka kita akhirnya ketemu lagi." kataku seolah tak percaya.


"Hahaha.. iya. Eh kamu kerja disini juga?


"Iya, aku sekretaris di bagian HRD. Tadi aku disuruh mengantar berkas ke sekretaris bagian produksi. Aku masih tidak menyangka bisa ketemu kamu disini" Jawabku dengan tatapan mata tak percaya.


"Iya Putri, aku baru saja pindah ke kantor ini. Akulah sekretaris baru di bagian produksi." kata Rena sambil tersenyum.

__ADS_1


Aku dan Rena tertawa bersama. Setelah SMA, Rena pindah ke jakarta, meneruskan kuliah. Sejak saat itu kami jarang berhubungan. Karena kesibukan masing-masing. Terkadang kami hanya dapat bertegur sapa di media sosial dan jarang sekali. Aku senang sekali bisa kembali bertemu dengan Rena sahabatku.


__ADS_2