Putra & Putri

Putra & Putri
Hargailah


__ADS_3

Aku tidak kuat menatap Putra sehingga aku membelakangi tubuhnya. Mencoba sekuat tenaga untuk menahan tangis dan perasaanku. Ada apa denganku. Bukankah aku sudah menetapkan hatiku, lalu perasaan aneh apa ini. Terasa seperti ketakutan bahwa aku akan kehilangan seseorang yang berharga.


"Putri kenapa kamu tidak menatap kearahku?" tanya Putra


"Maaf... maafkan aku Putra, aku tidak bisa menerima lamaranmu" aku menutup wajahku sambil terisak


Putra terdiam sejenak, kemudian berkata "Jadi itu pilihanmu? aku tidak menyangka"


Putra kemudian menjauh dariku dan aku berusaha menahannya "Tunggu Putra tolong dengarkan aku."


"Kenapa lagi Riri apa lagi yang harus aku dengar darimu."


"Kau sudah berjanji akan menghargai pilihanku kan? kenapa sekarang kamu jadi dingin seperti ini," kataku sambil menarik lengannya


"Tolong biarkan aku sendiri dulu." Putra kemudian meninggalkanku sendirian. Mawar merah yang kini ada di tanganku sebagai pernyataan cintanya kini seolah telah layu, seperti perasaan Putra padaku.


***

__ADS_1


Aku berlari di antara hujan deras mengejar langkah kaki Putra. Menghiraukan tatapan ke arahku sambil terus menembus dinginnya air hujan. Sedangkan dia berlari melebihi kecepatan angin di depanku. Kini dia telah masuk ke tempat tinggalnya.


"Putra buka pintunya, dengarkan aku dulu," seruku sambil terus mengetuk pintu


"Tolong biarkan aku sendiri Putri aku tidak sanggup melihatmu." Putra mengintip dari lubang pintu


Aku terdiam dan bersandar pada pintu kemudian berkata "Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menerima perasaanmu."


"Apakah kamu mencintai Reyhan? kenapa padahal kamu lebih dulu mengenalku. Kenapa Riri? kenapa kamu malah memilih dia." Putra membalasku namun tidak membuka pintunya


"Putra kamu tahu, kini aku sadar bahwa perasaanku dulu itu bukan cinta. Namun hanya sekadar suka sebagai teman."


Aku kemudian berkata dengan suara parau "Putra aku akan tetap jadi temanmu dan kamu tetap akan jadi teman terbaikku. Tetapi maafkan aku. Inilah pilihanku tolong hargailah."


Kami berdua terdiam satu sama lain selama kurang lebih 30 menit. Kuhiraukan bunyi dering telepon dari orang tuaku yang menyuruhku untuk pulang. Yang aku inginkan adalah melihat wajah Putra, sekali saja, aku ingin meminta maaf padanya.


"Putra aku harus pulang sekarang, aku mohon keluar dari sana," tegurku padanya, namun Putra tetap tak menjawab

__ADS_1


Aku memutuskan untuk pergi, dan tiba-tiba Putra keluar dan memelukku.


"Maaf... maafkan aku yang terlalu posesif padamu."


"Tidak apa Putra," aku kemudian mengeratkan pelukannya


"Aku hanya takut Riri, aku takut jika Reyhan tidak bersikap baik kepadamu. Aku takut dia akan menyakitimu. Apakah kamu sudah benar-benar yakin memilih dia?"


Aku kemudian bersandar di dada Putra dan berkata "Aku sudah yakin, bahwa ini pilihanku yang terbaik. Namun Putra aku mohon padamu tolong hargai pilihanku ini."


Putra melepaskan pelukannya dan memegang erat kedua bahuku "Iya baiklah, aku akan menerima pilihanmu ini, maafkan aku yang terlambat menyadarinya."


"Iya Putra" sambungku sambil menahan tangis dan haru yang meluap dalam hatiku


"Aku berjanji akan tetap menjadi temanmu. Walaupun aku tidak bisa memilikimu," Putra merangkulku dan membiarkan diriku tenggelam dalam tatapannya.


Aku kini sudah merasa tenang. Bersamaan dengan berhentinya hujan, kini aku merasakan pelangi setelah badai yang menerpa. Hatiku sekarang telah lega sepenuhnya. Air mata kubiarkan mengalir membasahi pipiku. Putra juga terlihat menawan. Walaupun wajah dan tubuhnya telah basah karenaku, dia tidak peduli. Izinkan aku, untuk yang terakhir kalinya memelukmu seperti ini.

__ADS_1


"Aku harap kamu bahagia Riri," ucap Putra dengan suara lembut di telingaku.


__ADS_2