Putra & Putri

Putra & Putri
Kenangan


__ADS_3

Hamparan padang rumput yang luas yang kering dan kosong. Alunan angin bagaikan musik ketenangan yang menambah kesan angker di tempat ini. Ditambah lagi banyak ilalang dan bunga-bunga liar yang seakan tak berniat tumbuh. Disinilah tempat kenanganku.


Reyhan mengamit lenganku dan mengajakku ke tengah padang rumput ini. Kulihat disana banyak bebatuan yang telah berlumut. Serta papan kayu yang telah lapuk ditelan usia.


"Bagaimana apakah kamu mengingat sesuatu?" tanya Reyhan


"Tidak, aku tidak ingat apapun" kataku sambil menggelengkan kepala


"Ayo akan kuajak dirimu lebih jauh" tanpa menunggu jawabanku, Reyhan segera menarik lenganku


Di tempat yang seolah hampa ini, masih ada sebuah pohon yang tegak berdiri. Walaupun sebagian pohon ini telah terbakar, namun dibawahnya masih ada beberapa tanaman kecil yang tumbuh. Beserta beberapa penghuni kecil yang menjadikan pohon ini sebagai rumahnya.


Kepalaku sakit, mencoba mengingat sesuatu. Reyhan kemudian menopangku agar tidak jatuh. Kucoba perlahan mengingat tempat ini. Di dalam kepalaku aku membayangkan sedang melihat kobaran api yang sangat besar, teriakan orang-orang, serta seseorang yang melemparkan aku keluar menjauh.


"Apa, apa itu?" aku memegangi kepalaku yang pusing


"Kamu tidak apa-apa?" Reyhan menopangku dan mengajakku duduk di tepi lapangan.


Aku menunggu di tepi lapangan sambil memijat keningku. Reyhan mengambil sesuatu dari dalam mobil, kemudian ikut duduk disampingku.

__ADS_1


"Minumlah" ujar Reyhan sembari menyerahkan sebotol air mineral kepadaku


"Terima kasih" jawabku sambil mengambil botol itu dari tangan Reyhan, kemudian minum dengan perlahan.


"Reyhan apakah disini tempat kebakaran itu?" aku kemudian menyerahkan lembaran koran tadi kepada Reyhan. Dia kemudian terdiam dan berkata " Benar disinilah tempatnya".


Sambil memegangi kepalaku yang masih sedikit pusing aku bertanya lagi "Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadaku"


"Sebelum aku menceritakan semuanya, berjanjilah akan satu hal" Suara Reyhan terdengar sangat serius


"Janji apa Reyhan?"


"Jangan kamu menyalahkan dirimu sendiri. Karena ini semua bukan sepenuhnya salahmu" kata-kata Reyhan membuatku menautkan alisku


"Apakah kamu mengenal dia?" Reyhan menyerahkan selembar foto yang lain. Foto seorang wanita dengan 2 orang anak kecil yang dia rangkul. Satu anak laki-laki dan satu lagi anak perempuan.


"Ini... Aku?" sahutku bertanya. Reyhan kemudian mengganguk. "Dan anak yang satu lagi?"


"Itu aku, dan wanita yang tengah memeluk kita ini adalah ibuku" Reyhan mencoba tegar, menyembunyikan kesedihannya.

__ADS_1


"Maafkan aku Reyhan aku tidak bermaksud....


"Tidak apa-apa, aku sudah mengikhlaskan kepergian beliau"


Reyhan kemudian melanjutkan ceritanya kembali.


***


Dulu di tempat inilah perusahaan Ayah Reyhan pertama kali berdiri. Bersama dengan istrinya yaitu Ibu Winda, beliau memulai usahanya dari nol. Aku dan Reyhan dahulu sering bermain di tempat ini.


"Riri, ayo cepat naik!" Reyhan mengulurkan tangannya padaku yang ada di bawah pohon


"Uh, tunggu aku Rey" aku segera naik ke atas bersama dengan Rey.


Reyhan dan aku ternyata begitu akrab saat kecil. Kami bahkan punya tempat rahasia disini. Sebuah rumah pohon sederhana ini adalah markas bermain kami. Melihat indahnya pemandangan dari atas sini, begitu menyenangkan.


"Reyhan, Putri, ayo makan dulu. Ini tante ada bawain kalian Bakpau loh" seru seseorang dari bawah. Dialah tante Winda, ibunya Reyhan.


"Baiklah tante" sahutku dari atas. Aku dan Rey turun kemudian segera melahap bakpau yang dibawa oleh tante Winda.

__ADS_1


"Terima kasih ma" kata Reyhan juga


Tante Winda adalah seseorang yang sangat baik. Karena kedua orangtuaku dulu sibuk bekerja, maka setelah sekolah, aku sering pulang kesini bersama Reyhan. Sosok tante Winda yang lembut, cantik dan penyayang itu mulai muncul kembali di ingatanku. Dia bagaikan ibu kedua bagiku.


__ADS_2