Putra & Putri

Putra & Putri
Perasaan Bersalah


__ADS_3

"Kamu Putri kan?" suara lelaki itu memanggilku.


"Kamu Rey....han...?" balasku terbata-bata


Reyhan mengamit lenganku dan membantuku berdiri. Kemudian dia mengajakku ke dalam dan mendudukkan aku di kursi panjang kayu yang dalam ruangan.


"Kok kamu bisa disini Put?" Reyhan bertanya


"Maafkan aku, aku nggak sengaja ngikutin kamu tadi. Soalnya aku penasaran banget." jawabku


Kemudian seorang anak kecil menghampiriku dan menunjukkan jarinya ke arahku.


"Ini siapa kak Rey?" anak kecil itu bertanya

__ADS_1


"Halo adik manis, kenalkan nama kakak Putri Nikita panggil kak Putri aja ya." aku membalas pertanyaan anak kecil itu


"Namaku Nanda Safira, panggil Nanda aja ya kak," balas anak kecil itu sambil menyalami tanganku


uhuk... uhuk.... bapak yang terbaring itu batuk-batuk dengan sangat keras


Reyhan, nlNanda dan sang ibu kemudian berlari ke dekat ranjang pria yang telah terbaring lemah itu.


"Bapak!" anak lelaki dan ibunya kemudian memegangi tangan pria yang terbaring itu. Berusaha memberikan dukungan moril dan energi kehidupan bagi dirinya. Namun apa daya, energi yang diberikan seolah berbalik arah dari tubuh pria itu.


"Bapak jangan bicara begitu pak," sang ibu berusaha menyemangati suaminya.


"Ibu bapak mohon jaga Nanda ya. Nanda, kamu harus bisa jadi anak yang mandiri dan teruslah berbakti pada ibu, maafkan bapak kalau bapak pernah salah pada kalian." suara bapak itu terdengar parau

__ADS_1


"Bapak jangan tinggalkan Nanda, pak," suara nanda menangis sesegukan


"Rey, terima kasih ya atas perhatianmu selama ini pada keluarga kami, dan terima kasih telah memenuhi permintaan terakhir bapak" pria itu terlihat mengeluarkan air mata sambil memegang pipi Rey. Sedangkan Rey, seolah menahan tangis di depannya.


Pria itu kemudian mengeluarkan napas terakhirnya, yang diikuti suara tangis istri dan anaknya. Rey terlihat menangis dan kemudian memeluk tubuh pria itu. Aku juga ikut menangis melihat peristiwa ini. Walaupun aku masih bingung apa yang sebenarnya telah terjadi.


Pemakaman pria itu berlangsung sederhana. Rey sendiri yang menggali kubur pria itu. Air mata Rey terus menetes seolah kehilangan seseorang yang berharga baginya. Sedangkan aku, Putri hanya berusaha menenangkannya.


Kemudian Rey mulai bercerita padaku, bahwa pria itu telah menyelamatkan hidupnya. Pria yang bernama pak Hamzah itu telah menolongnya saat dia SMP dulu. Kemudian pria itu telah mengalami sakit kanker paru-paru yang baru diketahui 6 bulan yang lalu. Reyhan sudah berusaha menolongnya dengan membawanya ke berbagai dokter dan pengobatan terbaik. Namun apa daya, jika tuhan berkehendak lain, penyakit pak Hamzah itu tak kunjung sembuh. Satu minggu terakhir ini, pak Hamzah berpesan pada Reyhan agar dia dirawat di rumah saja, dan tidak berobat lagi di rumah sakit. Reyhan kemudian mengabulkan permintaan pak hamzah. Menurut Reyhan, mungkin bapak itu ingin menghabiskan sisa terakhir hidupnya dengan dirawat ibu dan anaknya tersayang.


"Aku ini laki-laki yang jahat!" Reyhan kemudian memarahi dirinya sendiri


"Jangan bicara begitu Reyhan, kamu sudah berusaha yang terbaik" aku berusaha menenangkan Reyhan

__ADS_1


"Tetapi ini semua salahku. Karena aku terlambat tahu soal penyakit pak Hamzah, pengobatan beliau jadi tidak seimbang" Reyhan masih memarahi dirinya.


"Reyhan.... kemari nak," istri pak Hamzah menghampiri reyhan dengan membawa sebuah kotak kayu. Pak Hamzah berpesan kepada istrinya bahwa kotak ini berisi pesan yang hendak disampaikan olehnya kepada Reyhan. Kami berempat duduk bersama di atas bangku papan kemudian kotak itu perlahan-lahan terbuka.


__ADS_2