Putra & Putri

Putra & Putri
Rasa yang baru


__ADS_3

"Putri jangan lupa sarapan dulu ya nak" teriak ibu dari dapur


"Iya mama, sebentar" jawabku dari kamar


Setelah perjodohanku dengan Reyhan, ada sesuatu yang berubah. Diantaranya aku mulai menghitung hari rencana pernikahan kami. Kami berdua bersepakat untuk menyelenggarakan pernikahan dalam 2 bulan mendatang.


"Hmm..... baunya harum banget ma"


"Iya dong inikan hari spesial" ucap mama


"Memangnya hari ini hari apa ma?" tanyaku


"Aduh jangan bilang kamu lupa ya? Hari inikan hari ulang tahunmu yang ke 26 tahun" seru mama


"Oh iya, Putri lupa hehehe"


Tak kusangka usiaku kini sudah menginjak 26 tahun, dan sebentar lagi aku akan menjalani kehidupan baru bersama Reyhan. Aku segera menyambar ayam goreng dan sop yang sudah disiapkan mama.


"Sayang" kata mama


"Iya ma, kenapa"


"Mama senang banget. Sebentar lagi Putri mama akan menikah" ucap mama yang membuatku malu


"Aduh mama ini, harus ya bilang itu terus" kataku sedikit kesal. Berusaha menyembunyikan raut wajahku yang sedikit memerah.


"Ma, Papa dimana?" tanyaku

__ADS_1


"Papa tadi sudah pergi bareng Om Adinata. Katanya ada perlu sebentar" kata mama


"Oh" jawabku seadanya


Aku segera menghabiskan sarapanku dan bergegas mengambil sepatuku. Kulihat di rak sepatu ada sebuah kotak berwarna merah kesukaanku. Kubuka dan terlihat sepatu wedges berwarna coklat tua disana.


"Mama ini untuk Putri?" tanyaku


"Iya ini spesial dari mama untuk kamu" sahut mama


"Mama Putri sudah besar, kalau sepatu begini nanti Putri bisa beli sendiri" sambungku


"Tolonglah sayang jangan tolak pemberian mama. Ini mungkin hadiah terakhir dari mama untuk Putri" mama terlihat sedih


"Mama jangan sedih. Iya maafin Putri"


"Iya mama, Putri janji"


***


Memasuki ruangan kantor aku melihat seseorang yang terdiam di depan pintu ruanganku.


"Permisi mbak, cari siapa?" tanyaku. Saat dia membalikkan badannya aku terkejut


"Ka...ka...kamu ini Fina!"


"Iya" jawabnya pelan.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa ada disini! mau apa kamu". Seseorang kemudian menepuk bahuku dari belakang.


"Tenang dulu ya Putri" rupanya yang menepuk aku tadi ialah Rena


"Rena apa-apaan ini sebenarnya" aku masih bingung dengan apa yang terjadi


"Jadi kemarin Tante Gigi meneleponku, katanya kondisi Fina sudah membaik. Dia sangat terkejut saat aku memberitahukan apa yang telah dilakukannya padamu. Karena itu dia datang kesini sebentar untuk meminta maaf" jelas Rena


"Iya, maafkan aku yang sudah egois dan berkata kasar padamu" Fina menunduk, tatapan matanya terlihat kosong


"Aku tidak apa-apa kok. Aku mengerti pasti rasanya berat kehilangan orang yang kita cintai. Tetapi bukan berarti itu artinya kehilangan semuanya. Masih ada harapan, jika kamu mau berjuang" seruku memberikan semangat pada Fina


"Terima kasih. Aku juga sudah ikhlas jika kamu masih menginginkan Putra" sahutnya pelan


Aku menggelengkan kepalaku dan berkata "Kamu harus tau Fina, Putra sejak dulu adalah sahabatku dan akan tetap seperti itu. Aku sama sekali tidak ada perasaan lebih untuknya"


"Benarkah?" tanya Fina lagi


"Iya, aku sebentar lagi juga akan menikah dengan orang lain" sahutku dengan mantap


Terdengar dari jauh langkah kaki yang berisik dan suaranya semakin jelas


"Fina apakah sudah selesai?" terlihat seorang wanita memakai topi coklat dan jaket yang diletakan di bahunya. Dialah Tante Gigi.


"Sudah Bu Dokter" jawab Fina


"Ayo sudah waktunya untuk terapi" Tante Gigi langsung mengamit tangan Fina. Mereka berdua berpamitan padaku dan bergegas pergi.

__ADS_1


Rena kemudian bercerita, bahwa selama Fina dirawat dia sering bercerita tentang Putra. Aku bergumam "Tentu saja, Putra adalah satu-satunya orang yang menolongnya waktu itu". Aku sudah tidak peduli, siapa yang akan menjadi pendamping Putra nanti. Karena bagiku aku sudah mendapatkan yang terbaik.


__ADS_2