
"Kamu ini apa-apaan sih!" teriakku kepada Putra setelah sebelumnya memastikan, bahwa tidak ada lagi orang di sekitar kami.
"Bukan begitu Putri, aku ini cuma..."
"Cuma apa! kamu sudah membuatku malu di depan Reyhan, padahal aku juga ingin mengenal dia. Tetapi kamu malah egois. Memangnya aku tidak boleh dekat dengan laki-laki selain kamu!" aku memarahinya dengan keras sambil menarik kerah baju Putra. Kemudian Putra tiba-tiba memeluk diriku.
"Aku minta maaf Putri. Aku sama sekali tidak bermaksud menggangu kalian. Aku cuma takut, kalau dia merebut kamu dariku" Putra kemudian melihatku dengan tatapan sangat hangat.
"Kamu sungguh mencintaiku Putra?" kataku sambil menaikkan wajahku ke arahnya
"Aku selalu mencintaimu sejak dulu. Kamu yang cantik, mandiri dan memiliki kepedulian yang besar kepada orang lain. Aku sangat ingin menjadi pendampingmu. Seperti janji terakhirku padamu saat itu." jawab Putra sambil memegangi kedua tanganku
"Putri Nikita, aku sangat mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?" sambung putra dengan tatapan penuh kesungguhan
Wajahku mulai memerah saat melihat Putra. Namun hatiku masih terasa sakit. Sesaat aku kembali mengingat, bahwa Putra sudah pernah memiliki seorang kekasih sebelum aku.
"Kalau begitu kenapa dulu kamu mengkhianatiku? padahal aku sudah menjaga janji kita." sambungku
__ADS_1
"Saat itu aku memang salah, namun apa kamu tahu? setiap kali aku melihat Fina, aku selalu mengingat dirimu. Kemudian aku sadar. Bahwa sampai kapanpun tidak ada orang yang bisa menggantikan kamu di hatiku," jawab Putra.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang. Tetapi aku mohon pengertian padamu," sambungku
"Apa permintaanmu?" kata putra
"Siapapun yang nanti akan aku pilih diantara kalian berdua, aku mohon pengertianmu. Karena ini adalah keputusan yang sulit untukku. Kalian berdua sama-sama lelaki yang baik. Jadi aku mohon, hargailah pilihanku nanti." Aku kemudian menatap mata Putra dengan penuh kesungguhan. Kemudian Putra menghela nafas panjang.
"Baiklah aku mengerti. Aku akan menerima keputusanmu nanti. Aku harap pilihanmu nanti adalah yang terbaik." Putra kemudian melihatku dan memelukku.
Aku kemudian tenggelam dalam kehangatan pelukannya. Cukup lama dia memelukku seperti itu. Kemudian aku melepas pelukannya. Aku pulang ke rumah dengan perasaan yang bimbang bercampur rasa khawatir. Pilihanku ini akan menentukan bagaimana kehidupanku kelak. Seorang lelaki yang akan menjadi pendampingku, seumur hidupku. Seseorang yang akan menjadi ayah bagi anak-anakku. Seseorang yang akan selalu menemaniku di saat suka maupun duka.
Kini aku sedang merebahkan tubuhku di tempat tidur sambil memegang bantal biru muda kesukaanku. Aku merasa bimbang tentang keputusan ini. Kemudian ketika aku mencoba memejamkan mata sejenak untuk berpikir handphoneku berbunyi. Ada telepon masuk dari Reyhan.
"Halo Putri, kamu tidak apa-apa?" tanya Reyhan
"Iya, aku baik-baik saja," jawabku
__ADS_1
"Lelaki yang tadi di kafe itu, pacarmu ya?" balas Reyhan
"Bukan dia hanya teman kecilku," seruku dengan jujur
"Sepertinya dia sangat menyukaimu," suara Reyhan terdengar pelan
"Kenapa kamu bisa tahu?" sahutku
"Tentu saja, dilihat dari perlakuannya dan cara dia melihatmu aku sudah tahu. Itu tatapan seorang pria kepada wanita yang di cintainya," jawab Reyhan
"Iya, kami dari kecil selalu bersama. Tidak pernah aku sangka bahwa perasaan ini berubah menjadi rasa suka. Tetapi bagaimana dengan perjodohan kita?" tanyaku kebingungan. Kenapa aku malah bertanya pada Reyhan, dasar bodoh. Aku kemudian merutuk diriku sendiri. Sesaat sebelum aku minta maaf karena sudah bertanya Reyhan berkata
"Aku akan menerima semua keputusanmu. Aku juga tidak ingin kamu memaksa untuk menikah denganku, hanya karena kita berdua dijodohkan. Pilihlah yang menurutmu yang terbaik. Namun jika kamu memilihku, izinkan aku untuk mengenalkan diriku sekali lagi," sahut Reyhan
"Hah... maksudnya?" tanyaku
Sebelum Reyhan sempat membalas pertanyaanku tiba-tiba ponselku padam. "Sial," aku lupa mencharger ponselku tadi. Padahal aku sangat penasaran apa yang ingin dikatakan Reyhan. Sudahlah besok saja aku bertanya padanya. Sebelum aku tidur aku berpikir sejenak. Tentang sebuah ide untuk bisa mengenal mereka berdua lebih jauh lagi. Aku kemudian membuat catatan dan menempelkannya di mejaku agar tidak lupa akan rencana ini.
__ADS_1