
"Reyhan ini siapa?" sahutku sambil menghampiri mereka berdua
"Putri ini tidak seperti yang kau lihat," seru Reyhan berusaha mengelak
"Ternyata baik kamu maupun Reyhan sama saja," sambungku sambil berbalik arah
"Tidak putri tolong dengar dulu penjelasanku, aku dan dia cuma...."
Aku sudah muak dan kemudian pergi begitu saja. Ternyata semua lelaki sama saja, pasti akan tergoda dengan wanita cantik. Aku sadar diri, wajahku memang biasa saja. Tidak terlalu putih dan halus. Apakah di dunia yang kejam ini ada lelaki yang bisa dipercaya. Lelaki yang mencintaimu apa adanya. Yang tulus dan menerima segala kekuranganmu.
"Putri kamu kenapa?" tanpa kusadari aku menabrak Rena yang berdiri di hadapanku
"Tidak apa-apa kok cuma kelilipan," seruku sambil menghapus bulir air mata yang hendak turun ke pipiku
"Kamu bohong," seru Rena
"Nggak Rena, aku tidak bohong," sahutku sambil berusaha mengelabui Rena
__ADS_1
"Aku sudah kenal kamu sejak dulu Putri, kamu pasti bohong, jangan berbohong jujur saja padaku, kamu kenapa." Rena kemudian mengguncang-guncangkan tubuhku
"Semua lelaki sama saja Ren, baik Putra maupun Reyhan mereka sama-sama tidak bisa dipercaya, kenapa mereka semua mengkhianatiku," sambungku sambil menyenderkan kepalaku di pundak Rena
"Kamu jangan sedih, aku yakin pasti ada lelaki yang sungguh mencintaimu."
"Aku harus bagaimana Rena? Besok hari mereka meminta keputusanku. Aku sama sekali tidak bisa memilih," sahutku sambil terus menangis
Kami berdua akhirnya pulang bersama menaiki angkutan umum dan menolak tawaran Putra untuk menggunakan mobilnya. Kini aku sedang berada di rumah Rena, tepatnya di kamarnya.
"Kamu jangan sampai stress," sahutnya lagi.
"Bagaimana ini Ren? apa aku menutup hatiku saja untuk mereka berdua?" tanyaku pada Rena sambil menyesap susu coklat itu
"Aku akan terus mendukung apapun keputusanmu, tetapi putri apakah kamu tidak mau memaafkan kesalahan mereka, " kata Rena sambil duduk disebelahku
"Rena apakah aku ini wanita yang gampangan ya?" gumamku
__ADS_1
"Mana mungkin, kenapa kamu berpikir seperti itu?" seru Rena
"Buktinya sudah dua cowok yang mempermainkanku, syukurlah aku belum menikahi salah satu cowok seperti mereka. Kalau sudah, aku merasa tidak sanggup," seruku sambil menangis sesegukan
"Kamu jangan merasa bersalah Putri, kamu itu perempuan yang baik dan aku senang bisa berteman denganmu sampai sekarang. Jangan pernah lagi berpikir seperti itu." Rena memegang bahuku dan mencoba memberikan semangat
"Kamu jangan sedih, masih banyak cowok di luar sana yang aku yakin akan menyayangimu dengan tulus," Rena kembali menenangkanku
"Terima kasih Rena," ucapku
Aku sudah menganggap Rena sebagai saudaraku sendiri. Karena aku anak tunggal aku sering merasa kesepian di rumah. Walau begitu aku punya seorang teman yang selalu membelaku. Memberikan semangat dan menghiburku, walaupun terkadang dia suka menjahiliku dan bertingkah konyol. Itulah Rena
Aku memutuskan untuk menginap di rumah Rena malam ini. Selain agar aku merasa lebih baik, aku sudah membayangkan bagaimana sibuknya orang tuaku menanyakan tentang keputusanku esok hari. Rena mengizinkanku untuk tidur di kamarnya tetapi aku menolak. Aku akhirnya tidur di kamar lain. Aku butuh waktu seorang diri untuk merenung.
"Sekarang aku harus bagaimana?" batinku saat aku sudah berbaring di kamar lain yang sudah Rena bersihkan.
Disaat aku sedang galau memikirkan keputusanku esok hari, ponselku berdering. Tidak tertera nama kontak disana. Membuatku enggan untuk mengangkatnya. Namun dia terus meneleponku sampai membuatku menjadi geram. Akhirnya aku angkat panggilan asing itu.
__ADS_1