
Langit mulai menampakan cahaya senjanya. Aku kini menunggu di persimpangan jalan mencari sosok Reyhan. Sambil sesekali kembali melihat potongan koran tadi. Kalau aku perhatikan, seharusnya alamat perusahaan yang terbakar itu, ada di dekat tempatku berada. Tetapi rasanya aneh. Tidak ada satupun yang tahu tentang peristiwa ini. Bahkan aku sudah bertanya pada orang yang paling lama tinggal di daerah sekitar sini, tetapi dia pun tidak mengetahui soal kejadian ini.
"Putri disini!" teriak Reyhan dari seberang jalan
"Iya sebentar," aku segera menyembunyikan lembaran tadi kedalam tasku. Sambil menengok ke kanan dan ke kiri untuk menyebrang.
"Kamu sudah siap?" tanya Reyhan
"Memangnya kita mau kemana?" jawabku
"Sudahlah kamu ikut saja. Ini adalah tempat yang penting bagi kita berdua. Kuharap dengan ini ingatanmu tentangku bisa kembali," sahut Reyhan sambil mengambil ancang-ancang untuk pergi
Tanpa sengaja di sebrang jalan sana, kulihat sosok Putra. Wajahnya terlihat lelah dan kacau. Dia memandangku sambil melambaikan tangannya sambil sedikit tersenyum. Walaupun aku bisa merasakan, bahwa dirinya masih belum bisa mengikhlaskanku sepenuhnya. Maafkan aku Putra, karena hatiku telah memilih yang lain.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Reyhan sambil melambatkan kecepatan mobilnya
__ADS_1
"Iya aku baik-baik saja Reyhan. Jangan khawatir,"
"Biar kutebak kamu pasti sedang memikirkan Putra kan?"
"Nggak kok, aku sedang tidak memikirkan Putra," jawabku mengelak
Reyhan kemudian menjawil sedikit pipiku dan berkata "Putri, aku tahu kamu sedang berbohong denganku? Jujurlah, aku berjanji tidak akan marah padamu."
"Ceritanya agak panjang nggak apa-apa?"
Aku kemudian menjelaskan semuanya kepada Reyhan. Tentang aku dan Putra. Janji masa kecil kami. Kedekatan kami berdua serta perasaan masing-masing. Aku mencoba jujur, bahwa aku tidak bisa menerima cinta Putra. Serta alasanku memilih kamu. Terlihat Reyhan berusaha mencerna seluruh isi ceritaku. Kemudian dia segera menepi dan kemudian bicara.
"Kau tahu Putri, aku rasa Putra hanya masih belum bisa Move-On darimu. Pasti rasanya berat sekali mengikhlaskan orang yang sudah kita pendam cinta selama bertahun-tahun. Tetapi, seiring berjalannya waktu, aku yakin. Hubungan persahabatan kalian akan kembali. Walaupun mungkin tidak akan sama seperti dulu."
"Maksud kamu apa?" aku bertanya maksud dari pernyataan Reyhan
__ADS_1
"Kalau kita sudah menikah, aku tentu tidak bisa membiarkan kamu sering bermain atau sekedar bercanda dengan teman laki-lakimu dengan begitu bebasnya. Termasuk dengan Putra." Reyhan terlihat malu-malu. Mukanya memerah.
"Kamu cemburu nih?" aku menggoda Reyhan sedikit
"Ya wajar dong, cemburu sama istri sendiri." Reyhan kemudian mencubit pipiku lebih keras.
"Kamu jahat banget Reyhan. Lihat ini pipiku jadi merah banget. Udah kayak tomat," aku mengelus pipiku yang merah akibat cubitan manja dari Reyhan
"Biarin." Reyhan memalingkan wajahnya dan kembali menyetir
Kami sudah pergi selama kurang lebih 30 menit, namun masih belum sampai ke tempat yang Reyhan katakan.
"Reyhan sebenarnya kita mau pergi kemana? aku tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya," seruku sambil melihat keluar dari dalam kaca mobil
"Tempat ini memang sulit untuk dijangkau. Walaupun tidak banyak lagi orang yang mengenal tempat ini, tetapi disinilah tempat yang penting bagi kita," Reyhan kemudian menurunkan kecepatannya dan segera berbelok ke sebuah lorong kecil tak berpenghuni. Suasana yang sangat sepi membuat kesan seram di tempat ini. Reyhan kemudian menghentikan mobilnya di daerah ini.
__ADS_1