
Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Yang aku tahu, hidupku terasa lebih indah dan bersemangat saat melihatmu pertama kali.
Namaku Putra, aku adalah anak tunggal dari keluarga rahmadana. Ibuku meninggal saat melahirkanku, sedangkan ayahku hanyalah seorang pengusaha kecil. Awalnya kami berdua hanya tinggal di rumah kecil di sebuah perkampungan. Sampai pada suatu hari kami berdua pindah ke kota karena keadaan yang memaksa. Pindah ke sebuah komplek yang hampir semua rumahnya terlihat serupa. Disanalah, aku pertama kali bertemu denganmu.
Rumah kita bersebelahan, tetapi aku tidak berani menegurmu. Kamu juga jarang sekali keluar dari tempat persembunyianmu, sehingga membuatku kesulitan untuk menyapamu. Yang kadang aku bisa dengar, hanyalah suara tawamu, yang berisik memantul di dinding rumahku. Sampai pada hari itu.
Aku baru saja pulang dari membeli gula, kulihat sosokmu yang menangis di jalanan sambil memegang es krim.
"Kamu nggak apa-apa?" seruku sambil mencoba membantumu
"Aah es krimku jatuh, lihat ini bajuku jadi kotor" gadis itu bangun sambil mengeluh melihat dirinya yang kini kotor penuh debu
"Hahaha lihat anak jelek itu, ih es krimnya malah kena kaus, kasihan deh" sekumpulan anak lelaki di lapangan bola itu mengejek
"Dasar padahal mereka yang salah. Hei kalian lihat ya" Aku mengambil bola dan menendang ke arah lapangan. Tak kuduga bola itu tepat mengenai kepala anak tadi.
__ADS_1
"Aduh" keluhnya
"Hahaha rasakan" seruku
"Awas ya kalian berdua" anak lelaki itu bangkit dan mencoba mengejar kami. Aku kemudian mengamit tangan gadis itu dan berlari sekuat yang kubisa.
Kami berlari sekencang mungkin sambil sesekali mengejek ke arah belakang. Aku kemudian terus menarik lengan anak gadis itu. Hingga tanpa kusadari dia tidak mengejar kami lagi.
"Kamu nggak apa-apa" kataku. Gadis itu tidak menjawab dan tiba-tiba langsung menonjok bahuku
"Aku cuma mau bantu kamu kok beneran"
"Iya baiklah makasih. Nama kamu siapa?" tanya gadis itu
"Aku ini tetangga sebelah rumahmu tau, itulah kamu asik di dalam rumah sih" Aku kemudian mengomelinya
__ADS_1
"Ih iya maaf deh, aku mau pulang. Lihat ini bajuku udah kotor banget" gadis itu kemudian sedikit membersihkan pakaiannya yang penuh debu dan hendak pergi
"Tunggu" sahutku
"Ada apa lagi?"
"Kamu jangan nangis begitu dong, nanti kalau kita pulang dikira aku yang buat kamu nangis" seruku. "Oh iya namamu siapa? Aku Putra"
"Aku Putri" jawab gadis itu sambil tersenyum
"Mau makan es krim dulu nggak? tenang aja aku yang bayar" sahutku dengan percaya diri
"Beneran, wah makasih ya" kata Putri sambil bertepuk tangan
Sejak hari itu, kami berdua selalu bermain bersama. Terkadang kami bertengkar hanya karena hal sepele. Namanya juga anak-anak. Kita sering bermain sampai lupa waktu dan dimarahi orang tua kita. Walaupun begitu aku senang, karena sifatmu yang dulu sangat tertutup kini berubah menjadi hangat dan ramah. Hal yang aku sangat sukai darimu adalah senyumanmu dan suara tawamu. Sangat merdu dan lucu. Aku masih ingat saat kamu merasa sangat sedih di hari itu. Saat kamu memecahkan vas bunga milik guru sekolah kita, Ibu Yoko. Karena aku tidak mau kamu terlibat dalam masalah, maka aku rela menggantikanmu untuk dihukum. Semua ini demi kamu.
__ADS_1