
Kubuka pintu rumahku, sambil melambaikan tangan kepada Putra. Dia membalas lambaianku dengan tersenyum manis. Perawakannya kemudian menghilang di barengi hujan gerimis yang turun perlahan. Tak kusangka, aku berhasil jujur mengatakan perasaanku kepada orang yang kucintai, yaitu Putra. Walaupun terlambat, setidaknya dia sudah tahu akan perasaanku yang sesungguhnya. Setelah aku menutup gagang pintu dan berbalik, aku tercengang mendapati Reyhan yang berbincang dengan papa.
"Sudah pulang kamu nak?" tegur papa
"Iya, pa" ucapku
"Duduk disini sebentar, Reyhan ingin bicara denganmu," seru papa bangkit dan meninggalkan aku bersama Reyhan
Suasana canggung kembali terjadi. Aku tak kuasa hanya untuk sekadar melirik mata ke arahnya.
"Besok kau ada waktu?" tutur Reyhan kepadaku
"Ada, mengapa kau bertanya?"
"Besok aku ingin mengajakmu ke makam ibu. Aku ingin kau bertemu dengannya. Kuharap kamu tidak keberatan," ujar Reyhan dengan ekspresi yang mengandung keganjilan
"Tentu saja. Aku ingin meminta maaf sekaligus berterima kasih kepada tante Winda."
__ADS_1
"Kira-kira, besok jam berapa kau bisa pergi?"
"Sekitar jam 5 sore, setelah pulang kerja," jawabku
Reyhan kemudian bangkit dan melangkah menuju daun pintu. Dengan senyum manisnya dia berkata "Aku sangat menyayangimu." Aku kemudian membalasnya dengan tersenyum simpul.
Maafkan aku Reyhan. Karena aku tidak bisa mencintaimu. Aku baru saja menyadari. Hatiku sudah menjadi milik yang lain, sejak 10 tahun yang lalu. Aku tahu, kamu laki-laki yang baik. Maafkan aku, karena tidak bisa mencintaimu.
***
Tante aku Putri. Tante masih ingat aku. Putri Nikita, teman kecil Reyhan. Sekarang aku sudah besar tante. Maafkan Putri tante, karena telah lupa padamu. Aku sungguh menyesal atas perbuatanku dahulu. Terima kasih, telah menolongku dari kebakaran itu dengan kegagahanmu, yang menembus kobaran api demi menyelamatkanku. Aku tidak ingin membuat tante kecewa. Aku akan menjalani hidupku dengan semangat dan akan selalu mendoakan tante. Aku sungguh berterima kasih atas pengorbanan yang tante berikan untukku. Semoga tante bahagia di alam sana dan diterima di surganya.
Setelah selesai, Reyhan terhenti di depan mobilnya dan kemudian dia berbalik kearahku.
"Kau lapar tidak? kita pergi cari makanan dulu yuk. Tenang saja, aku yang traktir," ajak Reyhan
"Boleh, tetapi apa kamu tidak keberatan? Aku kebetulan ingin makan di tempat yang agak jauh dari sini," tanyaku
__ADS_1
"Iya, ayo kita pergi sekarang."
***
Aku memilih untuk pergi ke warung dimsum di dekat perbatasan pintu keluar kotaku. Memang tempat ini kecil, dan agak sempit. Namun begitu kamu melahap satu buah saja dimsum disini, kau tidak akan ragu untuk datang memakannya lagi. Kulit yang lembut, dan isian yang banyak akan membuat lidahmu bergoyang. Ditambah dengan sensasi gurih bercampur pedas dari saus homemade, akan semakin membangkitkan selera makanmu.
"Kau benar-benar tahu tempat makan yang enak ya," seru Reyhan sembari memakan dimsum itu dengan lahap
"Iya, kamu tahu, aku mampir ke warung ini sejak pertama kuliah. Sejak saat itu, aku selalu menyempatkan diri untuk makan di warung dimsum ini."
"Setelah ini, kita pergi ke mal sebentar yuk. Kamu tidak keberatan kan?"
"Memangnya tidak apa-apa? ini sudah sore loh. Bagaimana jika besok saja?"
"Ayolah hari ini saja, aku mohon temani aku ya," sorot mata Reyhan meredup memancarkan kesepian
Aku mengangguk pelan. Sebenarnya, aku agak aneh dengan sikapnya hari ini. Dia seolah bersikap manja seperti anak kecil. Walaupun demikian, aku tetap memenuhi permintaannya yang mengandung keganjalan.
__ADS_1