Putra & Putri

Putra & Putri
Aku cinta kamu


__ADS_3

Aku duduk di kursi panjang itu, sembari melihat sekeliling. Berusaha agar tidak berpandangan mata dengan Putra. Tak kuasa aku duduk beradu kening dengan dia. Akhirnya dengan terpaksa aku duduk membelakangi tubuhnya, agar dia tidak melihat wajah senduku.


"Kamu suka tempat ini?" seru Putra membuka pembicaraan


"Iya, ini tempat yang bagus," jawabku seadanya


"Kamu masih memikirkan soal tante Windi?" seru Putra kembali


"Tidak, aku sudah mengikhlaskannya."


"Lalu kamu kenapa? padahal aku sudah susah payah mengajakmu ke tempat sebagus ini, tapi lihatlah dirimu. Kau justru menghiraukanku dan seolah menganggap aku tak ada."


"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah," ucapku pelan


Putra langsung memegang kedua pipiku dan memaksaku menoleh kearahnya. Dia memperhatikan lingkaran dibawah mataku yang telah kembung dan merah. Tanpa perlu diduga lagi, dia tahu. Kalau aku baru saja menangis semalaman.


"Siapa dia! siapa yang telah menyakitimu. Biar aku beri pelajaran!" seru Putra bangkit dari duduknya


"Bukan siapa-siapa. Aku hanya sedikit lelah, makanya mataku sayu seperti ini," ujarku

__ADS_1


"Kamu selalu seperti ini. Kenapa setiap kali kamu ada masalah, kamu pendam seorang diri. Ceritalah, aku akan mendengarnya."


Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa aku menjadi seperti ini karena kamu Putra. Aku sangat malu. Mengapa aku baru sadar bahwa kehadiranmu begitu berarti untukku. Kenapa harus kamu yang menjadi orang yang aku cintai. Kenapa bukan Reyhan. Padahal kau dan dia itu sama. Sama-sama temanku sejak kecil.


"Coba kamu lihat ini." Putra bangkit dan mengambil beberapa bunga yang ada disana. Bunga berwarna kuning, merah, merah muda, dan ungu. Kemudian dia rangkai dan diikat dengan artistik. Dia kemudian menyerahkan rangkaian bunga itu kepadaku.


"Kamu tahu tidak, kalau misal bunga di dunia ini hanya satu warna saja memang sudah cantik. Tetapi jika hanya satu, maka jika dia punah tidak ada lagi pengantinya. Tidak ada yang bisa menolongnya, karena dia tidak punya teman. Begitu pula manusia. Kita tidak akan bisa hidup sendirian. Karena itu, jika kamu merasa sedih, merasa hampa, merasa cemas, berbagilah beban itu kepada orang lain. Dengan menceritakan masalahmu. Aku tidak akan memaksamu. Tetapi dibandingkan terus merasa tersiksa sendirian, izinkan aku juga ikut menangung bebanmu." Putra lalu tersenyum. Membuatku merintih melihatnya.


"Kenapa harus kamu?" jawabku disela tangisku


"Apa?"


" Lihat aku" ucap Putra


"Aku tak bisa," jawabku tanpa membuka wajahku


"Lihat aku," seru Putra kembali


Perlahan aku membuka telapak tangan yang menutupi wajahku. Kulihat Putra tersenyum, dan dia memegang erat kedua tanganku.

__ADS_1


"Apakah kamu membenciku?"


"Tidak,"


"Apa kau tidak suka aku yang ada disini?" tanyanya lagi


"Tidak,"


"Kalau begitu, bangkitlah." Putra membantuku berdiri. Kemudian dia mengeluarkan sapu tangan dari dalam kantongnya dan mulai menyeka air mata yang telah tumpah di pipiku.


"Jangan bersedih, aku disini. Aku disisimu," ucap Putra lembut


Aku kemudian tersenyum. Menghiraukan air mata yang kembali mengalir di pipi putihku. "Aku cinta kamu Putra."


"Maaf, maafkan aku yang terlambat menyadarinya. Aku jadi seperti ini karena galau akan perasaanku. Aku cinta kamu, aku ingin selalu disampingmu," ujarku terisak. Putra kemudian memelukku. Hangat.


"Apakah yang tadi aku dengar itu benar? kamu mencintaiku," ujar Putra tak percaya. Aku membalasnya dengan mengangguk perlahan.


Kami berdua tenggelam dalam suasana. Bagaikan kedua merpati yang telah dipertemukan kembali dari dua sisi benua. Aku ingin bersamamu, Putra. Hal itu berlangsung cukup lama. Sampai aku tidak menyadari, ada sepasang mata yang memperhatikan kami sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2