Putra & Putri

Putra & Putri
Hal yang mengejutkan


__ADS_3

Pekerjaanku hari ini terhitung ringan. Sebelum jam 5 sore, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Sembari menunggu waktu pulang, aku beristirahat di ruanganku sejenak. Belum sempat aku menyandarkan punggungku, seseorang meneleponku.


"Halo,"


"Putri, ini aku Rena."


"Kenapa Rena?"


"Nanti sebelum kamu pulang, kamu pergilah ke cafe mawar biru. Ada hal penting yang harus kamu lihat."


"Mendadak sekali. Memangnya ada apa?"


"Aku tidak bisa menjelaskannya. Pokoknya kamu harus melihat dengan mata kepalamu sendiri. Siapa Putra yang sebenarnya."


Tuut... telepon yang langsung dimatikan oleh Rena, membuatku bertanya-tanya. Memangnya apa yang telah dilihat Rena. Sehingga membuatnya memaksaku untuk pergi. Aku segera membereskan barang-barangku dan meninggalkan kantor. Menuju tempat yang dikatakan Rena dengan hati gelisah.


***

__ADS_1


Aku sungguh tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Di meja yang gelap di sudut cafe itu, terdapat dua orang yang kelihatannya sedang merajut kasih. Kulihat sang wanita yang menangis sementara sang pria hanya bisa terdiam sembari menghapus sedikit demi sedikit air mata wanita itu.


"Sudahlah Fina. Jangan menangis lagi."


"Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan barusan. Kenapa kamu tidak mau menerima perasaanku,"


"Kau tahu, sejak kita mulai berpacaran aku sudah mencoba untuk mencintaimu. Namun aku tidak bisa. Sejak 10 tahun yang lalu hati ini sudah menjadi milik yang lain."


"Apakah itu Putri?"


Pria itu mengangguk dan wanita itu kembali terisak.


Kusegera meninggalkan dua insan manusia itu dalam pembicaraan haru mereka dan menuju ke arah toilet wanita. Kuhapus air mataku yang mengalir dari kedua pipiku dan menguatkan diri. Kenapa aku begitu bodoh telah membuang perasaanku dan melupakanmu. Hanya karena sebuah kesalahan kecil yang engkau lakukan padaku. Aku kembali mengingat dirimu. Kau ternyata tidak pernah berubah. Maafkanlah aku yang selama ini tidak menyadarinya. Kau memanglah cinta pertamaku, Putra.


Kumenangis dari balik selimutku mengingat hal yang telah kulakukan padamu. Menyesal karena telah melupakanmu. Cintamu. Sayangmu dan segalanya. Ketika kini aku akan menjadi milik orang lain, kenapa aku malah kembali merasakan cintamu.


***

__ADS_1


Aku makan sedikit sekali dan wajahku terlihat pucat. Mataku sembab karena telah menangis semalaman. Namun aku mencoba menguatkan diri. Ada orang penting yang harus kutemui hari ini. Orang yang akan meluruskan kesalahpahaman diantara kami.


"Fina disini," kupanggil wanita itu dari kejauhan.


"Hai Putri. Sudah menunggu lama ya."


Aku mempersilahkannya memesan minuman dan menunggunya duduk dengan tenang. Harus aku akui, dia adalah wanita yang hebat. Padahal baru kemarin, aku melihatnya menangis tersedu-sedu. Namun kini dia terlihat begitu kuat. Seolah tidak ada apapun yang terjadi.


"Aku sudah tahu apa yang ingin kau tanyakan," seru Fina


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Kau mengintipku yang tengah menangis dihadapan Putra kan? Dan kamu ingin tanya mengapa dahulu aku bisa jadian dengannya."


"Kalau seandainya hal itu akan menganggumu, kau tidak perlu menceritakannya,"


Fina mengeleng dan memegang telapak tanganku "Tidak, aku tidak ingin menunda lebih lama lagi. Kau harus tahu, kalau Putra sungguh tulus mencintaimu."

__ADS_1


Aku mengangguk dan mulai menyiapkan hatiku. Menerima ungkapan dan penjelasan dari wanita yang kini ada dihadapanku. Kuharap dengan ini, seluruh rasa penasaran dan kegelisahanku akan benar-benar hilang.


__ADS_2