Putra & Putri

Putra & Putri
Terakhir


__ADS_3

Reyhan mengamit telapak tanganku erat. Dia seolah ingin bersamaku seharian ini. Aneh, pikirku. Padahal setahuku, laki-laki tidak akan terlalu suka jika diajak perempuan pergi ke tempat perbelanjaan seperti ini. Maklum, bagi seorang perempuan, belanja bukan hanya sekadar membeli barang untuk kebutuhan, tetapi juga bisa sebagai alternatif refreshing, setelah lelah beraktivitas seharian. Tak heran, perempuan bisa menghabiskan waktu berlama-lama berbelanja, tanpa merasa bosan sama sekali. Tentu saja, lelaki terkadang mengerutu melihat lamanya seorang wanita berbelanja, sehingga dia akan membuat seribu alasan untuk menghindar. Sekarang, justru sang pria yang mengajak sang wanita untuk berbelanja.


"Kamu mau membeli apa?" ucap Reyhan


"Loh, bukannya kamu yang mau belanja? kok malah tanya sama aku?" tanyaku


"Aku sengaja mengajakmu kesini, karena ingin menikmati waktu denganmu. Kamu juga suka berbelanja kan? kamu boleh beli apa saja yang kamu mau. Biar aku yang membayarnya," seru Reyhan


"Serius kamu? wah kalau begitu aku tidak akan segan-segan" seruku mantap


***


Aku menyusuri setiap toko pakaian, aksesori dan tas. Sebenarnya, aku merasa tidak enak dengan Reyhan. Tetapi, karena dia memaksa aku tidak keberatan. Aku justru senang, karena dia perhatian padaku. Tetapi dalam hatiku, aku merasa telah membohongi dia. Kalung yang diberikannya sebagai tanda janji kami, aku simpan di dalam tasku. Tak sanggup bagiku untuk kembali memakainya. Dalam hatiku, aku merasa sedih. Karena sebentar lagi aku akan menjadi milik Reyhan seutuhnya. Dia adalah lelaki yang baik, namun aku tidak bisa mencintainya.


"Kenapa kamu berhenti?" seru Reyhan ketika melihatku berhenti berjalan.


"Tidak apa-apa. Aku merasa ini sudah cukup. Ayo kita pulang."

__ADS_1


"Putri, kalau kamu tidak keberatan aku ingin mengajakmu ke satu tempat lagi," Ujar Reyhan


"Mmm... baiklah, tetapi setelah ini kita pulang ya,"


"Iya," seru Reyhan


Disinilah aku. Di sebuah photo box yang ada di lantai 4. Reyhan dan aku masuk ke dalam dan berfoto. Reyhan merangkul bahuku dan tersenyum. Aku membiarkan dia bersikap demikian. Walaupun sebenarnya aku agak risih dengan sikapnya yang manja. Aku tetap tersenyum dan bergaya. Berfoto dengan calon suamiku, yang tidak sepenuhnya aku cintai.


Waktu telah menunjukan pukul 8 malam. Reyhan mengendarai mobilnya perlahan, menyusuri kota dan perumahan. Namun mendadak dia berhenti. Di pinggir sebuah gedung sekolah tua yang gelap. Yakni taman kanak-kanak kami dahulu.


"Kenapa mendadak kamu mengajakku kemari?" tanyaku pada Reyhan yang terdiam di depanku


Reyhan menerjang dan memelukku dengan erat. Dia lalu mengecup lama keningku. Aku kemudian melepas pelukannya dengan paksa.


"Kamu ini apa-apaan? ingat! kita ini belum menjadi suami istri. Aku tak menyangka kamu adalah, lelaki yang seperti ini," seruku marah pada Reyhan


"Kau tahu Putri aku sangat menyukaimu. Sejak dulu hingga sekarang. Tetapi aku tidak ingin merebut kebahagianmu," seru Reyhan

__ADS_1


"Maksud kamu apa?"


"Aku sudah mendengar langsung dari mulutmu sendiri. Kamu tidak menyukaiku. Kamu telah jatuh cinta dengan pria yang sudah bersamamu selama 10 tahun, Putra Rahmadana."


Aku tercengang tak percaya. Reyhan rupanya mendengar pernyataan cintaku pada Putra. Kugigit bibir bawahku karena gugup.


"Aku... aku..."


"Tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu untuk menikah denganku. Soal orang tua kita, aku akan bicara pada mereka. Aku tidak jadi menikahimu. Kau tahu. Aku sangat mencintaimu, Putri teman kecilku. Tetapi, aku tidak mau. Kau tidak memperoleh kebahagiaan karena menikah denganku. Aku ingin kamu mendapatkan kebahagiaanmu, walaupun bukan aku yang ada di sisimu."


Aku memeluk Reyhan. Menangis dan menangis dihadapan pria yang telah tulus mencintaiku.


"Maaf... maafkan aku," isakku sambil tetap memeluknya


"Aku tidak bisa menjadi kekasihmu. Tetapi bolehkah kita berjanji, akan tetap berteman baik." Mata Reyhan berkaca-kaca, dan jari kelingkingnya mengajung memberi isyarat padaku


"Iya, " jawabku sembari mengaitkan jariku padanya

__ADS_1


Kamu memang temanku Reyhan. Maafkan aku, karena telah melupakanmu beserta seluruh kenangan kita. Namun untuk mencintaimu lebih dari seorang teman, maafkan aku karena aku tidak bisa. Aku kemudian berpikir, aku yang dulu pasti juga akan bersikap seperti yang kulakukan sekarang. Kau akan tetap menjadi temanku. Teman terbaik yang pernah kumiliki.


"Terima kasih, Riri." ucap Reyhan diiringi senyum terindahnya.


__ADS_2