
Aku mematut diriku di depan cermin sembari berpikir. Sebenarnya aku ini kenapa. Bukankah aku sudah menolak Putra dan hanya ingin berteman dengannya. Aku hanya merasa aku tidak pantas berada disampingnya. Aku tahu, Putra telah memaafkanku. Tetapi aku merasa, ada sesuatu yang kini telah hilang dari hidupku.
"Putri, ayo sarapan dulu sebelum berangkat," teriak mama dari arah dapur.
"Iya mama," aku merapikan jilbabku dan bertandang menuju ke arah meja makan.
"Kok lesu begitu nak? ada apa?" tegur mama cemas melihat raut wajahku yang kini muram
"Nggak ada apa-apa ma," ucapku sembari memakan nasi goreng buatan mama, meskipun selera makanku nyaris tidak ada.
"Kamu pasti bohong. Ayo cerita sama mama. Ada apa?" mama memaksaku untuk bercerita
Aku kemudian bercerita perlahan, mama yang mendengar ceritaku perlahan terlihat sedih. Seolah menunjukan rasa bersalah.
"Maafkan mama nak. Karena sudah menutupi hal ini darimu. Mama hanya ingin kamu bisa kembali bersemangat dalam melanjutkan hidupmu," ucap mama sedih
"Aku ini anak yang jahat. Gara-gara aku, tante Windi meninggal. Seharusnya aku tidak berbuat nakal dengan membawa petasan itu."
"Nak, kita tidak tahu takdir kita. Janganlah kamu terus-menerus merasa bersalah. Lagipula, baik Reyhan maupun ayahnya tidak pernah menyalahkanmu atas tragedi yang menimpa Tante Windi, mereka justru merasa sedih. Karena kepergian tante Windi, kamu melupakan mereka," mama bangkit dan merangkul aku dalam pelukannya
"Lalu sekarang apa yang harus Putri lakukan?"
__ADS_1
"Kamu meminta maaf secara langsung kepada mereka dan kunjungilah kuburan Tante Windi. Mama yakin beliau juga merindukanmu, dan jalanilah hidupmu ini dengan semangat. Karena Tante Windi telah menyelamatkan hidupmu. Kamu tidak boleh menyia-nyiakannya."
"Terima kasih mama," ucapku sembari mengeratkan pelukan hangat mama untukku.
"Sudah manja-manjanya ah. Nanti kamu telat ke kantor," mama melepaskan pelukannya dan menyerahkan tasku yang tadi kuletakkan di atas meja.
"Iya, Putri pergi dulu mama," ucapku sembari melambaikan tanganku
"Putri?"
"Kenapa mama?"
"Hihihi iya mama. Putri juga sayang sama mama,"
"wish luck ya," seru mama dari kejauhan. Aku hanya mengangguk dan segera memacu motorku.
***
Rena hampir tersedak bakso, begitu aku menceritakan kisahku dengan Reyhan.
"Serius, wah aku nggak nyangka. Kupikir dia cuma cowok random yang berani ingin meminangmu, ternyata kalian sudah saling mengenal."
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku sembari berkata "Iya aku juga kaget, tetapi sayangnya aku telah kehilangan ingatan tentang dia. Jadi saat pertama kali kami bertemu, aku menganggap dia biasa saja,"
"Terus, sekarang kamu sudah ada rasa dengan Reyhan?" seru Rena sambil tersenyum jahil.
"Aku bingung. Padahal aku sudah memilihnya, tetapi menurutku dia biasa saja. Dia lelaki yang baik, dan tulus. Tetapi aku merasa ada yang kurang."
"Kurang, maksudmu apa?"
"Sepertinya aku masih menyimpan rasa pada Putra," ucapku lembut. Rena tersentak mendengar perkataanku dan tiba-tiba memegangi bahuku.
"Kamu ini, Putri kamu sudah menolak Putra dan memilih Reyhan. Apalagi yang kamu tunggu. Putra juga telah mengikhlaskanmu, lagipula kemarin siang..."
"Kemarin siang ada apa?" tanyaku
"Eh nggak ada apa-apa." Rena segera memalingkan wajahnya.
"Kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku kan? jelaskan ada apa!"
"Tidak ada apapun Putri, sudah ya aku harus segera ke ruanganku. Bye bye," Rena meninggalkanku di meja kantin sendirian dengan kebingunganku.
"Aku harus mencari tahu, sebenarnya apa yang sudah terjadi," seruku di dalam hati.
__ADS_1