Putra & Putri

Putra & Putri
Kenangan (3)


__ADS_3

Jika aku bisa memutar waktuku, maka aku akan memperbaiki kesalahan terbesarku, agar aku tidak merasa menyesal seperti ini. Saat Reyhan berusaha memperingatkanku agar tidak melakukan hal itu, aku malah mengabaikannya. Entah apa isi pikiranku saat itu. Yang aku inginkan adalah membuat kenangan yang hebat bersama Reyhan disaat itu. Agar kami berdua bisa selalu mengenang betapa berkesannya malam ini.


Kumulai menyalakan petasan yang sudah aku siapkan di sakuku. Api kecil itu mulai menjalar dari sumbu mendekati ujungnya. Kami berdua segera menjauh tempat itu agar tidak terkena percikan api.



Cahaya berbentuk bunga mekar dengan indah di nabastala. Aku merasa sangat bahagia dan tersenyum sambil memandang keatas. Sedangkan Reyhan, perlahan kulirik dia kelihatannya juga menikmatinya. Tetapi ada sesuatu yang aneh yang bisa kurasakan. Dia terlihat gusar dan merasa tidak nyaman disini. Jadi, aku membiarkan dia saat Reyhan memutuskan meninggalkanku sendirian dengan bertumpuk petasan lain yang belum kunyalakan.


"Putri! kamu dimana nak? ayo sebentar lagi acara puncaknya akan dimulai" teriak mama memanggilku dari kejauhan


"Iya ma" jawabku sambil kembali menyembunyikan petasan-petasan itu di kantong celanaku. Saat itu aku tidak sadar, bahwa ada satu petasan kecil yang terjatuh saat aku berjalan menuju mama. Kupegang tangan mama, dan beliau menuntunku ke ruang tamu.

__ADS_1


Keluarga Reyhan terlihat begitu bahagia saat melihatku. Mereka juga memutuskan akan memasukan aku dan Reyhan di SD yang sama. Aku sangat senang karena itu artinya aku bisa kembali bermain dan belajar bersama dengan Reyhan.


"Anak kita akrab sekali ya Winda" bisik Mama


"Iya Merry, semoga mereka juga berjodoh, dan kita semua bisa jadi keluarga" sahut Tante Winda


"Hei kalian ini! anak masih bau kencur juga sudah main jodoh-jodohin segala" seru Papa sambil bergabung dengan mereka berdua


Saat itu, aku dan Reyhan sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan mereka. "Mantu itu apa?" bisikku kepada Reyhan, yang dibalas dengan gelengan kepala darinya. Kami berdua masih sangat kecil. Yang ada dalam pikiran kami adalah bermain, belajar dan menikmati kebahagiaan seperti anak-anak pada umumnya.


Sebuah kue tart besar yang sudah dipesan khusus oleh Tante Winda diletakkan di meja tengah yang sudah disiapkan. Berwarna coklat namun ada lelehan selai stroberi yang menyembul dari ujung kue itu. Bagaikan gunung merapi, tempat kami melintas terakhir kali saat jalan-jalan bersama anak TK lainnya saat pergi karyawisata. Aku lebih terkejut lagi saat kami berdua bersama memotong kue itu.

__ADS_1


Terlihat lipatan-lipatan yang seolah membentuk tanah yang megar. Berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Ya, kamu benar. Ternyata kue tart besar ini adalah kue rainbow cake yang sengaja disembunyikan dalam bentuk gunung merapi.


"Selamat ya Putri dan Reyhan. Semoga kalian bisa semakin pintar dan menjadi anak yang berbakti" tegur Bu Sarah, guru kelas TK kami yang sengaja diundang di pesta ini.


"Iya bu ara" jawabku kompak dengan Reyhan.


"Yahh berarti kami nggak bisa ketemu bu sarah lagi dong" sahutku masam


"Eh... siapa bilang gak bisa ketemu? kalau kangen ya main-main ke TK ya. Ibu akan menunggu kalian" seru Bu Sarah sambil mengacak kepala kami berdua.


"Hehehe iya"

__ADS_1


Sekejap setelah itu. Kudengar suara yang sahut menyahut dari luar ruangan yang sangat keras. "Kebakaran....kebakaran...." teriak orang-orang dengan panik. Semua orang berhamburan menuju ke pintu, tak terkecuali aku. Namun saat aku berusaha menembus gerombolan massa itu, aku terpisah dan lampu besar yang menggantung di atas ku tiba-tiba ambruk.


__ADS_2