
Setelah Reyhan menceritakan semuanya kepadaku, air mataku mengalir dengan derasnya. Kubisa rasakan tanganku yang semakin dingin dan nafasku yang iramanya mulai tidak beraturan.
"Putri tenanglah! jangan panik, sudah aku katakan ini semua bukan salahmu!"
"Tidak, ini salahku. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Kalau saja saat itu aku tidak membawa petasan itu, Tante Windi pasti masih.... pasti masih...."
"Stt... kamu tidak boleh mengatakan hal itu. Dulu saat aku pertama tau bahwa ibuku yang meninggal dalam insiden itu, aku juga merasa sangat sedih. Aku bahkan hampir tidak pernah keluar rumah selama satu minggu penuh. Tetapi ayahku yang membimbingku, bahwa ini adalah takdir yang harus aku terima."
"Kamu pasti membenciku karena aku sudah membuat ibumu meninggal. Aku ini seorang pembunuh,"
"Cukup hentikan! aku tidak pernah menyalahkan kamu. Justru aku sangat merasa bersalah kepadamu. Karena selama ini sudah menyembunyikan hal ini darimu." Reyhan memegang bahuku erat dan sorot matanya seolah memancarkan penyesalan.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Hari itu tidak hanya berakhir sampai disitu," Reyhan menarik nafasnya perlahan dan kembali membuka mulutnya untuk melanjutkan ceritanya.
***
Setelah kamu mengetahui akan kenyataan tentang tante Windi, kamu menyalahkan dirimu sendiri atas insiden itu. Kata dokter kamu mengalami depresi akibat syok mendengar berita kematian ibuku, dan membuatmu harus dirawat beberapa hari lagi.
Saat itu aku merasa sangat sedih. Yang pertama adalah karena kehilangan ibuku dan yang kedua terjadi di hari itu.
Aku mulai bisa menerima kepergian ibu dan ingin bertemu denganmu. Jujur setelah kejadian itu, aku masih merindukanmu. Biar bagaimanapun juga kamu temanku. Karena itu, ketika kamu dikabarkan sudah mulai membaik, aku dan ayah pergi ke rumah sakit untuk menjengukmu. Tak kusangka satu perkataanmu disaat itu kepadaku, membuatku terkejut.
"Ini aku Reyhan, temanmu," aku mencoba membuatmu mengingatku
"Maaf, aku tidak mengenalimu. Apakah kamu benar-benar temanku?"
__ADS_1
"Iya. Apa kamu lupa? kita ini begitu dekat. Selalu bermain bersama, belajar bersama, bahkan kita juga membuat markas rahasia khusus untuk kita."
"Tapi aku,"
"Ingatlah Riri jangan kupakan aku. Panggil aku Rey, aku ini Rey," aku mencoba membuat kamu mengingat semua kenangan kita. Terutama tentang janji kita. Kita akan tumbuh besar bersama.
Saat itulah, Papa menarikku keluar dari kamarmu. Menemui ibu dan ayahmu. Mereka berkata, bahwa karena syok yang kamu alami, kamu kehilangan sebagian ingatanmu. Terutama tentang aku dan keluargamu. Karena perasaan bersalah yang kau rasakan.
Untuk mencegahmu merasa lebih bersalah lagi. Akhirnya papa memutuskan untuk menjauhkan aku darimu. Aku kemudian di sekolahkan diluar negeri. Sedangkan kamu pindah ke rumah yang jauh dari sekolahmu yang dulu. Agar kamu tidak pernah mengingat aku, juga trauma yang kau alami.
***
Reyhan kemudian mendekatkan dirinya padaku dan mendekapku dengan erat.
__ADS_1
"Maafkan aku, karena telah meninggalkanmu sendirian selama ini. Jujur aku tidak sanggup melihat kamu seperti dulu. Riri, aku sangat mencintaimu. Aku baru saja menyadari bahwa kamulah satu-satunya wanita yang pernah singgah dihatiku. Bagiku, walaupun kamu tidak lagi mengingatku tetapi aku sungguh merasa bahagia. Bisa melihatmu kembali tertawa. Walaupun yang menemanimu tertawa bukan lagi aku, tetapi Putra," sorot mata Reyhan meredup menatapku yang kini berada di pelukannya.
"Aku juga sangat merindukanmu, Rey sahabatku," bisikku kepadanya sambil tersenyum dengan tulus.