Putra & Putri

Putra & Putri
Berpikir


__ADS_3

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang sambil memeluk bantal berbentuk hati berwarna biru muda kesukaanku. Setelah kejadian yang mengejutkan itu, kini aku kembali berpikir. Baik Reyhan dan Putra ternyata adalah lelaki yang telah aku kenal lama. Sayangnya aku kehilangan memori indah bersama Reyhan, sehingga aku melupakannya. Sekarang aku harus bagaimana. Aku sudah menyatakan telah memilih Reyhan, namun rasa bersalah ini tidak kunjung menghilang.


Demi mengusir rasa kebosanan, aku mencari dan membuka-buka lembaran foto lamaku. Kulihat banyak kenangan indah disana. Ada fotoku saat pertama kali pergi ke pantai. Bermain bersama Rena, dan tak lupa fotoku bersama dengan Putra. Lagi-lagi aku tidak bisa menemukan fotoku dengan Reyhan ataupun Tante Windi. Aku berasumsi bahwa, orang tuaku sengaja menyingkirkan foto-foto itu agar aku tidak kembali merasa tertekan dan depresi.


Tante Windi, orang yang sudah aku anggap sebagai ibu keduaku telah pergi karena kesalahanku. Demi menenangkan diri, aku memutuskan untuk jalan-jalan sendirian keluar rumah. Papa dan Mama sudah tertidur lelap didalam kamar mereka. Namun aku takut mereka akan terbangun, sehingga aku memutuskan untuk tidak keluar melalui pintu depan. Aku keluar dari jendela kamarku dengan sembunyi-sembunyi tanpa membuat suara gaduh agar mereka tak terbangun.


***


Setelah membeli secangkir kopi di mini market terdekat, aku berjalan kearah taman. Bagiku, taman sederhana ini lebih dari sekedar tempat yang menyimpan kenangan indah. Tetapi juga, tempat yang selalu aku pikirkan pertama kali untuk merenung disaat aku tertimpa masalah.

__ADS_1


"Hei gadis jelek! kenapa malam-malam begini kamu pergi keluar sendirian," suara asing itu membuyarkan lamunanku dan aku tahu betul siapa pemilik suara itu.


"Kenapa kamu kesini sih? aku sekarang lagi badmood tau," ucapku malas


"Emangnya gak boleh ya. Padahal kita tau, ini tempat yang paling nyaman untuk bersantai. Terutama saat hari gelap seperti sekarang."


Ugh... aku memalingkan wajahku dari lelaki tampan yang sekarang telah duduk di bangku panjang bersama denganku.


"Putra aku ini seorang pembunuh," isakku sambil berusaha menghindari tatapan matanya. Putra melongo mendengarku yang tiba-tiba berteriak dihadapannya.

__ADS_1


"Kamu tenang dulu. Nih pakai jaketku dulu, nanti kamu kedinginan," tanpa menunggu balasanku, Putra meletakan jaket hijaunya menutupi punggungku.


Aku menunduk menceritakan seluruh keluh kesahku kepada Putra. Harus aku akui, Putra adalah orang yang pertama yang aku pikirkan ketika aku sedang dirundung masalah. Dia tidak akan menyela sedikitpun dan membiarkan aku menceritakan masalahku sampai akhir.


"Itu bukan salahmu Putri. Waktu itu kamu masih sangat kecil," ucap Putra setelah aku selesai bicara


"Tapi... ini memang salahku. Kalau saja aku mendengar kata-kata Reyhan saat itu, Tante Windi pasti pasti masih hidup."


"Stt... kamu tidak boleh berkata seperti itu." ujar Putra sambil menaruh telunjuknya di mulutku. "Kita tidak tahu bagaimana dan kapan kita akan meninggal. Walaupun kamu tidak membawa petasan di hari itu, jika takdir berkata Tantemu itu akan meninggal di hari itu, maka dia pasti akan pergi."

__ADS_1


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Putra aku masih merasa sangat bersalah. Aku telah melarikan diri dari masalah lamaku ini. Seharusnya aku tidak melupakan orang yang sangat berarti bagiku," aku mengusap keringat dan air mata yang terus mengalir. Putra menggunakan jaketnya dan menghapus air mata yang telah membasahi wajahku.


Kugenggam telapak tangan Putra dan tetap menangis. Cukup lama aku begitu, hingga tanpa kusadari kutelah terlelap dibahunya yang kokoh.


__ADS_2