Putra & Putri

Putra & Putri
Canggung


__ADS_3

Kumerapihkan berkas-berkas di kantor dengan tatapan hampa. Banyak teman kantor yang bertanya apakah aku sedang sakit. Aku hanya tersenyum simpul. Tidak mungkin aku mengatakan kepada mereka apa alasannya. Semalaman aku menangis karena kebimbangan hatiku. Biarlah hal ini kusimpan sendiri saja.


Ketika waktu istirahat tiba, aku tidak pergi ke kantin seperti biasanya. Aku takut Rena melihatku. Dia adalah wanita yang sangat peka terhadap sesuatu. Apalagi jika menyangkut diriku, sahabatnya. Dia tidak akan membiarkan aku pergi sampai memastikan aku baik-baik saja. Aku memutuskan pergi keluar perkarangan kantor untuk membeli makanan yang lain, agar tidak berpapasan dengannya.


Disaat aku tengah memilih menu untuk dimakan, aku berpapasan dengan Putra. Kupalingkan wajahku, berpura-pura tidak mengenalnya.


"Putri, kamu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa," ujarku cepat sembari mengambil uang untuk membayar makanan


"Biar aku saja yang membayarnya," seru Putra


"Tidak usah aku bisa sendiri," sela aku sambil menyerahkan uang ke kasir dan segera melenggang dari warung padang itu.

__ADS_1


Aku berjalan dengan cepat. Menghiraukan panggilan Putra yang menyuruhku untuk berhenti. Disaat itulah, sebuah motor melaju dengan kencang ke arahku. Putra langsung berlari dan menarik lenganku dengan kuat.


"Kamu ini! jangan melamun di tengah jalan," Putra marah melihatku yang tidak fokus dan seolah terlihat sakit


"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa," aku menepiskan tangan Putra dan hendak berlari


"Cukup! kamu selalu seperti ini. Kenapa setiap ada masalah, kamu simpan seorang diri. Kalau aku tadi tidak ada, kamu pasti sudah celaka."


"Memangnya apa urusanmu. Kamu hanya teman kecilku. Bukan siapa-siapa. Lagipula sebentar lagi, aku akan menjadi milik orang lain." Aku marah pada Putra, kulihat wajah Putra yang telah berubah merah


Aku tak kuasa menatap wajah Putra yang tertegun melihat sikapku. Aku sudah menyakitinya dengan memilih Reyhan. Kalau saja aku lebih cepat menyadarinya, maka aku tidak perlu menghindar darinya seperti ini. Sekarang aku begitu canggung untuk bertemu dengannya.


***

__ADS_1


Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Aku segera memacu motorku agar cepat sampai ke rumah. Kuhiraukan panggilan Rena yang mengajakku untuk mengobrol sejenak. Walaupun dia sahabatku, sekarang aku ingin sendiri dulu. Memikirkan kegalauan akan hatiku yang bimbang.


Sialan! kenapa Putra justru menunggu aku di persimpangan rumah. Tidak, tidak boleh seperti ini. Aku berbalik dan hendak pergi ke tempat lain untuk sementara. Namun Putra datang dan segera menahanku.


"Cukup main kejar-kejarannya, sekarang turun atau aku akan berbuat kasar kepadamu,"


"Kenapa sih kamu mengangguku. Sudah aku katakan aku tidak apa-apa."


"Oh iya? kalau begitu buka helmmu dan segera tatap wajahku." Putra berkata tegas dengan nada yang agak tinggi. Akhirnya dengan berat hati aku membuka helmku dan menatap wajahnya.


Putra memperhatikan raut mukaku dengan tatapan aneh. Dia segera mengambil kunci motorku dan menyuruhku untuk duduk dibelakang.


"Kamu apa-apaan! kembalikan kunci motorku sekarang juga. Aku mau pulang,"

__ADS_1


"Sudahlah jangan banyak protes. Kamu duduk saja dibelakang yang tenang." Putra menghiraukan suaraku dan segera memacu motornya menjauh dari daerah rumahku.


Putra mengajakku ke daerah yang asing. Sebuah taman yang terlihat sangat asri. Kulihat disana ada ayunan yang menjuntai dan berbagai jenis bunga yang ditata sedemikian rupa. Terlihat begitu cantik dan menawan. Putra segera turun dan mengamit lenganku menuju kursi panjang yang terletak disana.


__ADS_2