
"Sebelum saya mengumumkan keputusan saya, ada satu hal yang ingin saya tanyakan pada Putra" tegas Papa
"Iya pa," jawab Putra
"Kenapa kau hendak meminang anak saya, apa alasanmu!" seru papa
"Karena saya sudah lama mencintai Putri bapak. Saya ingin menjadi pendamping hidupnya dan saya berjanji, saya akan memberikan kebahagiaan dan menjaga Putri." Putra mengatakan semua hal itu, sambil memandangi mata papa penuh kesungguhan.
"Benarkah? apa buktinya!" seru papa
"Buktinya adalah, saya selalu memperhatikan Putri dari jauh. Saya juga sudah lama mengenal Putri dan saya siap untuk berkorban apapun demi dia." Putra berkata tegas, sementara papa, menyimak perkataan itu dengan raut wajah ragu.
"Disini sudah ada nilai yang diberikan oleh Putri dari kedua masakan tadi. Jika masakanmu memiliki nilai paling rendah, maaf saya tidak bisa memberikan restu kepada kalian," ucap papa.
Aku khawatir. Nilai yang kuberikan untuk gulai ikan nila tadi sangat rendah. Apakah makanan itu dibuat oleh Putra. Jika iya, maka aku harus ikhlas menerimanya.
"Putri?" tanya Papa
__ADS_1
"Iya papa."
"Apakah kamu sangat mencintai Putra?"
"Iya pa. Putri sudah sadar akan perasaan di hati Putri. Putra adalah orang yang Putri cintai, melebihi cinta Putri terhadap Reyhan. Karena itu, Putri harap papa bisa menerima Putra menjadi pendamping hidup Putri."
Papa meletakan kertas itu, kemudian menghela nafas panjang sambil berkata
"Kau tahu, saya hanya menginginkan kebahagiaan Putri saya satu-satunya. Saya dulu ingin menjodohkan Putri dengan Reyhan, karena saya sudah kenal lama dengan dia dan keluarganya. Tetapi, jika Putri saya tidak meninginkannya, saya tidak akan memaksakan kehendak saya."
Kata-kata yang diucapkan papa mengandung sebuah arti. Putra lantas bertanya kembali "Jadi, apakah papa memberi restu kepada saya untuk menikahi Putri?"
"Papa pasti ingin melihat kesungguhan saya untuk menikahi Putri. Saya tahu, setiap orang tua, menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Apalagi, Putri adalah anak papa satu-satunya. Pasti rasanya berat untuk melepasnya, menjalani kehidupan yang baru sebagai seorang istri."
Papa menepuk tangannya pelan. Kemudian menyalami tangan Putra dan berkata
"Kutitipkan Putriku padamu. Buatlah dia bahagia. Jika sekali saja kau menyakitinya, dan dia pulang kepadaku, aku tak akan segan untuk menghajarmu."
__ADS_1
Putra menyambut tangan Papa dan tersenyum, "Saya akan melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Demi kebahagiaan Putri."
Papa memanggilku, mengajakku untuk menuju ke arah teras rumah. Ingin membicarakan hal yang serius berdua saja denganku.
"Kamu masih ingat nak?" tanya papa kepadaku
"Iya papa,"
"Dulu saat kau kecil, papa sering mengendongmu di punggung papa, setiap kau tertidur akibat kelelahan bermain dengan Putra. Sejujurnya, papa masih kurang menyukai dia untuk menjadi menantu papa dan pendampingmu. Tetapi berkat tantangan tadi, papa tahu, dia serius terhadapmu."
"Apa sebenarnya alasan papa melakukan semua ini?" ujarku
"Papa ingin menguji apakah dia benar menyukaimu dengan tulus. Sejak tadi, papa melihat sorot matanya, memancarkan ketulusan. Kesungguhan dan tekad, untuk mendapatkan restu dari papa. Nasi goreng yang tadi dia buat, adalah bukti cintanya kepadamu."
Aku tersenyum, hingga dari pelipisku keluar sedikit cairan bening. Tetapi pikiranku langsung kalut. Memikirkan satu makanan lagi, yang tadi aku nilai.
"Papa, apakah Putra juga yang membuat gulai ikan nila tadi?" tanyaku
__ADS_1
Papa menggeleng. Kemudian dua bibirnya perlahan terbuka dan mengeluarkan suara "Papa yang membuat gulai ikan nila yang tadi kamu makan. Papa sengaja menambahkan banyak lada, dan membuat gulai ikan itu, lebih asam dari biasanya. Untuk menguji kamu. Papa ingin, walaupun kamu nanti sudah menikah, kamu tidak melupakan setiap nasihat yang telah kami berdua berikan."
Aku memeluk papa seerat mungkin. Memeluk sosok yang melindungiku selama ini, dan telah memberikan aku segala kebahagiaan. Kulihat papa yang berusaha tegar. Walaupun dapat kurasakan, di dalam hati, papa menangis. Seolah berat melepasku pergi. Aku tidak peduli, jika tetangga sekitar menganggap aku anak yang manja. Yang aku inginkan sekarang adalah, memeluk papa sambil membayangkan masa-masa indahku bersamanya. Papa, mama, Putri berjanji. Putri akan tetap berbakti kepada kalian, walau sebentar lagi Putri akan pergi, menuju ke kehidupan yang baru.