Putra & Putri

Putra & Putri
Permintaan Maaf


__ADS_3

Esok harinya Aku, Putra dan Rena bersama-sama pergi ke rumah kecil itu. Kami pergi jam 5 pagi agar tidak menarik perhatian masyarakat sekitar dan tidak terlambat bekerja. Rena menyuruh kami untuk menunggu sampai orang yang bisa membantu kami datang. Putra menjaga Fina agar dia tidak lari. Fina sendiri sedang tertidur pulas sambil memegangi foto mendiang orang tuanya.


Mobil hitam kemudian muncul diantara gang ini. Terlihat seorang wanita keluar dari dalam mobil tersebut. Dia memakai baju blus biru dengan perpaduan warna putih bergaris. Berambut panjang pirang dan bermata biru. Ternyata dia adalah tante Rena, yang bernama Gigi Hanindita. Seorang psikiater handal yang namanya telah tersohor ke penjuru negeri. Walaupun dia keturunan blasteran antara inggris dan indonesia, dia tidak pernah membeda-bedakan dan selalu bersikap ramah. Terutama pada pasiennya.


Tante Gigi masuk ke dalam rumah. Fina yang terbangun sempat merasa syok karena kedatangan orang asing. Dia berusaha kabur namun putra menghadangnya. Aku dan Rena berjaga masing-masing di pintu depan dan belakang rumah ini, agar Fina tidak bisa kabur. Tante Gigi memukul belakang leher Fina sehingga dia pingsan. Tante Gigi akan membawa Fina ke tempat praktiknya agar bisa merawat Fina lebih lanjut. Dia juga menyarankan pada putra untuk merobohkan rumah ini. Agar depresi Fina tidak kembali.


"Terima kasih tante, udah bersedia bantu kami." Rena berkata pada tantenya yang bernama Gigi itu.


"Iya sama-sama. Lagipula jarang sekali Rena mau minta bantuan tante. Biasanya juga sibuk sama urusan sendiri". Tante Gigi itu tersenyum ramah sambil menyalami Rena.


"Tante aku mohon, tolong bantu Fina ya. Bantu dia agar trauma bisa menghilang dan kembali seperti dulu." Putra memohon kepada tante Gigi.


"Tentu saja. Tante akan mengusahakan yang terbaik untuk Fina, Putra tenang saja ya" tante Gigi mencoba menenangkan putra sambil memegang bahunya

__ADS_1


Aku cemburu. Walaupun Fina bukan pacar Putra lagi, tetapi Putra masih mengkhawatirkan dia. Entah perasaannya hanya sebagai teman atau lebih. Aku tidak tahu. Tetapi sinar mata putra terlihat sangat cerah. Membuat hatiku gundah dan pikiranku kacau.


"Syukurlah ya. Kita sama-sama doakan semoga Fina segera sembuh dari traumanya" perkataan Rena memecahkan lamunanku


Putra dan aku saling mengalihkan pandangan. Berusaha tidak bertatapan satu sama lain.


"PLETAK," Rena memukul kepala kami berdua


"Putra dan Putri, kalian harus berbaikan," Rena bertingkah seolah dia adalah ibu kami


"Aku tahu Putra salah telah mengkhianati janjinya dengan Putri. Tetapi alasannya untuk membantu Fina harusnya bisa membuatmu putri sedikit mengerti tentang keadaan Putra. Dia tidak punya pilihan lain" Rena berkata dengan bijak kepada kami berdua


Kemudian Putra berkata padaku "Putri maafkan aku, karena sudah melanggar janji kita. Aku khilaf, tetapi aku berjanji padamu aku tidak akan mengkhianatiku lagi"

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang "Baiklah, tetapi jika kamu melanggar sekali lagi. Aku tidak akan pernah memaafkanmu".


Putra memegang kedua tanganku. Kami berdua bertatapan cukup lama. Kemudian Putra memeluk dan membelai rambutku. Seolah memberi ungkapan maafnya yang tulus. Kemudian dia berbisik di telingaku. Terima kasih Riri, aku berjanji padamu. Rasanya sangat nyaman.


"Oke-oke stop, cukup drama romantisnya," Rena menghentikan kami.


"Hihi... iya deh, tau yang merasa jadi obat nyamuk," kami berdua meledek Rena.


"Minta dipukul lagi ya? kalian ini," Rena bergaya sambil mengepalkan tangannya


"Ampun... yaudah yuk. Kita berangkat kerja, nanti telat lagi," kataku dan Putra serempak


Kami bertiga pergi meninggalkan rumah itu, kami bertiga mendoakan semoga Fina bisa segera sembuh dari traumanya. Kira-kira jika dia sudah sembuh apa dia ingat aku, Putri. Wanita yang dia serang karena dianggap merebut pacarnya, Putra. Aku tidak tahu. Kita lihat saja nanti, aku bergumam.

__ADS_1


__ADS_2