
Aku mempercepat langkahku. Hari ini aku berjanji untuk bertemu Putra. Di tempat biasa kami bermain dahulu. Setelah pulang kerja, aku pergi dengan sepeda lamaku. Menyusuri komplek Perumahan Beringin, tempat aku tinggal. Sudah banyak hal yang berubah disini. Mulai dari lebih banyaknya rumah, toko bahkan sekolah tempat aku bersekolah dulu. Namun, ada tempat yang selalu tidak berubah. Lapangan sepak bola itu. Walau kini telah berpagarkan besi, tetapi suasananya tetap sama. Tempat aku pertama kali bertemu dengan putra.
Saat itu aku masih kelas 1 SD. Aku baru saja pulang sekolah. Sambil memakan es krim coklat, aku sesekali melihat anak-anak yang sedang bermain. Aku tidak terlalu peduli. Sampai sebuah bola datang dan menimpuk kepalaku. Aku meringis kesakitan. Es krim coklat itu, tumpah mengotori seragamku. Anak lelaki itu datang. Dia meminta maaf padaku, serta membantuku membersihkan bajuku. Dia bahkan berniat mengganti es krim milikku yang telah jatuh tadi. Itulah Putra.
Sejak saat itu, kami selalu bermain bersama. Aku memang bertetangga dengannya. Tetapi tidak terlalu akrab dengannya. Sampai akhirnya kami berdua berteman baik. Kami selalu bermain bersama setiap pulang sekolah. Walaupun terkadang dia jahil kepadaku, tetapi aku tidak marah padanya. Namanya juga anak-anak. Terkadang aku baru mau pulang ketika sudah dijemput oleh mama.
Aku sekarang sudah sampai di lapangan bola. Namun ternyata Putra belum sampai. aku duduk sambil mengirim pesan. Tiba-tiba Pipiku terasa dingin seolah ada es.
"Aduh... "
"Hayo... lagi ngapain," jawab Putra.
Ini Putra. Beneran. Dulu dia lebih pendek dari aku, makanya aku sering mengejeknya cebol. Sekarang dia jadi lebih tinggi dan kulitnya berwarna sawo matang. Tidak seperti dulu. Hitam sekali. Hanya giginya yang terkadang menyembul ketika dia tersenyum.
"Ih kamu telat, aku udah nunggu lama tau," jawabku.
__ADS_1
Aku tidak mau dia tahu aku terlambat, karena harus membeli belanjaan ibu sebelum pulang ke rumah.
"Bukannya kamu yang telat. Aku udah nunggu dari jam 4 tadi. Sekarang sudah jam 4:30. Sebenarnya aku mau pulang aja tadi. Kalau sampai jam 5, kamu belum sampai."
Deg. Aku lupa. Ini adalah kebiasaan putra yang sejak dulu tidak pernah dia tinggalkan. Putra selalu sampai 30 menit lebih awal dari janji. Karena dia sering membantu pak ridwan, petugas kebersihan sekolah membersihkan halaman.
"Iya maaf aku salah," Jawabku seadanya.
"Kenapa gak ikhlas banget minta maafnya? Jawab sesuai pas kita sekolah dulu,"
"Idih, gak mau ah. Jangan bercanda deh."
"Hahaha.... iya iya," kata putra sambil tertawa.
Kami berdua duduk di bangku yang ada di lapangan. Dia memberiku minuman kaleng yang tidak pernah aku lihat. Rupanya ini adalah minuman kaleng dari Amerika.Serta belum dijual di indonesia. Sambil minum, kami sesekali berbincang-bincang mengenang masa lalu. Dia baru saja menyelesaikan S2 di bidang ekonomi manajemen. Sekarang dia ditugaskan bekerja di sebuah bank di kota ini sebagai manajer baru. Aku sedikit iri. Karena pekerjaanku hanyalah Pegawai Swasta biasa.
__ADS_1
"Loh, bukannya jadi Pegawai Swasta bagus juga. Yang paling penting pekerjaannya halal," kata Putra mencoba menghiburku
"Tumben jadi agak bijak. Biasanya dulu kamu malah senang kalau aku sedih. Malah kadang sambil tertawa," aku mencoba mengodanya sedikit.
"Hei, aku sekarang sudah dewasa. Tentu saja harus mulai bersikap bijak. Walau aku kadang masih suka jahil. Terutama sama kamu Riri," jawab Putra.
Putra memang selalu memanggilku dengan nama Riri. Karena nama kami sama, dan hanya beda satu huruf. Dia bilang tidak enak untuk memanggil dengan nama putri. Akhirnya dia memanggilku Riri. Bahkan sampai sekarang.
"Riri...," jawab Putra dengan tatapan yang agak aneh.
"Kenapa Putra?" aku memperhatikan dia tidak seperti biasanya.
"Sekarang aku hendak menagih janjiku padamu. Maukah kamu menikah denganku?" kata Putra sambil memegang kedua tanganku dan melihat wajahku dengan senyum termanisnya.
Aku bingung harus menjawab apa. Sejujurnya aku bimbang harus memilih Putra teman kecilku, ataukah Reyhan anak teman ayah. Akhirnya aku berkata jujur kepada Putra. Bahwa aku sudah dijodohkan. Kemudian meninggalkan Putra disana sendirian. Aku pulang kerumah. Kemudian memikirkan siapa yang harus aku pilih nanti. Antara Putra dan Reyhan.
__ADS_1