
"Terima kasih untuk hari ini, Riri." kata Reyhan sambil berbisik
Aku kemudian memegang tangan rlReyhan dan mencegatnya untuk pergi.
"Riri? dari mana kamu tahu panggilan kecilku," kataku sambil melihat wajah Reyhan penuh tanda tanya
"Aku tahu kok, dulu kita sudah pernah bertemu," balas Reyhan
"Maksudmu, saat kamu menolongku agar tidak tertabrak truk waktu itu? iya, terima kasih banyak ya. Kalau bukan karena kamu aku pasti sudah celaka" aku membalas pernyataannya. Aku akhirnya tahu bahwa Reyhanlah yang telah menolongku hari itu
"Iya, akulah yang menolongmu," jawab Reyhan sambil mengecupku di kepala. "Tetapi, bukan hanya karena itu," sambungnya
"Maksudnya?" aku bertanya
"Besok aku ingin mengajakmu ke kafe yang kemarin, ada yang ingin aku katakan padamu." Reyhan menyatakan permintaannya padaku, dan aku pun hanya bisa mengiyakan.
__ADS_1
Malam hari itu, Mama dan Papa bertanya tentang kejadian yang terjadi tadi sore. Aku kemudian menceritakan semuanya. Entah mengapa aku melihat seolah wajah mereka berdua terlihat begitu senang, saat aku menceritakan tentang Reyhan.
"Sudah Papa bilang padamu Putri anakku sayang, Reyhan itu adalah pria yang baik," sahut Papa setelah aku bercerita
"Bagaimana Putri, apa Putri sudah memutuskan akan menerima perjodohan ini atau tidak?" Mama kemudian bertanya padaku
"Aku.... aku tidak tahu Mama Papa, Putri masih belum bisa memutuskan," jawabku terbata-bata
"Mama dan Papa tidak akan memaksamu, untuk menerima Reyhan. Kami berdua hanya ingin yang terbaik untukmu. Tetapi terserah padamu. Mungkin kamu sudah punya pilihanmu sendiri," balas Papa seolah tahu bahwa Putrinya ini masih takut salah dalam memilih
"Iya Mama, ya sudah Putri sekarang mau tidur dulu, selamat tidur," kataku sambil pergi menuju kamar meninggalkan mama dan papa di ruang tengah.
Aku merebahkan tubuhku di kasur sambil memikirkan kejadian hari ini. Tak kusangka Reyhanlah yang menyelamatkanku hari itu. Aku juga tidak menyangka dia bisa bersikap sangat hangat terhadap orang lain. Ternyata seorang lelaki juga dapat mengeluarkan air mata bila seseorang yang berharga baginya telah pergi. Walaupun Reyhan terlihat tegar dan berusaha mati-matian agar tidak menangis. Namun apa daya. Air matanya tetap turun ke atas pipinya. Tetapi apa maksud ucapannya padaku tadi sebelum hendak pulang. Dia memanggilku Riri. Kenapa dia bisa tahu nama panggilanku. Aku sangat yakin bahwa kami baru saja bertemu hari minggu lalu. Apakah dia bertanya pada Mama dan Papa. Entahlah aku tidak tahu. Mungkin besok saat kami mengobrol bersama, dia mau memberitahukan padaku. Tentang siapa sebenarnya dirinya. Diriku pun kemudian mulai terlelap dalam tidurku.
Cahaya mentari masuk mengenai wajahku. Membuat diriku kini terbangun. Setelah bersiap-siap seperti biasanya, aku pergi ke kantor. Namun sebelum aku hendak masuk ke dalam kantor. Pak Komar, satpam di depan pintu menghentikanku.
__ADS_1
"Non Putri, ini ada kiriman," ucap Pak Komar sambil memberikan bungkusan berwarna coklat
"Dari siapa ini pak?" tanyaku pada pak Komar
"Nggak tahu non, saya cuma disuruh kasih ini sama non Putri. Kemudian orang itu pergi," jawab pak Komar
Aku kemudian membolak-balik bungkusan itu, untuk mencari nama pengirimnya. Tetapi ternyata tidak ada apa-apa.
"Ya sudah, terima kasih ya pak Komar," ucapku pada pak Komar. Kemudian segera pergi menuju ruangan.
"Kira-kira ini dari siapa ya?" batinku bertanya. Kemudian aku membuka paket itu. Isinya ternyata sebungkus coklat favoritku, dan sebuah kertas.
"Riri kemarin pas aku pergi ke Mall Suzuya, aku lihat coklat ini. Kemudian aku jadi teringat sama kamu. Jangan lupa dimakan ya," dari temanmu yang ngeselin Putra.
Perasaanku pada pagi hari ini seolah terasa sangat manis. Semanis coklat yang diberikan Putra padaku. Ternyata perhatian Putra padaku, masih sama seperti dulu. Membuat aku menjadi sangat senang sekaligus ragu. Kedua pria ini, baik Putra maupun Reyhan sama-sama pria yang baik. Aku harus segera dapat menentukan pilihanku. Karena waktu untuk memutuskan pilihanku, sudah tidak lama lagi.
__ADS_1