
Kotak kayu itu berisi selembar kertas, satu buah foto, dan sebuah kalung. Kertas itu berisi pesan untuk Reyhan dari Pak Hamzah, foto mereka berempat, dan kalung bintang untuk Nanda. Di dalam surat itu Pak Hamzah berpesan, bahwa dia sebenarnya sudah mengetahui kalau dia mengidap penyakit kanker paru-paru sejak 1,5 tahun yang lalu. Namun karena tidak ingin mengkhawatirkan keluarganya, dia menyimpan sendiri rasa sakitnya. Dia sangat bersyukur bisa bertemu kembali dengan Reyhan pada 6 bulan yang lalu. Walaupun akhirnya dia tahu bahwa penyakitnya tidak bisa lagi disembuhkan, dia merasa sudah ikhlas apabila sudah waktu baginya untuk pergi. Sebelum pergi, dia ingin bisa menikmati momen terakhir bersama keluarganya. Karena itu, dia menyuruh Reyhan untuk menghentikan pengobatannya dan mengizinkannya pulang ke rumah. Agar bisa menghabiskan saat-saat terakhirnya bersama istri dan anaknya. Dia juga berpesan pada Reyhan agar jangan merasa bersalah atas kepergiannya, karena ini adalah takdir Allah. Dia sangat berterima kasih karena sudah mengabulkan permintaannya dan telah membantu keluarganya sejauh ini.
Air mata Reyhan mengalir deras. Sambil melihat foto terakhir mereka yang diambil di rumah sakit, dia berjanji pada dirinya sendiri. Untuk membantu sang Ibu dan Nanda di kehidupan mereka berdua sekarang. Dia kemudian mengajak Ibu Nanda untuk bekerja di kantin kantornya. Karena dia tahu masakan Ibu Nanda sangat enak. Dia juga hendak membantu biaya sekolah Nanda sampai perguruan tinggi. Sebagai bentuk pengabdian atas kebaikan Pak Hamzah padanya dahulu. Ibu Nanda dan Nanda sangat berterima kasih atas kebaikan hati Reyhan. Nanda juga terlihat sangat dekat dengan Reyhan, mereka berdua terlihat seperti kakak-beradik.
"Kenapa kamu tidak bilang pada orang lain? padahal mungkin banyak orang yang bisa membantumu dulu?" tanyaku kepada Reyhan karena penasaran kepadanya yang mengurus segala pengobatan Pak Hamzah sendirian
"Aku tidak mau merepotkan orang lain, selama aku masih bisa melakukannya sendiri," jawab Reyhan.
__ADS_1
"Kak Rey memang begitu orangnya kak. Dia mandiri, padahal Kak Rey orang hebat dan bisa saja menyuruh orang suruhannya menjaga bapak, tetapi dia tidak mau," sambung Nanda yang duduk di dekat Reyhan
"Jangan-jangan dulu kamu terlambat datang ke kafe waktu itu karena ini?" aku bertanya kembali kepada Reyhan
"Maaf, karena aku tidak mau Putri juga ikut mengkhawatirkan masalahku." Reyhan menjawab sambil merapikan poni rambutnya.
"Kak Putri, kakak pacarnya Kak Rey ya?" tanya Nanda yang membuat aku, Putri tersedak saat hendak meminum air dalam botol yang aku bawa di dalam tas.
__ADS_1
"Bukan Nanda, kakak cuma teman Kak Reyhan" sambung aku dengan cepat
"Nanda, Kak Putri ini bukan pacar Kak Rey, tetapi calon istri Kak Rey," Rey tiba- tiba menyambung jawabanku
"Wah selamat ya Kak Rey, akhirnya sebentar lagi kakak akan menikah" Nanda terlihat sangat gembira sambil bertepuk tangan
Aku dan Reyhan hanya tersenyum. Seolah tidak ingin membuat keributan di rumah ini. Hanya saja aku bingung. Apakah pernyataan Reyhan tadi itu serius atau bukan. Aku tidak tahu. Kemudian saat diriku hendak pulang, Reyhan ingin mengantarku pulang sampai rumah. Walaupun aku sudah menolak, tetapi dia memaksa. Akhirnya aku bolehkan dia untuk mengantarku. Sesampainya di depan rumah dia kemudian membisikan suatu hal di telingaku, yang membuatku sangat terkejut.
__ADS_1