Putra & Putri

Putra & Putri
Kenangan Tentang Dia


__ADS_3

Langit malam hari ini terlihat begitu indah. Aku terbangun sekitar jam 3 dini hari. Setelah kejadian tadi sore, aku mulai berpikir bahwa Reyhan adalah orang yang tidak menepati janji. Reyhan seolah terlalu banyak menyimpan rahasia dan tidak mau jujur padaku. Padahal kalau dia mau bersikap jujur, aku tidak akan pergi saja seperti tadi. Entah kenapa aku teringat samar akan sosok seorang. Sosok yang telah menyelamatkan diriku dari kematian. Yang kemudian menghilang berlari diantara keramaian. Kisah ini sudah cukup lama terjadi dan menjadi rahasia kecilku. Hal yang tidak pernah aku ceritakan pada orang lain, termasuk orang tuaku.


Ini terjadi saat aku kelas 3 SMA. Aku baru saja pulang dari les sekolah dan bergegas pulang ke rumah. Karena aku sangat terburu-buru, aku menyebrang tidak hati-hati dan nyaris tertabrak mobil. Ada seseorang dari belakang yang mendorongku, sehingga aku bisa selamat. Saat itu aku kurang jelas melihatnya. Dia terlihat memakai topi merah, dan jaket berwarna biru gelap. Berlari ke arah pasar dengan sangat cepat. Aku kemudian kehilangan sosoknya. Padahal aku hanya ingin berterima kasih padanya, namun dia seolah tidak melihatku.


Ah sudahlah, kataku sambil menghela napas perlahan. Mungkin dia cuma orang aneh. Yang terpenting adalah sekarang. Bintang-bintang dan bulan purnama terlihat jelas di langit hari ini. Membuatku merasa bahwa cuaca esok hari cerah. Juga mengingatkanku tentang kenangan bersama sahabatku, Rena. Rena adalah teman perempuan terbaikku. Setelah Putra pergi, dia yang selalu menemaniku. Dia yang juga membantu mengubah diriku. Saat aku SMP karena terlalu sering bergaul dengan Putra, aku menjadi cewek yang tomboy. Dialah yang pertama mengenalkanku dengan lipstik, bedak, foundation dan peralatan dandan lainnya. Membantu mengubah gaya berpakaianku. Sehingga aku tidak diejek lagi oleh anak laki-laki di kelas.


Hari ini hari selasa. Empat hari lagi, aku harus membuat keputusan. Hatiku merasa bahwa Putra lebih baik dari Reyhan. Dia selalu menepati janji. Walaupun dia terlihat lebih menyebalkan daripada Reyhan, dia temanku yang telah aku kenal lama. Aku merasa sudah cukup mengenalnya. Sampai kejadian hari ini merubah hati dan pikiranku. Membuat aku merasa putra uang sekarang bukanlah Putra yang aku kenal dulu.


"Mama, Putri berangkat ke kantor ya," kataku berpamitan pada mama sambil memakan roti selai sebagai sarapan dijalan.


"Iya, eh tunggu dulu...., mama berseru sambil berusaha menahanku pergi."Ini ada paket kue bolu pesanan pelanggan. Nanti sebelum kamu ke kantor, tolong antar sebentar ya."


"Haduh mama, nanti Putri telat sampai ke kantor," jawabku sambil sedikit cemberut.

__ADS_1


"Sebentar aja Putri, soalnya alamatnya searah dengan kantor kamu,"


"Hah.... yaudah nanti putri antar. Putri pergi dulu ya mama. Assalamualaikum."


"Nah gitu dong. Iya waalaikumsalam, hati-hati ya."


Mamaku memang sangat pandai membuat kue. Kue buatan mama sangat enak sehingga setiap hari pasti ada yang memesan. Baik kue tradisional maupun kue kekinian khas anak muda, mama bisa membuatnya. Kata mama ini adalah hobi mama sejak SMA. Hal ini membuatku senang karena bisa memakan kue enak buatan mama setiap hari.


Ketika di jalan aku bertemu dengan putra. Tetapi kelihatannya ada yang aneh. Tidak pernah aku lihat dia berhenti di gang ini. Karena rasa penasaran yang memuncak, aku menitipkan motorku di rumah tetangga, sambil mengikutinya. Aku bersembunyi di persimpangan jalan di belakang tembok. Dia berjalan semakin cepat. Kemudian perlahan terdengar suara nyaring.


"Aku membawakanmu makanan dan uang. Tolong jangan seperti ini lagi, aku mohon."


"Putra sayang, jangan kasar begitu dong sama Fina. Nanti Fina marah loh,"

__ADS_1


"Cukup Fina, tolong jangan menggodaku lagi. Aku mohon."


"Haduh Putra ini masih saja malu-malu."


Wanita itu berusaha melemaskan dirinya pada Putra. Gang ini memang agak aneh dan terasa angker. Aku tidak pernah tau ada rumah kecil disini. Padahal aku sudah tinggal disini sejak kecil. Putra berusaha melepaskan wanita itu, tetapi tiba-tiba wanita itu berteriak.


"Siapa perempuan itu hah, siapa yang berani merebut Putra pacarku ini" jawab wanita itu sambil menarik dasi Putra


"Fina hentikan, aku bukan pacarmu lagi," jawab Putra sambil berusaha melepaskan diri


"Apa maksudnya?" aku keluar dari tempat bersembunyi karena terkejut.


"Putri..." jawab Putra dengan wajahnya yang terlihat pucat.

__ADS_1


"Oh jadi dia toh," jawab wanita itu sambil seolah bergaya mengejek.


__ADS_2