
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Hari ini Alva yang memimpin rapat seperti kemauan Cyano, bukan Cyano tidak bisa menghendel semuanya, tapi dia ingin Alva yang mengurus perusahaan sementara dirinya mengembangkan restorannya .
Alva pergi bersama Gilbran dan Windy, Gilbran memegang kemudi, Alva dan Windy duduk bersama di belakang
"non, aku mau mengantar beberapa formulir untuk tuan, nonya temani tuan muda meeting ya " ucap Gilbran
"aku saja yang antar, kamu temani suamiku " ucap Windy
" gak kamu ikut dengan ku" ucap Alva
"apa kamu serius suamiku " ucap Windy
"apa wajah ku terlihat be'canda " ucap Alva
"ayolah suamiku, aku malas lihat wajah kamu, di tekuk begitu " ucap Windy
"iya aku serius " ucap Alva, entah kenapa dia tidak bisa marah pada istrinya
"gitu dong, kan ganteng " puji Windy
"kau bilang aku ganteng " tanya Alva
"salah ya, muji suami sendiri "ucap Windy
"heran aja, baru kali ini kamu memujiku" ucap Alva
"bagus kan, daripada aku muji orang lain " ucap Windy
"jangan pernah memuji orang lain di hadapan ku" ucap Alva
"Ok,aku hanya akan memuji mu, oh iya Gilbran kamu yang antar formulir nya, aku yang temani suamiku " ucap Windy
"baik nonya" ucap Gilbran
Setelah sampai, Gilbran mengambil formulir yang akan di antarkannya, dia pergi menggunakan taxi online, sementara Alva dan Windy masuk ke ruang meeting
Mereka duduk di kursi masing masing bersama empat orang lainnya
" bagaimana, apakah semua sudah hadir " ucap Alva
"satu lagi pak" ucap Riski
"baiklah kita tunggu 5 menit lagi " ucap Alva
Belum sampai 5 menit, dia datang, nafasnya tak beraturan, sepertinya dia sangat buru buru
tok tok tok
"masuk"
"maaf pak, bu, saya terlambat " ucap Salma
"duduklah, 2 menit lagi kita mulai rapatnya " ucap Alva
Dia ingin semua karyawannya tampil maksimal ,karna itu dia memberi waktu 2 menit untuk Salma beristirahat.
Meskipun Alva tergolong pemimpin yang kejam tapi dia sangat menghargai karyawannya, dia juga selalu menerima setiap pendapat dari mereka, itulah keunggulan seorang Alva, dan itu juga yang membuat karyawannya menghormatinya.
Setelah semua sudah siap ,rapat pun di mulai. Mereka membahas project baru.
Alva membuat meeting hanya jika ada project baru yang tidak dapat dibahas dengan hanya sekedar teks, atau ketika ada permasalahan yang begitu rumit dan perlu adanya ragam solusi yang perlu di diskusikan
Setelah satu jam lebih meeting selesai
Alva sangat bahagia, karyawannya selalu memberikan aspirasi yang memajukan perusahaan mereka
Para karyawan telah kembali ke ruangan masing masing, hanya Alva dan Windy yang tinggal di ruangan itu
"kamu sangat hebat, aku bangga padamu " ucap Windy
"aku hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan " ucap Alva
"itulah kelebihan mu, kamu menghargai karyawanmu, menerima aspirasi dari mereka dan melakukan pendekatan " ucap Windy
"sok tau kamu" ucap Alva
"banyak pemimpin tidak menghargai timnya, tidak memberikan kesempatan untuk mereka memberikan pendapat, dan mengambil keputusan berdasarkan pemikirannya sendiri " ucap Windy
"hm Pintar juga kamu " ucap Alva
"tentu, jika tidak mana bisa aku jadi sekretaris " ucap Windy
"Ok, catat hasil rapat tadi " ucap Alva
"sudah selesai suamiku " ucap Windy
__ADS_1
"jangan main main, aku butuh hasil maksimal " ucap Alva
Windy menunjukkan hasil kerjanya
"ini⦠"
"iya hanya tinggal menyempurnakan saja" ucap Windy memotong ucapan suaminya
πdia sama dengan ku, cekatan, aku sukaπ
Mereka kembali ke ruangannya, maksudnya Alva kembali ke ruangan direktur dan Windy kembali ke ruangan sekretaris
Jam makan siang, Windy memesan makanan lewat online, tanpa menunggu lama, pesanannya datang
tok tok tok
"Masuk "
Windy masuk membawa makanan yang di pesannya
"permisi pak, waktunya makan siang" ucap Windy
"kamu pikir a⦠"ucapan Alva terhenti setelah melihat istrinya, dia pikir yang mengingatkannya OB
"kamu, ngapain " ucap Alva
"aku membawakan makanan untuk bapak" ucap Windy ,karna masih di dalam kantor dia bersikap sewajarnya ,sebagaimana mestinya sikap seorang karyawan dengan atasannya
"jangan formal gitu, aku gak suka" ucap Alva
"ini di kantor, aku gak mau mengundang pemikiran jelek oleh karyawan lainnya " ucap Windy
"kamu istri ku, mereka juga tau itu " ucap Alva
"baiklah jika itu maumu, ini aku bawa makanan untukmu" ucap Windy
"kau tidak perlu repot, aku bisa makan di luar " ucap Alva
"aku sudah membawanya, makanlah" ucap Windy
"kamu saja yang makan, aku nanti makan di luar " ucap Alva
"baiklah jika kamu tidak mau memakannya, aku akan mengajak pak Mario" ucap Windy membungkus kembali makanan itu
"apa??? No, ok aku akan makan, tapi harus kamu suapin" ucap Alva
"aku akan makan, tidak perlu mengajak orang lain " ucap Alva
"baiklah, sebenarnya aku juga gak relah, makanan yang aku pesan untuk suamiku di makan oleh orang lain " ucap Windy
Alva tersenyum senang, dia juga tak rela jika istrinya makan bersama orang lain
Windy menyuapi suaminya dengan telaten, dia senang melakukannya, setidaknya mereka bisa semakin dekat.
Alva menerima suapan demi suapan yang di berikan istrinya, tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya menginginkan perhatian. Melihat suaminya senang dengan perhatiannya, muncul ide baru dalam pikirannya, dia menyodorkan suapan pada suaminya, saat Alva ingin memakannya, dia mengalihkan sendok itu ke mulutnya
"hey kenapa memakannya, itu bagianku" ucap Alva
"tidak bisa itu bagian ku" ucap Windy
" kau curang, seharusnya itu bagianku " ucap Alva
"ini kan masih ada, aaa " ucap Windy membuka mulutnya seperti memberi isyarat
Saat Alva membuka mulutnya lagi lagi Windy yang makan nasinya
"kau⦠kau ingin mempermainkan ku" ucap Alva menggelitik istrinya
"ampun, ampun, geli suamiku, ampuni aku" ucap Windy di sela tawanya
"ingin lagi " ucap Alva
"gak, jangan, geli, aku minta ampun " ucap Windy
"suapin lagi aku belum kenyang " ucap Alva
"baiklah " ucap Windy
Kali ini Windy menyuapinya dengan baik
Saat perjalanan pulang, hujan turun dengan derasnya.
"apa kita berhenti dulu, hujannya sangat deras" ucap Windy
"gak usah, hujannya gak disertai petir, kita tidak usah takut " ucap Alva
"tapi kacanya buram, bisa bisa kamu gak liat jalannya " ucap Windy
__ADS_1
"gak masalah, kamu tenang aja " ucap Alva
Semakin lama hujannya semakin deras, tiba tiba mobil mereka berhenti
"kenapa berhenti disini " ucap Windy
"gak tau, kayaknya mogok" ucap Alva
"mogok, terus gimana dong "ucap Windy
"tau nih mobil, udah hujan pakai mogok segala " ucap Alva
Windy turun dari mobil, dia memeriksa mobil tersebut
"hey apa yang kau lakukan " ucap Alva menyusul Windy
"apa ada kertas amplas " ucap Windy
"benda apa itu, aku tidak mengenalnya" ucap Alva
"semacam kertas, permukaanya kasar" ucap Windy
"aku tidak mengenalnya"ucap Alva
"dasar orang kaya, kertas amplas aja gak kenal" ucap Windy
"jangan salahkan aku, aku tidak pernah melihat benda itu " ucap Alva
Karna tidak ada benda tersebut, Windy hanya mengencangkan kabelnya
"coba stater" ucap Windy
Alva menstater mobilnya, ternyata mobilnya hidup
"mobilnya hidup, ayo naik" ucap Alva
Windy masuk ke dalam, bajunya basah kuyup
"apa kamu belajar otomotif juga" ucap Alva
"tidak, aku hanya mengingat apa saja yang dilakukan papa, jika mobil kami mogok" ucap Windy
"ternyata kamu punya banyak kelebihan " ucap Alva
"itu bukan kelebihan, tapi ketelitian" ucap Windy
"apa kamu kedinginan " tanya Alva
"sedikit, " ucap Windy
"sebentar lagi kita sampai, bersabarlah " ucap Alva
"aku gak apa pa, jangan khawatir " ucap Windy
Mereka sampai di rumah, Windy langsung masuk kamar mandi, dia berendam dengan air hangat, setelah 15 menit dia selesai dengan rutinitas mandinya.
Alva menunggunya di depan pintu kamar mandi, saat Windy keluar dia pun masuk ke dalam melakukan rutinitasnya. Karna sudah kedinginan Alva buru buru, dia lupa membawa handuknya
πwaduh, aku lupa bawa handuk, gimana nih π
πAlva kok lama ya, padahal gak ada suara percikan air lagi, apa dia pingsan karna kedinginan π
tok tok tok
"Al,kamu kenapa lama, kamu gak kkenapa napa kan " ucap Windy
"ambilkan handuk aku Win, aku lupa bawa handuk " ucap Alva
πhah, dia gak bawa handuk, jadi itu alasannya, aku pikir pingsan π
Windy memberikan handuknya tanpa melihat ke arah suaminya
Alva keluar dari kamar mandi, tubuhnya gemetar karna kedinginan
"kamu kenapa gemetar gitu" ucap Windy
"dingin " ucap Alva
Dia berbaring di kasur Tanpa memakai pakaian terlebih dulu
"kamu ganti pakaian dulu, hanya menggunakan handuk pasti makin dingin " ucap Windy
"aku gak kuat lagi " ucap Alva bibirnya ikut bergetar
Windy pergi ke dapur mengambil air hangat, sebelum pergi dia mematikan Ac kamar mereka
πdia meninggalkanku, apa dia tidak peduli padaku, aku kedinginan, aku sangat membutuhkan nya π
__ADS_1