
Queen Telah duduk didepan cermin rias yang ada di depannya sembari mengusap wajahnya yang tampak basah. Sudah satu Minggu berlalu setelah kejadian dimana Edgar telah menawarkan sebuah kesepakatan bersama untuk menikah.
Pagi-pagi sekali, tanpa ada kabar Lelaki itu kembali datang menemuinya. Namun, kali ini dia datang tidaklah sendiri, melainkan dengan dua orang wanita yang saat ini sedang merias dirinya dengan terus mengomel karena dirinya yang terus menangis.
Queen sungguh marasa jengkel dan marah pada lelaki itu, tapi apa daya. Dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Merasa takut jika dia kembali kabur seperti waktu itu, Edgar akan benar-benar membunuhnya.
Queen menghela nafas ketika ingatannya kembali datang, dimana Edgar telah menodongkan pistol dikepalanya saat itu. Jika dia tidak cepat-cepat mengiyakan keinginannya untuk menikah, dia sendiripun tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi.
" Ah.. Sudah beres nona. Sungguh anda terlihat sangat cantik. Iyah kan Mora ?? " Ucap salah satu perias itu pada temannya.
" Hemm. Cantik sekali. Tuan Edgar sungguh pandai dalam memilih seorang istri. " balas Mora.
Queen sama sekali tidak merasa senang mendengar pujian dari mereka. Pasalnya memang saat ini dia sama sekali tidak menginginkan pernikahan itu.
" Baik, nona sekarang ayo kita keluar. Tuan Edgar tidak suka menunggu terlalu lama " tutur Mora
Queen hanya mengangguk kecil. Kini ketiganya telah berjalan keluar dari kamar. Raut wajah wanita itu sungguh tidak menampakkan aura kebahagiaan. Hal itu sedikit membuat kedua wanita yang merias dirinya merasa aneh.
" Yampuunn.. Mewah sekali yah, walaupun acaranya sangat sederhana " Bisik Mora pada rekannya.
Terdengar bisik-bisik lirih yang terus memuji akan selera dan kekayaan yang dimiliki oleh Edgar, namun queen sama sekali tidak merasa tertarik ataupun bangga. Wanita itu bahkan merasakan sesuatu yang sebaliknya.
Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Tuhan untuk ku..
Seorang lelaki paruh baya kini telah menunggunya di depan pintu rumah yang selama beberapa hari ini dia tinggali. Lelaki paruh baya itu tersenyum lembut kearah queen sembari menyodorkan tangannya. Dengan sedikit ragu queen meraih tangan lelaki itu.
" Kamu sangat cantik sekali, Edgar sungguh beruntung mendapatkanmu, nak " ucapnya dengan tiba-tiba membuat queen mengangkat wajahnya yang sedari tadi menatap kearah lantai.
Kini queen dapat melihat sosok lelaki tua tersebut yang tampak begitu tenang. Queen tersenyum ketika merasakan sebuah kedamaian didalam hatinya.
" Ayo ! Edgar sudah menunggumu diatas sana "
Keduanya kini telah melangkah perlahan menuju tempat yang sudah disiapkan untuk mereka mengucap janji suci.
Semuanya telah berjalan lancar. Suara gemuruh tepuk tangan telah ikut serta dalam menyaksikan kedua pasangan yang telah sah menjadi suami istri.
Setelah semua upacara pemberkatannya selesai, queen yang hendak melangkah pergi seketika itu merasakan jantungnya berdegup kencang. Sungguh saat ini seluruh tubuhnya menegang. Merasakan pinggangnya yang direngkuh erat oleh Edgar.
Lelaki itu menatap lekat wajah cantik istrinya. Tanpa ragu lagi Edgar langsung menyambar bibirnya. Queen merasakan sesuatu berdenyut disekujur tubuhnya. Ini adalah ciuman pertamanya. Bahkan dia sungguh tidak menyangka jika Edgar akan melakukannya.
__ADS_1
" Kau sama sekali tidak berpengalaman, yah " ucap Edgar ketika dirinya melepaskan pagutannya
" Hah.. "
Tanpa menunggu lagi, Edgar menuntun queen agar segera turun dan ikut bergabung bersama dengan keluarga besarnya. Tidak disangka dan tidak terduga. Jika seluruh keluarganya juga telah hadir disana.
Rafa dan Alva beserta sang istri tampak tersenyum lebar kearahnya. Mereka telah ikut merasakan kebahagiaan adiknya yang saat ini telah mengakhiri masa lajangnya. Walaupun tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
" Kak afa.. Kak Al " teriak queen ketika maniknya menangkap sosok keluarganya yang berada disudut tempat itu.
Queen yang hendak berlari menghampiri mereka, namun Edgar lebih dulu menahannya.
" Jangan berani berbicara macam-macam !! " Ancam Edgar
Queen menoleh sekilas kemudian berdehem pelan. Setelahnya, dia bebas untuk menemui keluarganya. Kedua kakak dan kakak iparnya. Bahkan keluarga paman dan bibinya pun juga hadir. Queen sungguh merasa bahagia ketika dirinya bisa bertemu dengan mereka.
" Astaga, sayang. Kakak sungguh tidak menyangka jika kamu akan secepat ini menikah. " Ucap Rafa dengan senangnya
" Al, sungguh sangat terkejut ketika mengetahui kabar jika seseorang telah berkunjung kerumah kakak karena memberitahukan jika kalian akan segera menikah " Sahut Al.
Semuanya telah saling berpelukan erat untuk menyalurkan kerinduannya pada adik kesayangannya itu.
Mereka semua saling mengucapkan selamat yang diikuti oleh ungkapan hati yang masih terlalu terkejut mendengar penikahannya.
Queen hanya tersenyum lebar menjawabnya. Walaupun hatinya telah menjerit-jerit menginginkan bantuan. Namun, dia sungguh tidak ingin terjadi sesuatu pada keluarganya itu.
Sedari tadi Edgar terus saja memperhatikan queen dan seluruh keluarganya yang sedang berbincang-bincang. Ada sesuatu yang seakan membuat hatinya tertarik untuk terus memperhatikan hubungan yang terjalin dikeluarga Mark.
Pasalnya dia sama sekali tidak pernah merasakan kehangatan di dalam keluarganya setelah papanya menikah lagi. Memiliki dua adik tiri namun dirinya begitu sangat acuh pada mereka hingga saat ini sudah 20 tahun lamanya.
" Ed, Jangan memandanginya saja.!! Ajaklah mereka bergabung bersama dengan keluarga kita " titah papa Dion
Edgar mengangguk. Kemudian dia segera beranjak dari duduknya, melangkah besar menuju pada istrinya yang saat ini sedang asyik berbincang dengan keluarganya.
***
Kini seluruh keluarga Mark dan keluarga Baldwin telah berkumpul. Memang hanya keluarga dekat saja yang menghadiri acara pemberkatan tersebut.
Mereka tampak begitu antusias satu sama lain untuk mengorek informasi tentang keluarga masing-masing.
__ADS_1
" Aku sungguh tidak percaya, jika kalian adalah anak dari Zayn. " Ucap papa Dion
Rafa tersenyum sembari mengangguk.
" Yah, paman. Saya pun juga sangat terkejut jika paman adalah teman dekat Daddy dan paman leon. " ucap Rafa
" Tolong jaga gadis cantik kami dengan baik, paman. !! Dia adalah kesayangan kami semua " sahut Randy
Papa Dion terkekeh mendengarnya.
" Jangan khawatirkan soal itu, nak Randy. !! Papa sangat senang sekali menerima queen menjadi bagian dari keluarga Baldwin. Karena memang anak papa semuanya adalah laki-laki " Jelasnya
" Edgar bibi titip kesayangan kami, tolong jangan membuatnya bersedih. !! "
Edgar mengangguk kecil sembari melirik kearah queen.
" Tentu, bibi. Edgar tidak akan mungkin membuatnya bersedih. " Ucapnya dengan tegas. Kini lelaki itu meraih tangan queen dan menciumnya lembut.
Queen sungguh muak melihat suaminya itu yang sangat pandai bersandiwara. Sesaat kemudian queen menarik tangannya dari genggaman tangan suaminya.
" Baiklah, sepertinya kami harus segera kembali pulang. " ucap Rafa
Seketika itu menoleh kearah Rafa.
" Kenapa terburu-buru sekali, kak ?? Tidak bisakah besok saja pulangnya. " pinta queen
" Sayang, kakak masih banyak urusan. Lain kali kakak dan yang lain akan main kesini lagi. Iyah kan Al " jelas Rafa
" Hemm... Sekarang sudah ada suami kamu yang akan menemanimu. " sahut Alva
Semuanya hanya tersenyum lebar menanggapinya.
Tanpa menunggu lagi keluarga besar Mark segera beranjak dari duduknya. Mereka saling berpelukan erat sebagai tanda perpisahan. Bahkan queen seakan tidak rela membiarkan mereka semua meninggalkan halaman rumah tersebut.
Queen merasakan kesedihan kembali mengambil alih kesadarannya. Dia tidak memiliki semangat untuk hidup bersama dengan keluarga barunya. Keluarga yang akan menjadi bagian dari hidupnya mulai hari itu.
" Ayo, sebaiknya kita masuk terlebih dulu !! "
Queen yang sedari tadi masih mematung di depan pintu gerbang rumah itu, seketika tersentak kecil ketika mendapati tangannya ditarik paksa oleh suaminya.
__ADS_1
Tbc