Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 27


__ADS_3

Wanita cantik itu tampak melamun menatap wajah suaminya yang berbaring lemah di atas ranjang pasien. Dapat dilihat jika masih terdapat beberapa luka gores yang baru mengering. Sudah dua hari lelaki bertubuh kekar itu terbaring disana setelah melewati masa kritisnya.


Serangan mendadak yang sangat tiba-tiba, bahkan dia sama sekali tidak pernah memperkirakan sebelumnya dan terjadi begitu saja. Sekuat tenaga, dia mencoba untuk mempertahankan keadaannya tanpa dibantu oleh senjata apapun.


Walaupun dia tahu jika musuhnya tidak terlalu kuat. Namun, dia harus menerima ketidakberdayaannya melawan musuh yang memang jumlahnya tidak sebanding dengan dirinya yang sendiri.


Sudah dua hari ini, edgar telah berbaring disana dan belum sadarkan diri. Queen masih setia menemani sang suami dengan keadaannya yang juga melemah akibat kehamilan pertamanya yang bisa dibilang cukup rewel.


" Nyonya, sudah waktunya untuk makan siang. " seru elia


Sejenak queen mengangguk kecil sebelum akhirnya dia memutar lehernya untuk dapat melihat kedua sosok pelayannya. Kedua gadis cantik itu berdiri tidak jauh darinya dengan nouri yang sudah membawa bekal khusus untuk queen.


" Apa kalian juga membawa bekal ? Aku tidak mau jika harus makan sendiri. " ungkap ueen dengan wajah sendu


Wanita hamil itu tampak kacau. Bagaimana tidak, setelah terbangun dari pingsannya dua hari yang lalu, dia harus dihadapkan dengan kabar yang sangat mengguncangkan hati dan pikirannya.


" Hem.. Kami juga membawa bekal, nyonya. Mari kita makan dulu ! Saya tidak ingin kesehatan nyonya dan bayi yang nyonya kandung kekurangan nutrisi seperti kemarin. " tutur nouri


" Baiklah ! Terimakasih, karena kalian selalu mengkhawatirkan aku " ucap queen dengan gerakan tubuhnya yang mulai beranjak dan melangkah menuju sofa yang ada didalam kamar rawat edgar.


Tak ingin membuang waktu, nouri segera menyiapkan menu makanan khusus untuk queen diatas meja. Sedangkan elia juga menyiapkan makanan yang akan dia dan nouri makan.


Ketiganya mulai menyantap makanan yang telah tersaji. Perlahan dan tanpa ragu. Suasana begitu hening. Kedua pelayan queen pun tampak ingin memulai pembicaraan.


Mereka sangat ingin sekali menghibur wanita hamil itu. Merasa iba karena melihat kondisinya yang semakin melemah, bahkan tak bersemangat seperti biasanya.


" Nyonya, makanlah dengan lahap ! Itu kami buat khusus untuk nyonya. Elia juga menambahkan udang di dalamnya. Sesuai dengan makanan kesukaan, nyonya " ujar nouri dengan memasang wajah ramah


Sekilas queen menoleh, senyuman tipis tampak terlihat diwajahnya.


" Terimakasih, kalian sudah membuat masakan yang enak ini. " Ucap queen dengan semakin melebarkan senyumnya.


Namun, sesaat kemudian nouri dapat melihat adanya perubahan dari wajah cantik majikannya itu.


" Nyonya, anda kenapa ? " tanya nouri


Mulut queen mencembung. Menahan rasa yang sungguh menyiksa diperutnya. Dengan cepat wanita cantik itu beranjak dari duduknya. Kini kedua tangannya digunakan untuk menutup mulutnya. Berlari kecil menuju kamar mandi.


Nouri dan elia pun ikut berlari menuju kamar mandi. Keduanya pun tak segan untuk ikut masuk kedalam sana demgan elia yang sengaja mengusap lembut tengkuk queen.


Wanita itu membungkukkan badannya. Mulutnya mulai mengeluarkan seluruh makanan yang baru saja dimakan olehnya.


" Nyonya, anda tidak apa-apa kan ? " tanya nouri yang merasa panik


Queen menggeleng pelan dengan masih tetap diposisinya. Wanita itu kembali memuntahkan isi perutnya yang tampak sudah tak tersisa.


hwwwweekkk


hwwwweekkk

__ADS_1


hwwwweekkk


Merasa sedikit lega, karena rasa mual yang sudah mereda. Perutnya pun juga sudah tak terasa mual. Queen segera mengadahkan kedua tangannya dibawah kucuran air kran yang memang masih menyala sejak tadi.


Membasuh wajahnya beberapa kali hingga dirasa cukup. Nouri dengan cepat mengambil tisu dan memberikannya pada queen.


" Terimakasih "


" Mari saya bantu, nyonya. " tawar elia


" Tidak perlu, elia. Aku masih bisa jalan sendiri. " tolak queen dengan lembut.


Ketiganya mulai melangkah keluar dari ruangan lembab itu. Queen jalan didepan dengan kedua pelayannya yang menyusul di belakangnya.


Setelah queen telah keluar dari sana, kedua matanya membesar seketika. Melangkah besar menghampiri ranjang pasien dengan tersenyum lebar.


" Ed, kamu sudah sadar ? " tanya queen dengan senangnya


Merasa begitu senang bahkan sangat senang. Melihat sosok lelaki kesayangannya telah terbangun dari tidurnya. Queen tak segan memeluk dan juga mencium wajah suaminya berulang kali.


" Aku sungguh mengkhawatirkanmu. " ucapnya disela-sela kesibukannya menciumi wajah suaminya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus disekitar rahangnya.


Lelaki itu hanya tersenyum mendapati tingkah istrinya. Bahkan dia belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya. Namun, dia bisa merasakan betapa hatinya yang menghangat mendapatkan perlakuan seperti itu.


" Sayang, bisa kita lanjutkan nanti. Aku haus " ucap edgar lirih


Seketika itu queen pun bangkit dari posisinya yang saat ini sedang memeluk tubuh suaminya yang masih terbaring.


Dengan cepat queen merain minuman yang ada diatas nakas. Perlahan wanita itu membantu suaminya untuk minum.


" Sudah " ucap edgar. Kemudian queen segera meletakkan kembali gelas berisikan minuman tersebut ditempatnya.


" Apa kamu ingin makan sesuatu, hem ? "


" Buah atau roti ? Atau sesuatu yang lain ? Katakan ! " ucap queen dengan senangnya.


" Tidak.. Aku masih belum lapar " ucap edgar lirih.


" Nyonya, sebaiknya kita lanjutkan dulu makan siangnya " tutur elia.


Queen menoleh kearah dua pelayannya yang saat ini masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


" Tidak elia. Aku akan makan nanti setelah tuan merasa lapar "


" Tapi, nyonya. Anda baru ma..... "


" Elia, tolong ! Aku sungguh akan makan, tapi nanti. Kalian saja yang lanjutkan ! " tukas queen dengan sedikit kesal.


Saat ini dia hanya ingin berada di dekat suaminya. Menatap dan juga memeluk sosok lelaki berwajah keras itu.

__ADS_1


" Baiklah, nyonya ! Kami akan makan diluar saja " ucap elia.


Tak lama kedua pelayan tersebut mulai melangkah mendekati meja yang ada disofa. Mengambil kotak bekal milik mereka, Kemudian segera melangkah keluar dari sana.


" Tolong atur ranjangnya agar sedikit naik ! " pinta edgar.


Dengan cepat queen segera melakukan apa yang diminta oleh suaminya tersebut. Setelahnya keheningan kembali mengambil alih.


Queen masih betah menatap kearah suaminya. Ada perasaan hatu, senang dan juga resah. Hatinya berkecamuk tidak karuan. Dadanya semakin sesak ketika mengingat keadaan suaminya dua hari yang lalu.


Tangan halus queen meraih tangan besar suaminya. Menciumnya beberapa kali dengan masih menatap sendu kearahnya. Dia sungguh binggung memulai menyuarakan isi hatinya.


" Hei, kenapa kamu menangis sayang ? " tanya edgar tiba-tiba.


" Bagaimana kamu bisa sesantai ini, ed ? " tanya queen balik dengan air matanya yang semakin meleleh


Edgar tertegun mendengar penuturan dari istrinya. Seketika itu ingatannya akan kejadian tempo hari, kembali memenuhi isi kepalanya.


" Jangan menangis ! " tutur edgar yang kini mulai menvoba untuk bangkit dari posisinya.


" Kamu jahat, ed. Kamu jahat. Bagaimana bisa kamu membahayakan diri kamu sendiri ? Kamu tidak memikirkan aku dan bayi yang aku kandung. Kamu jahat " ucapnya disela-sela Isak tangisnya.


" Hei.. Sssetttttt.. Ssetttt.. Kumohon jangan menangis lagi, sayang ! " ucap Edgar yang saat ini telah merentangkan kedua tangannya.


Dengan cepat queen segera memeluk tubuh suaminya dengan erat. Bahkan tangisannya semakin pilu.


Mencoba untuk bangun, namun tubuhnya masih terasa sakit. Hingga mau tak mau dia harus tetap berada diposisinya dengan sang istri yang saat ini sedang memeluknya.


" Kamu tahu, aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Aku tidak siap jika harus kehilanganmu. Aku tidak sanggup jika harus membesar anak kita seorang diri. " ucap queen dengan masih menangis didalam pelukan edgar


" Kumohon berjanjilah, ed ! Ini adalah terakhir kalinya kamu berada di dalam bahaya. Setelah ini bisakah kamu meninggalkan duniamu yang seperti ini ? " lanjutnya


Edgar semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya ikut merasakan kepedihan yang saat ini sedang dirasakan oleh istrinya. Dia pun juga merasa sangat bersalah karena telah membawa wanita itu masuk kedalam dunianya yang keras itu.


" Berjanjilah, ed ! Katakan jika kamu akan keluar dari duniamu yang berbahaya ini ! " pinta queen lagi


" Hemm.. Baiklah ! " balas edgar


Seketika itu queen meleraikan pelukannya. Menatap nanar kearah suaminya.


" Aku tidak ingin jawaban yang hanya untuk membuatku merasa tenang. Aku ingin jawaban yang benar-benar sungguh dari dalam hati. " tutur queen


Edgar mengangguk mantap sembari tersenyum.


" Yah.. Aku berjanji sayang. ! " ucap edgar dengan penuh penekanan


Sekali lagi queen kembali memeluk tubuh suaminya dengan erat. Bahkan tangisannya kembali meleleh.


Maafkan aku, sayang. Aku harus berbohong. Urusanku dengan mereka belum selesai. Kuharap, kamu bisa mempercayaiku untuk saat ini.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2