Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 41


__ADS_3

Dua wanita cantik itu kini sedang menyamankan posisinya pada bus yang ditumpanginya. Sudah beberapa jam berlalu setelah kejadian tadi.


Merasa beruntung karena setelah berjalan cukup jauh dan melelahkan, tidak mereka sangka tepat ketika mereka sampai dipinggir jalan sebuah bus melintas.


" Nyonya, apa nyonya lapar ? " tanya elia tiba-tiba.


Queen menoleh.


" Sedikit. " jawabnya cepat.


" Kurasa mulai sekarang kamu tidak perlu lagi memanggilku dengan sebutan Nyonya elia. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan nama saja. Sekarang kita sama. Aku pun juga tidak memiliki kekayaan lagi. " tutur queen.


Elia menggeleng dan tersenyum.


" Saya akan tetap menjadi pelayan, apapun yang terjadi, nyonya. Karena anda sudah banyak membantu saya. Apalagi anda juga memberikan beasiswa pada adik saya. " ucap Elia.


Queen terkekeh.


" Itu dulu, sekarang semuanya berbeda. Aku tidak lagi memiliki uang banyak seperti dulu. Dan sekarang aku juga tidak bisa memberikan gaji padamu. Panggil saja queen, agar nantinya tidak ada yang curiga padaku. " ucap queen.


Elia mengangguk.


" Baiklah. "


Queen tersenyum.


Aku bersyukur karena ada seseorang yang masih perduli padaku. Semoga saja setelah ini tidak ada masalah lagi kedepannya.


" Apa sebaiknya kita turun dulu dipemberhentian berikutnya. Kita cari makan dulu. Anda sangat butuh asupan makanan untuk memberikan baby gerard asi, nyonya. " tutur elia.


" Ehmmm. " Sejenak queen berfikir. Dia sangat takut jika nanti berhenti akan memberikan kemungkinan untuk suaminya dapat menemukan dirinya.


" Apakah perjalanan kita masih jauh ? " tanya queen


" Mungkin kita akan sampai malam hari, nyonya. Tapi, jika kita berhenti beristirahat, bisa jadi pagi kita baru sampai. "


" Sangat jauh sekali. "


Elia mengangguk.


" Tidak ada apapun di tempat tinggal nenek. Tapi nenek selalu menanam apapun itu untuk dimakannya. Jadi, kita tidak perlu pergi ke desa inti untuk berbelanja makanan, nyonya. "


" Queen. Panggil saja, queen elia. " tutur queen.


" Hehehe.. Baiklah nyonya. Eh.. Maksud saya, queen. Ah.. Sungguh tidak enak sekali. "


Kemudian keduanya pun tertawa. Merasakan kini laju bus yang mereka tumpangi semakin pelan. Tak berselang lama kemudian, mobil pun berhenti.


" Aduh, ada apa ini elia ? "

__ADS_1


Elia menggeleng.


" Mungkin busnya mogok. " jawab elia asal.


" Turun dulu, busnya mogok. Ayo turun dulu. " teriak sang sopir bus.


Terlihat beberapa penumpang mulai bangkit dan melangkah keluar sembari terus mengomel. Bagaimana tidak, karena saat ini bus berada di tengah hutan dan jauh dari perkampungan.


Queen dan elia hanya bisa menghela nafasnya. Mereka tidak bisa berbuat apapun saat ini. Perut lapar dan berhenti ditempat sepi sungguh menyedihkan.


Kini baby gerard tampak menggeliat. Mungkin bayi itu sedang lapar atau mungkin sedang ketakutan. Tak berselang lama, dia pun menangis.


" Bagaimana ini ? " tanya queen yang kualahan menenangkan bayinya.


Mungkin saat dia dia sedang takut dan juga merasa lapar, sayangnya asupan asi yang diterimanya tidak bisa membuatnya kenyang.


" Bagaimana jika kita jalan kaki saja, queen. Mungkin kita bisa menemukan sebuah rumah. " tawar elia.


Queen mengernyitkan keningnya. Bukannya dia tidak mau. Tapi sangat mustahil ditengah hutan ada rumah. Pun juga dia merasa takut.


" Ayo, queen ! "


" Baiklah. "


Tanpa diduga oleh keduanya. Tiba-tiba sebuah mobil melintas. Melihat cahaya lampu yang terang elia dan queen pun segera menghentikan langkahnya dan berbalik.


Seseorang turun dari mobil.


" Hei, minggirlah ! Kau mengha..... "


Lelaki itu menghentikan ucapannya. Menatap lekat wajah cantik wanita yang sedang menghalangi jalannya.


" Elia.. " panggilnya.


" Kau mengenalku ? " Tanya elia bingung.


Lelaki itu mengangguk dan kini melangkah semakin mendekat.


" Aku mario. Kau lupa pada tetanggamu ini, hah. Hidup dikota membuatmu melupakan tempat asalamu rupanya. " tutur lelaki yang mengaku bernama mario itu.


Elia menepuk jidatnya.


" Astaga, maafkan aku rio. Sungguh aku tidak mengenali wajahmu. Kini kau cukup tampan. " balas elia.


" Apa kalian sedang mencari tumpangan ? " tanya mario sembari melirik kearah queen.


" Ah, iya. "


Elia tahu jika mario bertanya mengenai queen.

__ADS_1


" Perkenalkan, dia queen. Aku sedang ingin berkunjung ke rumah nenek, ternyata tetanggaku ini ingin ikut bersamaku. Jadi aku mengajaknya. "


" Oh, begitu. Masuklah ! Kurasa bus yang kalian tumpangi akan dalam masa perbaikan hingga nanti. Biar aku antar kalian. " tuturnya.


" Terimakasih, rio. Tapi, kau bisa memberiku tumpangan sampai desa inti saja. Karena kami akan membeli makanan terlebih dulu. "


" Ayo, queen. "


" Yah, baiklah. Aku akan menemani kalian. Sudah lama kita tidak berjumpa, mungkin kita bisa mengobrol sebentar sambil membeli makan. " tawarnya.


Elia mengangguk.


" Yah, terserah kau saja. " balasnya pasrah.


***


Disisi lain. Edgar sedang berada dipuncak amarahnya. Barang-barang berserakan. Tangannya pun tampak terluka. Berulang kali dia melampiaskan amarahnya pada apapun yang ada didepannya.


Louis masih fokus pada layar laptopnya. Masih menelusuri setiap jejak yang mungkin saja tertinggal dari rekaman CCTV.


Sedangkan erick turus menelusuri dan mencari data lengkap mengenai Elia sang pelayan, karena edgar yakin jika istrinya itu kabur sebelum ada penyerangan berlangsung.


Hanya roy saja yang sekarang tidak ada disana. Karena memang roy sedang mengurusi masalah yang ada di Mexico sejak dua hari yang lalu.


" Tuan, alamat rumah Eliana Vanrize tidak ditemukan. Sepertinya dia sedang menyembunyikan identitas yang sebenarnya. " ucap Erick tiba-tiba.


Seketika itu edgar menatap kearah Erick dengan tajam. Nafasnya memburu. Merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Pikirannya pun semakin dibuat kacau.


Sudah satu jam yang lalu pikirannya tidak karuan karena kehilangan jejak sang istri. Dia sama sekali tidak menyangka jika akan menjadi seperti ini jadinya.


Dan sekarang apalagi, pelayan yang diterimanya bekerja selama lebih dari satu tahun itu kini bahkan menggunakan identitas palsu.


" Cek sekali lagi. Jangan sampe salah ! " tutur edgar tegas.


Walaupun kini dia sedang merasa takut dan gelisah, tapi dia masih berharap jika elia yang dia terima bekerja itu adalah orang baik-baik.


Erick pun kembali menatap fokus kearah laptopnya. Mulai mencari dan menelusuri kembali data diri mengenai elia.


" Tuan, Nyonya memang benar-benar pergi menggunakan baju elia. Lihatlah ! Wanita ini yang sedang menuruni tangga dengan membawa keranjang buah. Dia memang benar-benar, nyonya. " ucap louis.


Edgar segera memutar layar laptopnya. Melihat lekat-lekat sosok wanita yang ada dilayar. Kemudian edgar mengepalkan kedua tangannya.


Dia benar-benar melarikan diri dengan bantuan elia. breng**k !! Bikan seperti ini yang aku inginkan queen. Seharusnya kamu bisa sedikit bersabar hingga aku menemukan keberadaan alex.


Masih dalam keheningan. Tiba-tiba saja erick membuka suara kembali.


" Tuan, saya menemukan foto ini. Lihatlah ! Kurasa ini adalah Eliana. Tapi disini seseorang menyebutnya dengan nama Vellencia belle. "


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2