
Beberapa jam telah berlalu.
Queen mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengernyitkan keningnya karena merasa sedikit pusing.
Eeeeeuuuuuuuuuuh
Kini kedua matanya telah terbuka lebar. Masih terdiam. Dia seperti sedang mengumpulkan memori ingatannya sejak beberapa jam yang lalu.
" Dimana aku ? " gumamnya lirih
Sosok lelaki bertubuh kekar menghampirinya. Duduk disampingnya aembari meraih tangannya. Tak segan lelaki itu mencium lembut, mengusap dan menggenggamnya.
Wajahnya tampak redup dan juga bingung. Keduanya masih saling memandang dalam diam.
Bagaimana dia bisa mengetahui keberadaanku ?
" Kenapa kamu ingin kabur, hem ? " tanyanya dengan sangat lembut
" Maafkan aku jika aku telah menyakitimu. Tapi bukan dengan cara meninggalkan aku seperti ini, sayang " tuturnya pun dengan lembut
Merasa tersentuh mendengar tutur kata yang begitu menenangkan. Tanpa diminta air matanya lolos begitu saja.
Queen semakin terisak dalam diamnya. Tubuhnya semakin bergetar karena menangis terlalu pilu.
" Sudah, jangan menangis sayang ! "
Perlahan dia membantu wanitanya agar terbangun dari tidurnya. Dengan cepat dia merengkuh tubuh istrinya itu dengan erat. Dia sungguh tidak ingin kehilangannya. Bahkan dia sendiri tidak tahu apa yang membuat wanita itu ingin kabur darinya.
" Kumohon, jangan kabur lagi seperti ini. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian. Hanya kalian yang saat ini aku inginkan. Tidak ada yang lain " bisiknya
Queen merasa terharu mendengar penuturan dari suaminya tersebut. Hatinya kembali luluh dan menghangat. Namun, seketika itu dia kembali teringat akan apa yang tadi sempat membuat dirinya marah.
" Aku.. Aku mendemgarmu berbicara dengan papa. Aku mendengar semuanya, ed. Jelaskan padaku semuanya ! " ucap queen disela-sela Isak tangisnya
Edgar menegang mendengarkan ucapan istrinya.
Astaga, apa dia sudah mendengar semuanya
Perlahan edgar meleraikan pelukannya. Mengulurkan kedua tangannya untuk mengusap wajah istrinya yang telah basah.
" Katakan padaku, apa yang kamu dengar sehingga kamu berniat untuk kabur ? " tanya edgar dengan lembut
Sungguh lelaki itu meresa penasaran. Walaupun dia kini telah mencintai wanita itu dengan segenap jiwanya. Namun, dia pun juga khawatir jika wanita itu mendengarkan percakapannya dengan papanya tadi.
Queen menatap lekat-lekat wajah suaminya.
" Apa benar kamu menggunakan aku hanya untuk membuat papa dion mengalihkan hartanya padamu, ed ? Apa kamu berniat membuatku hamil hanya agar kamu mendapatkan keinginanmu itu ? "
Edgar menelan ludahnya sedikit berat.
" Kamu menguping pembicaraan kami ? " bukannya menjawab, edgar kembali melemparkan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
Queen hanya diam menatap kearahnya. Hal itu membuat edgar sedikit merasa kesal.
" Katakan, queen ! Apa benar kamu telah menguping pembicaraan kami ? " ucap Edgar dengan suara yang semakin meninggi
Queen tersentak kecil.
" Aku tidak sengaja mendengarnya " balas queen yang juga meninggikan suaranya
Edgar bangkit dari duduknya. Mengusap wajahnya kasar, Kemudian kembali menatap tajam kearah istrinya.
" Apa saja yang sudah kamu dengarkan ? " bentak Edgar
Saat ini emosi queen kembali menguasai dirinya. Wanita hamil itu tampak berusaha untuk beranjak dari tempatnya.
" Kenapa ? Kenapa kamu marah hanya karena aku mendengar semuanya ? "
" Apa kamu takut ? Kamu takut jika aku kabur, papa akan kembali menarik kembali hartanya, iyah ? "
" Kamu sangat senang, bukan. Karena papa telah mengalihkan seluruh kekayaannya padamu. Sudah kuduga jika kebaikanmu padaku pasti ada sesuatu dibalik itu semua. Kamu telah berhasil membohongiku dengan kelembutanmu, ed. "
" Selamat, atas kebahagiaanmu "
Kini queen mulai melangkah pergi. Namun edgar lebih dulu menahannya.
" Apa yang kamu katakan ? Aku benar-benar mencintaimu. " ucap edgar
" Jangan membohongiku lagi ! " ucap queen
" Memang benar, aku telah memimpikan hari ini akan datang. Mengikatmu dengan membuatmu hamil agar papa bisa memberikan permintaanku sejak dulu. Tapi perasaanku padamu benar-benar nyata queen. Aku tidak pernah membohongimu. Percayalah ! " ucap edgar dengan raut wajah sedih
Queen menghempaskan tangan suaminya dengan kasar. Wanita hamil itu merasa kesal mendwngar pengakuan dari suaminya. Dengan cepat dia segera melangkah keluar.
Edgar pun ikut melangkah dengan besar mengejar sosok istrinya yang saat ini sedang di selimuti oleh emosinya.
" Queen, tunggu. Dengarkan aku, sayang ! " ucap edgar
Queen hendak menuruni anak tangga. Namun, tiba-tiba saja langkahnya terhenti sembari tubuhnya yang sedikit membungkuk.
Edgar mengernyitkan keningnya sembari melangkah besar menghampiri istrinya. Dia bisa melihat jika saat ini wanitanya itu sedang memegangi perutnya dengan raut wajahnya yang mengerut seperti sedang menahan sakit.
" Ada apa, sayang ? Kenapa dengan perutmu ? " tanya edgar dengan panik
" Uuhhh.. uuhh... uuhh.. Sakit sekali, ed " ucap queen yang saat ini sedang terlihat menahan sakit
" Sepertinya, kamu akan melahirkan, sayang " ucap Edgar yang dengan cepat diikuti dengan gerakan tubuhnya menggedong wanita itu.
" Uuhh.. Uuhh.. Uuhh.. Eeemmmmmkk "
Queen mencengkram kuat baju bagian atas milik suaminya.
" Tenang, sayang " ucap edgar
__ADS_1
Saat ini lelaki itu telah menuruni anak tangga, demgan cepat dia segera melangkah keluar. Beberapa anak buahnya telah siap menghampiri mereka.
" Ada apa, tuan ? " ucap salah satu anak buahnya dari empat orang yang menghampirinya.
" Istriku akan melahirkan. Siapkan mobil ! " titahnya
" Baik, tuan. "
Tak menunggu lama, kini mobil telah siap untuk membawa mereka pergi menuju rumah sakit.
Setelah kejadian menggemparkan beberapa jam yang lalu, edgar yang baru saja mengetahui jika istrinya pergi ke bandara setelah kepulangan papa dion.
Tak ingin menunggu lama, dia segera memerintahkan beberapa anak buahnya yang lain untuk menyusul istrinya kebandara dan segera membawanya pulang dangan keadaan baik-baik saja.
Saat ini, setelah kejadian beberapa jam tadi. Keadaan bosnya kembali membuat gempar rumah mewah tersebut. Lelaki itu tampak sedang panik melihat sosok istrinya yang sedang kesakitan.
***
" Uuuuhh..eemm.. Uuuhhh.. eeemm.. uuuhhh... "
" Tarik nafas hembuskan. Lakukan berulang kali sebelum saya bilang dorong, ibu jangan mengejan "
" Uuuuhhh.. eemm.. Uuuhhh.. eeemmm.. Uuhhh.. "
" Dorong bu "
" Eeeeeeemmmmmmkkk "
" Sedikit lagi. Lebih kuat. "
" Eeeeeeemmmmmmkkkkkkk "
Ooeekk..Ooeekk.. Ooeekk..
Sosok lelaki yang memang sedari tadi berada disamping ranjang bersaling, dengan posisi berdiri lelaki itu tampak gemetaran. Bahkan dia meresa ngilu melihat istrinya yang dengan sangat kuat mengejan agar anak mereka segera keluar.
Edgar begitu sangat kuat menahan diri untuk tidak berteriak karena merasa tidak tega melihat wanitanya yang sedang merasakan kesakitan.
" Tuan, anda bisa keluar ! Kami akan membersihkan tubuh ibunya " tutur sang perawat
" Heemmm " edgar berdehem dan berusaha untuk tetap tenang
Tak ragu lelaki itu mencium lembut kening istrinya. Sembari tersenyum tipis kearah wanita itu.
" Selamat, sayang. Putra kita telah lahir " bisiknya sebelum dia benar-benar telah keluar dari ruangan tersebut.
Queen tersenyum tipis. Melihat sosok suaminya yang melangkah pergi. Hatinya sungguh sangat bahagia dengan kelahiran putranya.
Rasa sakit disekujur tubuhnya seakan memudar ketika tadi dirinya telah mendengar suara tangisan dari bayinya.
Entah apa yang harus kulakukan setelah ini ?
__ADS_1
Tbc