
Brak brak brak
" Buka pintunya ! Siapapun, tolong buka pintunya ! "
Oek.. Oek.. Oekk..
Mendengar tangisan pilu dari sang buah hati, membuatnya merasa semakin sedih. Ibu mana yang sanggup membiarkan putranya yang sedang menangis.
" Ed, elia. Siapapun itu, tolong buka pintunya ! Aku hanya ingin menggendong putraku. Mungkin dia sedang merindukan aku. "
brak brak brak
Sudah tiga hari queen telah dikurung dikamarnya. Hanya ketika waktu makan saja, beberapa pelayan masuk dan membawakan makanan untuknya. Selain itu, tidak ada seorangpun yang berani masuk atau membiarkan dirinya keluar.
Berulang kali pun dia berteriak ingin dikeluarkan dari sana. Tapi tidak pernah mendapatkan jawaban. Hingga saat ini pun dia masih belum tahu siapa yang sedang merawat putranya.
brak brak brak
" Buka ! Tolong buka pintunya ! "
" Aku hanya ingin melihat putraku. "
Seketika itu dia terdiam. Queen dapat mendengar jika seseorang telah membuka kunci kamarnya. Sedikit ada harapan untuk bertemu dengan putranya.
Ceklek
Sosok lelaki bertubuh tegap melangkah masuk kedalam kamarnya. Seketika itu juga queen merasakan ketakutan.
" Kamu selalu saja berisik. " ucapnya seraya menutup pintu dan menguncinya kembali.
" A-aku hanya ingin bertemu dengan putraku, ed. Dia sedang menangis tadi. Mungkin dia sedang merindukan aku. " ucap queen.
Aku pun juga sangat merindukanmu. batin edgar.
Setelah memasukkan kunci kamarnya kedalam kantong celana. Edgar pun kini melangkah mendekat sembari membuka jas yang dipakainya.
" Lakukan tugasmu sebagai seorang istri dan kau pun bisa melakukan tugasmu yang lain sebagai seorang ibu. " ucap edgar.
Seketika itu queen menggeleng. Ada rasa rindu, tapi juga ada rasa kesal.
Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu ? Dia benar-benar licik. batin queen.
" Aku tidak mau. Kamu sudah memiliki tunangan. Lalu untuk apa kamu mengingatkan tugasku lagi. Aku hanya ingin menemui putraku. " ucap queen dengan kesal.
Edgar pun kembali melangkah. Semakin mendekati istrinya, namun queen pun ikut melangkah mundur menghindari suaminya.
Masih saling menatap satu sama lain. Queen merasakan tubuhnya meremang saat kini kakinya telah menubruk sisi ranjang.
" Kamu mau apa ? " tanya queen.
" Bukankah, kau sudah memiliki wanita lain yang lebih cantik dariku. Kenapa ? Kenapa kamu tidak menemuinya saja ? "
Dia bisa melihat jika saat ini suaminya sedang melepaskan pakaiannya. Hingga kini dia bisa melihat tubuh kekar suaminya.
" Apa yang akan kau lakukan, ed ? "
" Stop ! Stop aku bilang ! "
Tidak ada niatan untuk menjawab, karena saat ini dia begitu sangat kuat untuk tidak segera menyalurkan hasratnya.
__ADS_1
Kedua mata edgar pun kini telah berkabut. Sejak kemarin dia sudah menahannya. Sehingga pagi ini dia segera datang dan menemuinya.
Queen menggeser tubuhnya kesamping. Masih terus melangkah mundur. Hingga pada akhirnya dia pun tak bisa lagi menghindar dari edgar yang terus saja mendekat karena kini dirinya sudah mencapai sisi dinding.
Edgar pun tersenyum tipis. Melihat sosok istrinya yang terlihat begitu menggoda dengan hanya menggunakan gaun tidurnya.
Wanita itu selalu sukses membuat dirinya tidak bisa menahan. Miliknya selalu saja bereaksi saat berada dekat dengannya.
" Aku tidak bisa menahannya lagi. " gumam edgar.
Sejurus kemudian, lelaki dengan cepat mendekati istrinya. Menarik tengkuknya dan segera membenamkan bibirnya. Memagutnya dengan rakus.
Edgar semakin menghimpit tubuh istrinya. Dia tak sedang mencengkram kuat tangan queen yang sejak tadi memukulnya.
Wanita itu terus memberontak. Merasa kesal dan juga tidak terima. Baru saja beberapa hari yang lalu dia telah mengingatkan status dirinya. Lalu sekarang apa ? Datang tiba-tiba dan menanyakan masalah tugasnya sebagai seorang istri. Sungguh tidak mengerti.
EEeeummmccctt.. Eeuimmmmcctth..
Merasa tubuh istrinya yang semakin memberontak, membuat edgar pun semakin meradang. Semakin membenamkan bibirnya, hingga membuat sang istri kualahan.
hhhhhuu. hhhhuu. hhhuuuu.
Keduanya saling melepaskan pagutannya. Dada mereka naik turun. Saling merebutkan asupan udara.
Dengan kekuatan yang dimiliki oleh queen, wanita itu segera mendorong tubuh suaminya agar menjauh.
Sayang sekali. Yang terjadi hanya membuat suaminya sedikit terhuyung kebelakang tapi tidak merubah posisinya.
Edgar pun segera menarik tangan queen dan menariknya menuju tempat tidur. Segera menghempaskan tubuh istrinya diatas tempat tidurnya. Dengan cepat queen bangun. Rasanya dia sangat tidak rela jika harus melakukan hubungan dengan suaminya setelah kejadian tempo hari.
" Aku tidak ingin melakukannya, ed. Jangan memaksaku ! " ucap queen yang hendak melangkah pergi.
Namun, edgar lebih dulu berhasil menahannya. Kembali menarik tangannya dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Tak ingin gagal, edgar pun segera menindihnya. Tak ragu merobek gaun tidur yang masih dikenakan oleh istrinya.
Kkrrrreeeaaakkkkkkttt
" Hah.. " pekik queen.
Edgar pun segera mencumbunya. Membiarkan sang istri yang sedang marah. Bertubi-tubi memberikan ciuman pada wajah dan tubuh bagian atasnya. Seakan menggila dibuatnya.
Queen terus memukul dan memberontak, yang terjadi bukannya edgar menghindar melainkan semakin mencumbunya. Tidak memberikan kesempatan istrinya untuk kabur.
Edgar sungguh bisa membuat queen tidak berdaya. Setiap sentuhan lembut yang dilakukannya bisa membuat queen meleleh. Beberapa menit edgar masih tidak ingin berpindah dari tempatnya. Menjamah dan mencumbu setiap jengkal bagian tubuh istrinya.
Masih mengagumi bagian atas tubuh istrinya dan queen pun kini tampak sudah pasrah. Edgar benar-benar berhasil membuatnya terhanyut kedalam sentuhannya.
Melihat sang istri yang kini tampak menikmati kelakuannya. Dengan cepat edgar pun melepaskan celananya. Tidak ingin membuang waktu lagi, dia segera menyatukan diri dengan istrinya.
Pergulatan panas itu pun terjadi setelah sekian hari saling menahan. Perasaan kesal dan amarahnya kini mereka salurkan di dalamnya.
Tak bisa dipungkiri lagi jika saat ini edgar begitu sangat terlena. Memimpin setiap gerakan yang dia lakukan dengan perasaan yang menggelora. Tersenyum tipis ketika melihat sang istri yang sudah tidak berdaya.
Kali ini edgar tidak akan melewatkan kesempatan untuk menggauli istrinya hingga dirinya merasa cukup.
***
" Kau benar-benar berng**k, ed. " umpat queen.
__ADS_1
Wanita itu kini masih terbaring lemas diatas tempat tidurnya. Mendekap erat selimut yang menutupi tubuh polosnya. Begitu sakit dan merasa terhina oleh sikap suaminya.
Baru saja beberapa menit yang lalu mereka melakukan aktivitas ranjang hingga berulang kali, dan kini sang suami telah kembali memakai pakaiannya.
" Kau harus membiasakan diri untuk melayaniku ketika aku datang, sayang. Ingatlah jika aku masih berstatus sebagai suamimu. " ingat edgar.
cih.
" Suami macam apa yang kau katakan. Aku tidak lagi menganggapmu sebagai suami mulai detik ini. " teriak queen.
Edgar yang saat ini sudah rapi dengan pakaiannya tadi, segera melangkah mendekati istrinya. Tidak ada perasaan kesal ataupun marah. Menyeringai tipis.
" Apa kau ingin aku mengingatkan posisimu saat ini, queen? Aku yang berkuasa disini. "
Melihat edgar melangkah mendekatinya, queen pun menggeser tubuhnya. Mencoba menghindar dari suaminya.
" Seharusnya kau tidak perlu lagi datang padaku. Bukankah kau sudah memiliki wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi istrimu. " ucap queen dengan kesal.
" Yah, kau benar sayang. Aku akan memiliki dua istri sebentar lagi. Jika rere sibuk dengan pekerjaannya, aku bisa menghampirimu seperti saat ini. Bukankah begitu lebih bagus ? " balas edgar santai.
" Breng**k. Kamu benar-benar breng**k. "
" Jangan membohongi dirimu sendiri, sayang. Aku tahu jika kamu juga sangat menikmatinya. " tutur edgar sembari tersenyum mengejek.
Edgar sekilas melirik jam yang melingkar di tangannya.
" Baiklah, sepertinya aku harus segera pergi. " lanjutnya.
Lelaki itu kini tampak berbali. Namun, dia kembali menghentikan langkahnya. Memutar sedikit lehernya.
" Mulai besok. Pintu kamarmu tidak akan terkunci lagi. Dan satu lagi. Kau harus membiasakan diri untuk melayaniku ketika aku datang. "
Setelah itu, edgar pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Mengambil kunci kamarnya dan segera membukanya untuk segera pergi dari sana.
Edgar pun kini telah meninggalkan queen sendiri di dalam kamarnya. Wanita itu sedang merutuki kebodohannya. Merasa jijik pada dirinya sendiri yang tadi ikut menikmati pergulatan panas mereka.
" Bodoh.. Bodoh.. Seharusnya tadi aku berlari kedalam kamar mandi. Aku sekarang seperti seorang ja**ng. Edgar benar-benar breng**k. "
Queen menangisi keadaannya. Hatinya sangit. Tidak terima dan juga marah. Tapi dia bisa apa ? Tenaganya sudah pasti kalah dibandingkan dengan suaminya.
Masih menangis. Dia tidak bisa berfikir jernih sekarang. Namun, satu hal uang dia rasakan yaitu sangat marah dan sangat membenci suaminya. Walaupun tidak bisa dipungkiri jika dirinya pun juga sangat merindukan sosoknya. Lelaki yang menyayangi dirinya dan selalu menjaganya.
" Aku harus mencari cara agar bisa kabur dari sini. Entah ini sandiwara atau bukan, yang pasti aku tidak ingin terkurung disini. "
***
Edgar sudah merasa lega karena hasratnya yang sudah tersalurkan. Walaupun melihat istrinya yang tampak begitu marah padanya, dia sama sekali tidak merisaukannya. Mungkin lebih baik seperti itu daripada melihat istrinya yang sedang ketakutan atau merasa khawatir.
Berjalan santai. Hatinya kembali berbunga dan dia kembali bersemangat untuk melanjutkan misinya. Kini lelaki itu tampak sedang menuruni anak tangga.
Sosok wanita cantik telah menunggunya sembari bersendekap. Menatap tajam dan penuh selidik.
" Aku sungguh tidak habis pikir denganmu. Aku menunggumu hingga berjam-jam dan kau menghabiskan waktumu untuk bersenang-senang dengan istrimu. "
Hahahha
Edgar tertawa renyah.
" Oke, maafkan aku. Sekarang ayo kita berangkat ! " ucap edgar menanggapi.
__ADS_1
Setelahnya, mereka pun segera melangkah pergi dari rumah mewah itu. Masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Hingga membuat edgar harus memutuskan sesuatu hal yang sangat berat baginya.
Tbc.