
Air matanya mengalir deras. Darah segar pun kini tampak mengalir, namun tidak sederas air matanya. Perih, itulah rasanya dan kini terasa semakin menyiksa.
Merasakan kepalanya yang sangat sakit, kini dia pun harus merasakan sakit di pipinya. Sungguh lengkap sekali penderitaannya.
" Hiks.. hiks.. Elia, jangan ! Maafkan aku, tolong lepaskan aku ! Aku tidak ak.. aaaaaaauurrggh... " ucapnya terpotong Karena dia terpekik merasakan sakit pada kepalanya.
" Aku ingin kau merasakan apa yang dirasakan oleh kakakku, queen. Bahkan kau sangat menikmati hari-harimu sebelum dia mencampakkanmu. Kau tidak pernah tahu jika ada seorang wanita sedang meratapi nasibnya disaat kau sedang bersenang-senang. " ucap elia.
Wanita itu hendak mengarahkan kembali pisaunya, namun queen lebih dulu mendorongnya. Tubuhnya terhuyung kebelakang dan pisau pun terlempar. Tapi salah satu tangannya masih tidak terlepas dari rambutnya.
" Aaaaaaauurrggh.. " queen kembali merasakan sakit saat tubuh elia terhuyung kebelakang dengan menarik rambutnya.
" Dasar wanita tidak tahu diri. "
" Mario, pegang tangannya ! " teriaknya.
" Valen, sadarlah kakakmu sudah meninggal. Semuanya sudah berlalu. Jangan kamu lampiaskan kekesalanmu pada wanita ini ! " tutur mario yang merasa iba.
Luka memar akibat tamparan dan pukulan elia masih terlihat jelas diwajah queen. Bahkan kini bukan hanya luka memar saja yang terlihat, tapi juga luka akibat goresan pisau kecil tersebut.
" Diamlah dan pegang tangannya ! Aku ingin memberikan sedikit lukisan lagi. " bentaknya pada mario.
" Valen " ucap queen sambil menatap lekat wajah elia.
Hahahahaha
" Kenapa wajahmu itu, nyonya ? Namaku memang valen, bukan elia. " ucapnya dengan tersenyum senang karena melihat queen yang terkejut.
" Jangan melihatku seperti itu ! "
" Lepaskan ! Lepaskan aku ! Tolong ampuni aku elia.. ! " pinta queen dengan air matanya yang bercucuran.
Mario kini sudah menggenggam kedua tangan queen. Dan elia segera mengambil pisaunya kembali.
" Sebaiknya ikat saja tangannya agar dia tidak bisa melawan. " titah elia dengan kembali mencengkram kuat rambut queen.
" Valen, kurasa semuanya sudah cukup. Dia tidak tahu menahu soal hubungan kak valerie. Kasihan dia masih memiliki bayi. " tutur mario yang merasa kasihan melihat queen yang terus disiksa oleh sepupunya itu.
Ingin menolongnya, tapi disisi lain keduanya sudah merencanakan ini jauh-jauh hari lalu kenapa dia harus mengacaukan semuanya.
" Cepat mario ! Apa yang kau pikirkan ? Wanita ini adalah penyebab kak valerie mengakhiri hidupnya. " ucap elia dengan amarah yang semakin tersulut.
" Cepat ikat tangannya ! " titahnya sekali lagi
" Iyah, tunggu sebentar. "
Mario mengambil tali yang ada disekitar sana. Segera mengikat tangan queen kedepan.
" Jangan ! Tolong ampuni aku ! Jangan sakiti aku ! " ucap queen memelas.
" Maafkan aku, nona. " bisik mario.
__ADS_1
Melihat kedua tangan queen yang sudah terikat, elia kembali meminta sesuatu pada sepupunya itu.
" Ambilkan kursi untuknya ! "
Kini mario pun segera melangkah keluar untuk mengambil kursi. Ada perasaan tidak tega namun dia juga tidak memiliki keberanian melawan elia yang dia kenal adalah wanita yang kejam.
Sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi. Mario yang sedang mengambil kursi pun tampak merasakan hatinya yang tergugah.
" Bagaimana ini ? Apa aku menolong wanita itu demi bayinya ? Tapi bagaimana dengan valen ? " ucapnya.
Pikirannya buntu. Tidak memiliki keberanian untuk melawan. Perlahan dia pun segera melangkah kembali menghampiri sepupunya dan queen yang berada digudang.
" Ini kursinya. "
" Letakkan disana ! " tunjuk elia.
" Valen, bayinya menangis. Biarkan wanita ini memberinya asi terlebih dahulu. " sarannya pada elia.
Bukannya menjawab elia hanya melototkan matanya.
" Kau juga ingin seperti wanita ini, yah ? Cepat letakkan kursi itu disana ! " teriak elia yang merasa geram pada sepupunya.
" Jika kau berniat untuk membantunya, kau akan tahu sendiri apa yang akan aku lakukan padamu nanti. " ancamnya.
Dengan patuh mario pun segera meletakkan kursi yang dibawahnya itu ditempat yang kosong.
Dengan kasar elia menarik rambut panjang queen agar dia mengikuti langkahnya. Dengan masih merintih queen mulai melangkah.
Dia tahu, jika rumah kecil itu berada di sekitar perkebunan anggur. Tidak ada pemukiman warga yang tinggal disekitar sana. Jadi dia hanya bisa memohon belas kasihan padanya, karena merasa tidak memiliki harapan untuk bisa pergi dari rumah kecil itu dengan mengharapkan pertolongan.
Hahahahah..
" Itu yang kuharapkan. Menyiksa kalian berdua hingga kau sendiri yang menginginkan kematian untukmu dan putramu. " ucapnya santai dan perlahan berubah menjadi serius.
Queen lagi dan lagi hanya bisa menggeleng dan menangis. Tidak ada harapan dia untuk kabur, apalagi selamat. Tidak akan mungkin ada seseorang yang datang karena saat ini langit sudah menggelap.
" Duduk ! " bentaknya.
Takut, sangat takut. Kali ini yang dia pikirkan adalah putranya. Memikirkan jika bayi gembul itu pasti merasa lapar. Berharap dalam hati ada seseorang malaikat yang menolongnya dan juga putranya.
Queen pun dengan patuh duduk dikursi. Saat ini dia tidak memiliki pilihan lain selain menurut pada wanita itu. Wanita yang selama beberapa bulan belakangan selalu ada untuknya tapi kini dia telah berubah menjadi monster.
" Kau ingin merasakan sakit perlahan atau sakit yang luar biasa ? "
Queen hanya menggeleng.
" Aku akan menunjukkan dimana kakakku menyakiti tubuhnya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk gantung diri. " bisik elia.
" Jangan elia ! " pinta queen.
Elia meraih tangan queen, mengusap perlahan pergelangan tangannya. Menatap queen dengan tersenyum lebar. Merasakan tubuhnya yang saat ini gemetaran.
__ADS_1
" Apa kau takut, nyonya ? " tanya elia.
Queen tidak menjawab. Dia hanya menangis tubuhnya meremang merasakan ketakutan. Bayangan buruk tentang keadaannya sebentar lagi sudah bisa digambarkan oleh otaknya.
Perlahan pisau itu digoreskan pada pergelangan tangannya. Queen memekik merasakan sakit. Semakin sakit ketika elia semakin menekannya.
" Aaaaaaaaaarrrrrrrggggh "
Plak..
" Jangan berteriak, bodoh ! Nikmati saja ! " bentaknya.
" Elia jangan ! Bagaimana dengan putraku ? Tolong jangan lakukan ini padaku ! Akan kulakukan apapun yang kamu mau, tapi tolong lepaskan aku ! " pinta queen disela-sela Isak tangisnya.
hahahaha..
" Setelah aku membunuhmu, aku juga akan menyiksanya. Memberikan dagingnya pada anjing liar. "
Mendengar itu, queen semakin terisak dalam kesakitannya. Seakan tidak ada lagi harapan untuk dia bisa melanjutkan hidupnya. Menatap kearah mario yang saat ini hanya terdiam, membuat queen semakin mengasihi dirinya sendiri.
Tuhan.. Kirimkanlah malaikat penolong untukku dan juga putraku !
Tanpa disadari oleh queen jika saat ini elia sudah menggoreskan pisaunya pada tangan yang lainnya. Mengatupkan bibirnya agar tidak berteriak.
Menahan dengan sangat kuat rasa sakitnya. Membiarkan kedua tangannya yang terasa nyeri dengan darah yang bercucuran.
" Nikmatilah setiap rasa sakitnya, nyonya. " bisik elia lagi sembari menyeringai.
Kini queen pun bisa merasakan jika kepalanya sedikit pusing. Matanya mulai berkunang-kunang. Semakin redup , namun queen masih mencoba untuk tetap bertahan dari kesadarannya.
" APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIKU VALENCIA..... ? " teriak seseorang yang baru saja datang.
Wajahnya memerah dengan emosinya yang saat ini meningkat hingga kelevel tertinggi. Langkah besarnya menuju kearah dua wanita itu. Tak lama kemudian tubuh queen terhuyung kedepan dan terjatuh.
Brrruukkk..
Tak segan lelaki itu mengambil dan mengarahkan senjatanya kearah elia. Tidak sempat menghindar ataupun memohon, lelaki itu segera menarik pelatuknya tepat dikepala.
Dor
Dor
" Jangan tuaann ! " teriak mario..
Lelaki itu memutar tubuhnya. Dan tidak segan untuk langsung menarik pelatuknya kearah lelaki itu. Dia sudah tidak memiliki kesabaran lagi saat melihat kondisi istrinya yang sudah tidak berdaya.
Dor
Dor
Tbc.
__ADS_1