
"Ed, kamu yakin akan pergi."
Langit diluar masih tampak gelap, namun sepasang suami istri itu terlihat tidak memperdulikannya. Seakan tidak merasakan kantuk, sang istri yang terus bertanya sembari mengikuti setiap gerak yang dilakukan oleh suaminya.
Khawatir akan keadaan suaminya, namun tampaknya lelaki itu tak menghiraukan kekhawatiran istrinya. Bahkan dia terlihat begitu antusias untuk berangkat saat itu juga.
"Iyah, sayang. Aku sangat yakin. Semuanya sudah siap."
Masih sibuk memasukkan beberapa pakaiannya. Queen tampak begitu khawatir pada suaminya itu. Baru satu jam yang lalu roy menghubunginya dan lima menit yang lalu ganti erick yang menghubungi suaminya.
Hingga lelaki itu pun memutuskan untuk segera mengurus sendiri masalah perusahaannya yang baru saja dibangun di negara roma. Yang Edgar ketahui saat ini, jika perusahaan yang ada disana sebagian telah roboh. Bahkan banyak para pekerja bangunan yang terluka.
"Apa tidak sebaiknya menunggu kabar dari roy atau erick saja?" bujuk queen.
Edgar kembali menggeleng.
"Aku ingin melihatnya langsung. Bagaimana bangunan itu bisa roboh. Sebodoh apa arsitekku sehingga membuat bangunan itu roboh." ucapnya sembari menggeram kesal.
Queen menghela nafas. Dia sungguh khawatir pada lelaki itu. Berniat ingin mencegahnya, namun kenyataannya lelaki itu sangat keras kepala.
"Baiklah, aku hanya berpesan semoga semuanya lancar dan lekaslah kembali." pinta queen.
Edgar menutup kopernya. Kemudian beranjak dari duduknya dan segera memeluk tubuh istrinya. Memeluknya cukup erat. Bahkan dihari bahagianya, wanita itu harus merelakan suaminya untuk pergi. Entah berapa hari lelaki itu akan pergi, dia pun tidak tahu.
"Aku takut, ed. Bagaimana jika terjadi sesuatu nanti?" ungkap queen.
"Tidak akan. Aku sudah menambahkan 20 penjaga lagi di sekitar sini. Tenanglah!" edgar mencoba menenangkan perasaan istrinya.
"Aku akan mengurus semuanya dengan cepat agar bisa segera kembali." lanjutnya.
Lelaki itu menangkupkan kedua tangannya. Membawa wanita itu semakin mendekat. Mencium lembut bibirnya. Terbuai. Melayang. Terasa begitu nikmat. Namun, sekejap saja semuanya berlalu.
"Baiklah, sepertinya aku harus segera berangkat." ucapnya.
Queen meneteskan air matanya. Mengalir tanpa dia minta. Edgar tertegun. Namun, menepis kekhawatirannya.
"Jangan menangis,sayang! Aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Setelah itu kita bisa merayakan ulang tahunmu."
Queen mengangguk
"Mencium harum pedesaan. Aku sangat ingin sekali, ed." ungkap queen.
"Siap. Aku akan menyiapkan semuanya setelah masalah ini selesai. Kita bisa datang dan tinggal di rumah paman petter, bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
"Mungkin akan sangat menyenangkan." balas queen dengan tersenyum senang.
Ciuman hangat mendarat di keningnya. Sedikit lama. Sepertinya tampak berat meninggalkan istrinya, namun apa mau dikata jika saat ini dia harus profesional dalam menjadi seorang pemimpin perusahaan.
"Tiga hari. Jangan terlalu lama atau kamu tidak bisa melihatku lagi." ucap queen.
Wanita hamil itu tampak sedikit terkejut dengan perkataannya sendiri. Kalimat itu seakan keluar sendiri tanpa dia saring.
"Apa yang kamu katakan, hem? Aku pasti akan pulang lebih cepat."
Memeluknya sekali lagi. Sedikit erat dari pelukannya tadi. Kemudian Edgar kembali mendaratkan bibirnya dipuncak kepala queen.
Perlahan melangkah menghampiri putranya. Mencium kening bocah itu yang saat ini sedang terbuai oleh mimpinya.
"Aku akan mengantarmu hingga depan." ucap queen.
Edgar mengangguk kemudian mengangkat tangan kanannya. Merangkul bahu istrinya. Dengan queen yang merangkul pinggang suaminya. Edgar membawa kopernya keluar dari kamar dengan masih merangkul pundak istrinya.
Masih saling mempertahankan pelukannya. Mereka berjalan menuruni anak tangga. Wanita hamil itu seakan tidak rela melepaskan suaminya untuk pergi.
Di depan pintu utama.
Queen melambaikan tangannya. Lemas. Hatinya gelisah. Mobil yang membawa suaminya kini telah menghilang di baling gerbang yang tinggi menjulang.
Perlahan queen mulai berbalik dan kembali melangkah masuk. Menahan gejolak yang ada dihatinya. Berusaha keras untuk tidak merasa khawatir. Pada kenyataannya memang sangat banyak sekali orang-orang bertubuh kekar.
***
Langit cerah begitu terlihat nyata. Namun hal itu tidak menjamin perasaan setiap orang akan sama dengan keadaan pagi itu. Queen terdusuk di kursi panjang dihalaman belakang.
Sesekali tersenyum dan melambaikan tangannya. Melihat tingkah laku putranya yang saat ini sedang asyik berenang di kolam renang bersama dengan dua orang pelayan.
"Mommy kemarilah! kita berenang bersama." pinta Gerard dengan suara keras.
Queen menggeleng.
"Mommy sedang tidak ingin berenang, sayang."
Duduk santai dipinggir kolam. Sembari mengusap perutnya yang mulai buncit, wanita itu masih merasakan kegelisahan. Namun, dia hanya bisa tersenyum saat ini. Menutupinya dengan begitu baik.
Beberapa menit berlalu, queen terlihat melamun. Namun sesuatu yang basa dan dingin terasa nyata di tangannya. Seketika itu queen tersadar dari lamunannya. Menoleh sekilas ke arah gerard yang kini sedang menarik tangannya.
"Ayo mommy! Kita berenang bersama. Aku ingin berenang bersama mommy dan juga adik bayi." ajaknya.
__ADS_1
Masih menarik tangan queen. Pada akhirnya, wanita hamil itu pun mengangguk. Mulai beranjak dan segera menceburkan dirinya ke dalam kolam tanpa mengganti pakaiannya.
Keduanya terlihat begitu senang. Gelak tawa nyaring terdengar jelas. Bahkan tanpa mereka sadari jika saat ini ada dua orang yang sedang memperhatikan mereka.
"Dia memang sangat cantik." ucap salah satunya dan di angguki oleh temannya.
***
Disisi lain, ditempat lain pula. Sejumlah orang, sekitar 50 oran sedang berdiri di depan dua orang pria. Mereka menyerukan misi pada penyerangan kali ini.
Berteriak dan berseru dengan keras. Hanya beberapa menit saja. Semuanya pun semuanya kembali bubar. Tak lama kemudian terlihat dua truk bersar datang memasuki pekarangan rumah mewah tersebut.
"Ambil semua senjata. Kalian bebas memilih. Kali ini habisi mereka tanpa sisa. Aku akan masuk setelahnya. Mengambil alih kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki oleh edgar." teriaknya sebelum mereka beranjak pergi.
Senyuman mematikan telah menghiasi wajahnya. Lelaki tampan itu menoleh kesamping dimana seseorang telah menepuk bahunya.
"Kamu yakin akan menyerang besok lex?" tanya felix.
Masih tersenyum, kemudian dia mengangguk mantap.
"Tentu saja. Kau meragukanku? Aku sudah menyusun rencana ini sejak lama. Sekarang waktunya aku untuk bertindak. Menyudahi kebahagiaan yang mereka miliki." jawab alex santai.
"Baiklah, semoga sukses. Aku menunggu kabar baiknya. Bagaimana dengan wanita cantik itu?"
Alex menggeleng.
"Dia sedang hamil. Aku tidak suka dengan wanita hamil."
Felix tertawa kencang. Merasa lucu mendengar penuturan dari rekannya itu. Namun dia merasa sangat penasaran dengan wanita yang menjadi suami edgar itu.
"Aku akan ikut bersamamu." ucap felix.
Alex mengernyitkan keningnya. Ada sesuatu yang kini sedang menarik perhatiannya.
"Kenapa? Bukankah kau besok akan ke madrid untuk mengurus Istrimu?" tanya alex.
Terkekeh kecil.
"Aku hanya ingin melihat wanita hamil itu."
"Kau sudah melihatnya lewat foto, apa belum cukup?"
"Aku tidak akan puas jika belum bertemu secara langsung." jawab felix.
__ADS_1
Kemudian keduanya kembali mengeluarkan suara nyaring. Gelak tawa itu mewakili perasaan bahagia kedua lelaki itu.
Tbc.