
"Sayang... bangunlah!" bisik edgar.
"Jangan...."
"Tolong lepaskan!"
"Sayang bangunlah!" bisik edgar lagi.
Edgar mengguncangkan tubuh istrinya sekali lagi. Sudah beberapa hari terakhir ini wanita itu sering kali mengganggu tidurnya dengan teriakannya yang tidak jelas.
"Hei... sayang. Bangunlah!"
Seketika itu queen membuka matanya lebar-lebar. Edgar sedikit kuat saat mengguncangkan tubuhnya. Terkejut dan juga terengah-engah. Entah apa yang sedang dimimpikan olehnya, namun saat ini wanita itu tampak ngos-ngosan seperti habis lari maraton.
Queen menoleh ke arah suaminya.
"Ed...."
Wanita hamil itu segera memeluk tubuh suaminya. Menangis. Dia menangis didalam dekapan suaminya. Edgar pun membalas pelukannya sembari mengusap lembut punggungnya.
"Tenanglah! Aku disini." bisik edgar.
"Aku takut, mimpi itu kembali lagi." ucapnya sambil terisak.
Edgar merasakan hatinya bergemuruh. Antara kesal dan juga takut. Merasa jika istrinya itu memiliki kelebihan, namun dia sungguh muak jika harus menghadapi istrinya yang seperti sedang diteror oleh kelebihan itu sendiri.
"Hei, jangan begini! Itu hanya mimpi. Tidak akan mungkin menjadi kenyataan."
Queen meleraikan pelukannya. Menatap nanar ke arah suaminya. Merasa kesal karena menganggap mimpinya tidak akan menjadi nyata. Bahkan sudah beberapa kali dia menyaksikan sendiri jika istrinya itu mengerti akan sesuatu hal buruk yang akan terjadi pada keluarganya.
"Bagaimana jika mimpi itu menjadi nyata, ed? Ada segerombolan orang bersenjata, dan semuanya... Hiks... hiks... hiks... Pokoknya aku tetap ingin pindah ed. Biarkan aku dan gerard pindah. Tidak masalah jika kami akan tinggal di desa." ungkap queen dengan perasaan takut.
"Hei... Tenanglah sayang! Kamu sedang hamil. Ingatlah dengan kandungan mu. Bagaimana jika kita tinggal di desa dengan keadaan kamu yang hamil besar. Itu akan sulit bagi kita untuk ke dokter."
Queen menggeleng. Dia sungguh takut. Tidak ingin dibantah lagi. Dia benar-benar ingin pindah dari rumah itu.
"Aku ingin kita pindah, ed. Hidup tenang di perkebunan. Aku sungguh takut." ungkap queen masih terisak.
Edgar kembali memeluk istrinya. Dengan penuh kesabaran dia mencoba meluluhkan perasaan wanita hamil itu. Sering kali kualahan saat menghadapinya, namun edgar kini menjadi lebih sabar dari sebelumnya.
"Tenanglah, aku akan menambahkan orang untuk menjaga kalian dari hal buruk yang membuatmu takut seperti ini, okey." ucap edgar.
Sudah seringkali mereka bedua beradu mulut karena queen yang meminta untuk pindah rumah di pedesaan. Namun, tetap saja edgar bersikukuh untuk mempertahankan rumah keluarganya itu dwngan alasan tidak ada lagi yang akan merawatnya selain dirinya.
"Cukup! Sekarang kita kembali istirahat. Pasti princess ku juga masih mengantuk." ucapnya lagi sembari mengusap lembut perut buncit istrinya.
Membuang nafas kasar. Kemudian queen pun menurut Ketika suaminya membawanya untuk tidur kembali. Lelaki tampan itu segera memeluk tubuh istrinya. Memberikan ciuman sayang dipuncak kepalanya beberapa kali.
__ADS_1
Ada perasaan takut yang kini semakin membelenggu di dalam hatinya. Namun, edgar selalu menepis perasaan itu. Dia terus meyakinkan dirinya bahwa mimpi itu hanyalah bunga tidur.
****
Senyuman cerah kini terpancar dari raut wajah queen. Setelah terbangun ditengah malam, melawan rasa kantuk dengan begitu berat. Namun, semua itu tidak sia-sia. Masih terduduk diatas tempat tidurnya dengan menatap suami dan putranya.
Kedua lelaki berbeda usia itu sedang bernyanyi, dengan Edgar yang membawa kue di tangan kirinya. Hampir saja queen berteriak jika saja kedua tangannya tidak cepat menutup mulutnya.
"Happy birthday, mommy." ucap gerard dan juga edgar bersamaan.
Wanita itu tersenyum lebar. Begitu bahagia dari hari sebelumnya. Satu bulan pun berlalu setelah mimpi buruk itu mengganggunya. Kini dia sudah merasa lebih baik, pasalnya mimpi buruk itu tidak lagi datang di dalam tidurnya.
"Make a wish." pinta edgar.
Setelah mendengar itu, queen pun segera menutup matanya. Memohon dalam hati. Berbisik lirih dengan penuh harap dan keikhlasan.
Semoga Tuhan selalu menjaga keluargaku dari berbagai macam bahaya. Amin.
Fffiiuuhh....
Lilin ditiup. Tepukan gerard pun terdengar nyaring. Semuanya tersenyum bahagia. Edgar mencium kening istrinya.
"Apa kita akan makan kue ini?" tanya gerard.
Mata bulat bocah itu menatap ke arah kue dengan tatapan berbinar. Hal itu membuat queen terkekeh. Menarik tubuh kecilnya dan dibawanya naik untuk duduk bersama dengannya.
Edgar mengangguk tanda setuju.
"Yeeee...."
Gerard bersorak senang.
"Mommy berikan aku yang banyak coklatnya." pinta bocah itu.
Queen semakin terkekeh melihat tingkahnya yang semakin menggemaskan. Kue lembut dengan hiasan coklat pipih diluarnya membuat bocah itu tak bisa menahan keinginannya untuk segera melahap kue ulang tahun mamanya.
Sudah tiga potong kue yang ueen berikan dan akan berakhir kosong di piringnya. Gerard memang suka sekali dengan kue coklat. Bocah itu memang seperti copy an dari queen yang juga sangat menyukai kue coklat.
"Baiklah, ini yang terakhir. Setelah itu gosok gigi sebelum tidur." tutur queen.
Gerard menerima kue coklat itu sekali lagi. Sambil tersenyum lebar dia mengangguk. Bocah itu segera melahap kuenya. Tidak ingin membuat mulutnya yang terlalu lama menunggu untuk melahapnya.
"Sudah selesai, erard akan gosok gigi. Tapi malam ini erard ingin tidur bersama dengan mommy. Apakah boleh?" ucapnya dengan penuh harap.
Queen mengangguk kecil menatapnya. Tersenyum lebar sembari mencium puncak kepalanya.
"Tentu saja boleh." jawab queen.
__ADS_1
"Yyeeeee...."
"Okey, come on." ajak edgar sembari mengulurkan tangannya.
Kedua lelaki berbeda usia itu pun segera melangkah menuju kamar mandi. Edgar membantu putranya untuk menggosok gigi.
Kini queen sudah membaringkan tubuhnya. Dia hanya makan sedikit kue coklat. Setelah mengandung anak keduanya, wanita itu tidak terlalu suka dengan kue coklat atau cenderung suka pada makanan atau kue yang memiliki citra rasa asin dan gurih.
Beberapa menit berlalu. Dua jagoan queen kini tampak sudah keluar dari kamar mandi. Saling melemparkan senyuman. Bocah berusia 3 tahun itu segera melompat naik ke atas ranjang. Memilih untuk tidur disamping kanan queen, hingga edgar pun harus mau untuk tidur terpisah dengan istrinya.
"Ayo jagoan, lekaslah tidur!" tutur edgar yang kini mulai menyusul keduanya.
Mengambil posisi tidur yang nyaman setelah dia mencium kening keduanya. Lelaki tampan itu pun segera melingkarkan tangannya pada perut Gerard seperti yang saat ini juga dilakukan oleh istrinya.
ddrrtt.. drrrrtt.. ddrrrtt..
Baru saja ketiganya memejamkan mata. Namun suara dering ponsel edgar membuat mata mereka kembali terbuka. Queen pun sedikit melongokkan kepalanya.
"Siapa yang menelepon malam-malam begini?" tanyanya.
Edgar yang baru saja mengambil ponselnya hanya menoleh sekilas pada istrinya.
"Roy." jawabnya singkat.
Kemudian Edgar secara mengusap layar ponselnya untuk segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo, roy. Kau tidak tahu jam berapa sekarang."
"......"
Beberapa menit edgar terdiam saat mendengar penuturan dari roy. Wajahnya berubah menjadi tegang. Perlahan lelaki itu melirik ke ara istrinya yang saat ini masih menatapnya. Menelan ludahnya sedikit berat.
"Baiklah, tunggu aku besok pagi! Aku harap kalian bisa segera menemukan petunjuk."
Ponselnya kini sudah menjauh dari alat pendengarannya. Menatap istrinya dengan mencoba untuk tersenyum.
"Ada apa?"
Edgar menggeleng.
"Ada sedikit masalah. Tapi aku rasa mereka bisa mengatasinya."balasnya singkat.
"Ayo kita tidur!" ajaknya.
Mereka pun pada akhirnya kembali merebahkan tubuhnya. Mencoba untuk segera menyambut mimpinya tanpa menghiraukan hatinya yang saat ini sedang bergejolak.
Tbc
__ADS_1