
Tatapan tajam dan penuh amarah telah terlihat begitu nyata. Tak lupa edgar Mengambil senjata api yang ada di kakinya sebelum dia mendobrak Pintunya.
Mengarahkan senjatanya pada kedua orang yang telah menjadi keluarganya selama beberapa tahun terakhir.
" Edgar " pekik mami sharen
" Wah, putra kesayangannya telah datang. " ucap chris
Edgar mengatupkan rahangnya. Melihat keadaan papanya yang tampak tak berdaya dengan luka tembakan di kedua kakinya. Kini, amarahnya semakin memuncak.
" Kalian harus menanggung akibatnya. " ucap edgar dengan berat.
Dia masih mengarahkan senjatanya pada lawan. Menghampiri papa dion yang sedang menahan sakit.
" Pa, bertahanlah ! "
Tanpa di duga oleh edgar jika mami sharen yang sejak tadi menggenggam senjata, kini telah menarik pelatuknya.
Dor.
Dor.
Sontak membuat edgar yang baru saja menatap papanya, kini dengan cepat berbalik lagi menatap lawannya. Tepat, dengan satu tarikan ditangannya, dgar berhasil melumpuhkan mami sharen dengan timah panasnya yang kini bersarang dikepalanya.
" Papa.. "
" Papa, bangunlah. ! "
Di satu sisi.
" Mama.. Mama... "
Breng**k.. Umpat keduanya.
Mereka berdua pun segera berbalik dan beranjak dari posisinya. Saling bersiap untuk melawan.
BUGH
BUGH
BUGH
Mereka berdua saling beradu fisik. Saling melampiaskan kekesalan dan amarahnya. Berusaha menjadi pemenang.
Menahan rasa sakit akibat pukulan yang diterima. Namun, edgar tampak masih kuat dibandingkan dengan Chris. Melawan dengan kekuatan penuh. Memberikan pelajaran pada lawannya karena telah berani mencelakai orang terkasihnya.
Bbbrreeaaaakkkk
Edgar menghempaskan tubuh Chris dengan kuat. Hingga dia pun terjatuh diantara tumpukan pupuk tanaman.
" Rasakan ini " ucap chris sembari melemparkan pupuk-pupuk tersebut kearah edgar.
Hal itu tidak berpengaruh apa-apa padanya. Hingga tanpa di duga, di balik tumpukan pupuk tadi terdapat sekop yang biasanya digunakan untuk menggali tanah. Chris pun segera menariknya.
Kini lelaki itu melayangkan senyuman tipis pada Edgar sembari mengarahkan sekop tersebut padanya.
" Aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini. " cetus edgar.
Bugh
Satu pukulan mengenai tubuh edgar. Chrish kembali mengayunkan sekop tersebut kearah edgar. Namun, kali ini sekop tersebut berhasil ditangkap olehnya. Cukup kuat edgar menariknya, hingga Chris pun tidak bisa menahannya.
Melemparkan benda tersebut ke samping. Edgar pun mulai mendekati chris dan kembali melayangkan pukulan.
__ADS_1
Tangannya terkepal kuat. Berulang kali menghantam wajah tampan chris hingga mengeluarkan banyak darah.
" kau, tidak seharusnya merebut sesuatu yang bukan menjadi milikmu. " ucap edgar dengan penuh amarah.
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Hingga dia pun merasa cukup. Edgar menatap tajam tubuh chris yang tampak tidak berdaya.
Terdengar sayup-sayup seseorang yang sedang memanggilnya. Edgar pun segera mengalihkan pandangannya. Melihat sosok papanya yang berusaha untuk bangun dari posisinya.
" Ed.. Cu.. kup.. nak.. "
" Papa. "
Edgar pun segera berdiri dari atas tubuh chris. Menghampiri papanya yang sudah tidak berdaya.
" Papa, bertahanlah. ! Ayo edgar bantu. ! " ucapnya.
Papa dion menggeleng.
" To.. long.. ja..ga.. se..mua..nya.. de..ngan.. bai..ik.. Ma..af..kan.. pa..pa.. ya..ang.. te..lah..
menye..bab..kan.. ka..mu.. ha..rus.. meng..ala..lam..mi.. hal.. in..ni.. "
Edgar semakin mengeratkan genggaman tangannya. Menangis tanpa dia sadari.
" Papa, bertahanlah. ! Ayo, edgar bantu ! Kita pergi dari sini. "
Edgar terlihat masih sibuk dengan papa dion. Hingga dia tidak sadar jika saat ini chris tengah menggeser tubuhnya dengan perlahan. Menghampiri senjata api yang tadi yang tergeletak tidak jauh darinya.
Dor..
Dor..
Dor..
***
Suasana haru tampak nyata di tempat pemakaman. Berjejer batu nisan dengan rerumputan di sekitarnya terlihat bersih dan rapi.
Queen berada di pemakaman elit di negaranya. Memeluk tubuh seseorang sembari menangis.
Dia tidak menyangka jika hal ini akan terjadi. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Namun nyatanya tidak. Permohonannya tidak dikabulkan.
" Tenanglah, nyonya. ! " tutur elia yang saat ini sedang memeluknya.
Queen mengadahkan kepalanya. Menatap nanar kearah gadis itu.
" Aku masih belum bisa percaya jika,... Hiks hiks hiks.. "
" Sudahlah, nyonya ! Sebaiknya kita pergi dari sini. Atau baby gerard akan ikut menangis karena ingin bertemu dengan, nyonya. " tuturnya
Queen pun akhirnya mengangguk kecil.
" Baiklah "
Hanya beberapa orang saja yang menghadiri acara pemakaman tersebut. Diantaranya adalah pengawal edgar. Kini pun mereka mulai beranjak pergi dari sana.
Melangkah diantara pemakaman lainnya, mendadak queen menghentikan langkahnya. Menoleh kearah samping dimana dikejauhan dia bisa melihat pohon besar yang misterius.
__ADS_1
Seakan tidak asing baginya. Dia merasa pernah mengalami hal semacam ini. Masih melihat kearah pohon besar tersebut yang dia yakini jika dibalik pohon itu ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya dan yang lainnya.
Queen membelalakkan matanya ketika ingatannya kembali. Dia tertegun saat mengingat sesuatu kejadian yang mengakibatkan suara yang menggelegar.
" Kenapa ? Ada apa, nyonya? " tanya elia.
Tidak menjawab. Queen segera berlari meninggalkan elia yang masih kebingungan.
" Edgar.. Sayang.. Ed.. " panggilnya berulang kali
" Ed, menjauh dari mobil. " Teriaknya.
Queen berlari semakin mendekati suaminya yang masih asyik mengobrol dengan pendeta yang tadi telah memimpin doa di pemakaman papa dion.
" Ed, menjauh dari mobil. " teriaknya sembari melangkah semakin mendekat.
Edgar yang baru saja mendengar panggilan dari istrinya segera menolehkan kepalanya. Menatap bingung pada istrinya.
" Menjauh dari mobil, ed. ! "
" Ada apa, sayang ? " tanya edgar bingung.
Queen segera menarik tangan suaminya dan pendeta tersebut.
Masih bingung dengan keadaan istrinya, namun edgar maupun pendeta tersebut tidak menolak ketika queen menarik tangannya.
" Ada apa, sa...... "
Queen segera membawa mereka berdua untuk menjauh dari mobilnya.
DDDUUUUUUUOOOOOOMMMMMMMM
Mobil mewahnya pun meledak seketika. Semua orang tertegun ditempatnya. Mematung. Bingung. Tidak percaya.
Tubuh queen merosot kebawah. Dia merasa takut dan bingung tapi juga merasa lega. Tak banyak bicara, edgar yang melihat istrinya pun segera berjongkok dan memeluk wanita itu dalam diam.
Semua masih diam dalam keheningan. Merasa terkejut dan juga tidak percaya. Semakin kebingungan ketika tadi melihat sosok nyonya rumah yang seakan sudah mengetahui semuanya.
" Bagaimana kamu bisa tahu jika mobil kita telah dipasang peledak, sayang ? " tanya edgar setelah sekian menit menahan diri untuk mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri.
Queen menggeleng.
" Entahlah, ed. Aku merasa pernah mengalami hal semacam ini. Kurasa ada seseorang yang sedang mengikuti kita. Aku melihatnya dibalik pohon besar yang ada di sana. " Jelas queen sembari mengarahkan telunjuknya kesuatu arah.
Edgar semakin merasa bingung. Namun, dia tidak meragukan perkataan istrinya.
" Ayo bangun, sayang ! " tutur edgar.
" Aku takut, ed. " ucap queen sembari mulai beranjak berdiri dengan dibantu oleh suaminya.
" Jangan takut selama ada aku, sayang ! " tutur edgar.
" Roy, Louis. " panggil edgar.
Kedua orang kepercayaannya itu pun segera menghampirinya.
" Iyah, tuan. "
" Ajak beberapa orang untuk mengitari pemakaman ini ! Terutama di sekitar pohon besar yang ada disana. Istriku melihat seseorang disana. " titah edgar pada keduanya.
" Baik, tuan. " jawab keduanya.
Tak menunggu lagi, mereka segera melaksanakan perintah darinya. Setelah melihat keduanya telah pergi, kini edgar pun segera menghubungi seseorang untuk datang menjemputnya.
__ADS_1
Tbc