
Queen masih menatap sosok lelaki yang baru saja masuk kedalam kamarnya. Tetap dengan posisinya yang menempel pada sisi dinding dengan tubuh yang gemetaran. kedua tangannya masih setia berada diatas mulutnya.
Kedua bola matanya pun terus mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh lelaki itu. Jantungnya berdegup kencang ketika sosok lelaki itu kini telah berbalik. Menatap kearahnya. Perlahan tapi pasti, sosok lelaki itu melangkah semakin mendekat.
Dengan pencahayaan yang sangat minim. Begitu gelap, sehingga queen pun tidak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas.
" Queen " panggilnya
Seketika itu queen Menghembuskan nafas lega setelah mendengar suara yang sangat dia kenal.
" Ed, kau kah itu " tanya queen lirih
" Iyah, ini aku. Ayo kita pergi dari sini. ! Tempat ini sudah tidak aman lagi " jelasnya cepat dengan melangkah semakin mendekat.
Edgar segera menarik tangan queen dan mengajaknya untuk pergi dari sana. Namun, edgar segera menghentikan niatnya. Menoleh sekilas kearah queen yang saat ini sedang menahan tangannya.
" Kenapa ? " tanya edgar bingung
Masih menatap bayangan sosok istrinya dalam kegelapan. Mereka berdua saling memandang namun tak bisa menatap dengan jelas wajahnya.
" Aku masih memakai gaun tidur, Ed " ucap queen lirih
" Kita tidak punya waktu lagi, Ayo ! " ucapnya cepat dan segera menarik tangan queen.
Kini keduanya segera keluar dari kamar tersebut. Pencahayaan dari sinar rembulan telah membantu manik edgar untuk mencari jalan keluar yang dirasa aman.
Mereka berjalan perlahan dan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara berisik. Queen masih menggenggam erat tangan suaminya.
Hati dan pikirannya berkecamuk tidak karuan. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk dia bertanya. Rasa takutnya semakin membuncah, namun masih bisa ditekan dengan keberadaan suaminya
" Kita keluar lewat jendela ini " ucap Edgar sangat lirih
Karena begitu gelap, Edgar hanya bisa melihat bayangan istrinya yang sedang menggeleng dengan cepat.
Tak menunggu pendapat dari istrinya lagi. Edgar segera menarik tangan istrinya. Setelah membuka jendela ruang tengah yang langsung menuju hutan, lelaki itu segera mengangkat tubuh istrinya.
" Ed. Jangan. ! Aku takut. "
Namun, edgar lebih dulu menurunkan tubuh queen diluar jendela. Dengan hanya menggunakan gaun tidur dan sandal tidur queen merasakan tubuhnya yang menggigil.
Kini edgar pun telah keluar melalui jendela tersebut. Menarik paksa tangan istrinya dan segera berlari kecil menuju hutan..
Saat ini dia harus segera pergi dari rumah itu. Walaupun beberapa orang telah berhasil dilumpuhkan, namun dengan keadaannya yang tanpa di dampingi oleh anak buahnya. Sudah dapat dipastikan dia akan gugur jika tidak segera pergi.
hosh.. hosh.. hosh..
Keduanya berlari menyusuri jalanan kecil. Edgar pun nampak sudah mengetahui kearah mana dia harus mengarah. Karena memang dia sudah tahu setiap sudut yang ada di pulau tersebut. Salah satu pulau milik keluarganya.
Entah bagaimana bisa, sekelompok orang bisa mengetahui akan keberadaannya. Dan Edgar pun bisa menebak jika mereka adalah suruhan dari seseorang yang memang selama ini telah menjadi musuhnya.
" Ed... hosh.. Aku.. hosh.. capek.. " ucap queen terbata
Edgar pun seketika itu menghentikan langkahnya. Segera berbalik arah dan menatap lekat wajah cantik istrinya dengan pencahayaan dari rembulan.
__ADS_1
Edgar mengusap wajahnya kasar. Dia sungguh tidak ingin membawa wanita itu masuk kedalam dunianya yang keras. Namun, apa mau dikata jika saat ini sesuatu hal terjadi tanpa bisa diduga.
Sejenak Edgar tertegun, menatap tubuh istrinya yang saat ini hanya memakai gaun tidur tipis. Perlahan queen mengusap lengannya yang terasa membeku.
Tanpa berbicara lagi, Edgar segera membuka kemejanya. Kini hanya menampakkan kaos dalam tanpa lengan yang berwarna hitam saja yang melekat ditubuhnya. Lelaki itu segera memakaikan kemeja miliknya pada sang istri.
" Ed.. "
" Kau pasti kedinginan. Sudah pakai saja ! " tuturnya.
Queen pun segera memakai kemejanya dengan dibantu oleh suaminya. Entah mengapa, edgar begitu sangat lembut memperlakukan wanita itu. Seakan tidak ingin terjadi sesuatu pada wanita itu.
" Sebenarnya apa yang terjadi ? " Tanya queen lirih. Namun, Edgar hanya diam sembari menatap lekat wajah cantik istrinya yang saat ini tampak kacau.
Entah edgar tahu atau tidak, wanita cantik itu kini telah menangis. Tak berselang lama, lelaki itu pun segera memeluk istrinya dengan erat guna memberikan ketenangan padanya.
" Aku takut " ucapnya lirih
" Jangan takut. ! Ada aku disini. " ucap edgar dengan masih memeluk wanita itu. Memberikan ciuman dipuncak kepalanya sembari mengusap lembut punggungnya.
Edgar meleraikan pelukannya.
" Sudah. Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Diujung sana ada perahu boat yang sudah siap. Kita akan pergi dari pulau ini menggunakannya. " Jelasnya pada queen
Tak ingin membuang waktu lagi, edgar menarik tangan istrinya dan segera mengajaknya untuk kembali berlari.
Keduanya kini telah berlari melewati pepohonan rindang yang ada disekelilingnya. Tak jarang queen mengadu kecil ketika lengan bahkan kakinya yang tersakiti oleh ranting pepohonan yang tidak sengaja mengenai bagian tubuhnya.
Beberapa menit berlalu. Kedua masih terus berlari tanpa henti. Edgar kembali mendengar suara nafas sang istri yang semakin berat. Tak ingin terjadi sesuatu pada wanita itu. Edgar segera menghentikan langkahnya.
hosh.. hosh.. hosh..
Queen terkesiap melihat tubuh suaminya yang tiba-tiba berjongkok didepannya.
" Naiklah ! " ucapnya
" Tidak. Kau pun juga capek. Aku masih bisa berlari " tolaknya dengan masih mengatur nafasnya yang terengah-engah
" Cepat naik ! Atau mereka akan segera menemukan kita " seru edgar
" Kenapa kau tidak meminta bantuan saja ? " tanya queen yang saat ini merasa putus asa
" Mereka masih dalam perjalanan. Sudah.. Cepat naik ! " jelas edgar dengan cepat
Queen perlahan mulai mendekati tubuh suaminya yang telah berjongkok. Wanita itu kini telah naik keatas punggungnya. Dan setelah itu Edgar segera bangkit dari posisinya.
Lelaki itu kembali berlari dengan menggendong istrinya dari belakang. Seakan tidak merasakan beban apapun, Edgar masih berlari seperti sebelumnya.
Tidak bisa diragukan lagi akan fisik yang dimiliki oleh lelaki itu. Lihat saja otot-otot pada tubuhnya yang begitu besar. Karena memang edgar selalu rutin melakukan latihan fisik diwaktu senggangnya.
Kini langkahnya telah terhenti. Edgar sedikit berjongkok agar istrinya itu dengan mudah untuk turun dari gendongannya.
Mereka berdua telah sampai di dermaga yang dimaksud oleh edgar. Tampak sebuah kapal boat yang siap untuk mereka gunakan.
__ADS_1
" Ed, apa yang kamu lakukan ? " tanya queen yang saat ini melihat edgar melepaskan atasannya.
" Aku harus melepaskan dulu jangkarnya " jelasnya dengan cepat
" Kau akan menyelam ? Apa tidak bisa kita menariknya ? " tanya queen
" Tidak bisa, Jangkarnya harus ada yang melepaskannya dari dalam air. Karena memang dibuat seperti itu agar tidak ada orang lain yang menggunakannya selain mereka yang sudah tahu akan hal itu " jelas edgar panjang lebar
" Tapi aku takut, Ed " ucap queen sembari menahan langkah edgar yang akan masuk kedalam air
" Aku hanya sebentar, queen. Jika aku tidak masuk kedalam. Kita tidak bisa menggunakan perahunya " tutur edgar
Dengan berat hati queen melepaskan genggaman tangannya. Membiarkan sang suami yang kini telah masuk kedalam laut.
Terdengar suara berisik samar-samar. Queen menolehkan kepalanya kesegala arah. Jantungnya berdegup kencang ketika mendengar suara berisik dari semak-semak yang semakin keras.
Queen segera berjongkok dengan menatap kebawah. Berharap sosok suaminya segera muncul dari dalam air.
" Ed.. " Panggil queen lirih
Namun, sayang sungguh sayang. Sosok seseorang dari belakang telah lebih dulu membekap mulutnya menggunakan salah satu tangannya.
" Ed.. gaaarrr "
Tbc.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tarik nafas dalam-dalam..
Hembuskan..
Lakukan berulang kali..
Selamat membaca..
😘😘
__ADS_1