
Queen memejamkan matanya. Walaupun dia terlahir dari keluarga yang kaya, namun dirinya sangat jarang sekali bepergian keluar negeri seperti sekarang ini.
Kepalanya sedikit merasakan pusing ketika beberapa menit berada didalam pesawat jet pribadi milik keluarga Baldwin. Pesawat itu tidak jauh lebih bagus dari pesawat jet milik keluarganya. Namun, tetap saja sama. Membuatnya merasa pusing.
Queen dan Edgar saat ini sedang melakukan perjalanan menuju New York. Sebenarnya, bukan ada urusan bisnis yang membuat mereka berangkat ke sana. Namun papi Dion meminta Edgar untuk membawa istrinya pergi berbulan madu agar dia dapat segera memiliki seorang cucu.
Sebenarnya Edgar sungguh tak menginginkan hal itu, namun disisi lain, dia pun juga memiliki urusan penting di negara yang saat ini telah menjadi tempat tujuannya.
Dengan mengesampingkan perasaannya, Edgar pun menurutinya, mengabulkan permintaan lelaki tua itu untuk segera mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini.
Hingga pada akhirnya dia pun terpaksa pergi berbulan madu dengan istrinya. Wanita yang dinikahi olehnya itu tanpa berfikir panjang. Bahkan hingga saat ini dia masih belum tahu harus membawa kemana hubungan antara dirinya dan juga sang istri.
Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah impiannya, tujuan hidupnya saja tanpa memikirkan keadaan sosok wanita yang dia nikahi.
Edgar melirik sekilas kearah queen yang sedang memejamkan matanya. Keningnya mengerut.
" Queen.. " Panggilnya
Sesaat kemudian, queen mulai membuka matanya. Dia belum tidur, lebih tepatnya dia memang tidak sedang tidur.
" Jika kamu mengantuk, sebaiknya istirahat saja di dalam kamar " Titahnya
Queen kini menolehkan sedikit kepalanya untuk menatap wajah suaminya yang selalu tampak datar atau kadang menakutkan.
" Aku tidak sedang mengantuk. Tapi kepalaku terasa pusing " jawabnya
" Sebaiknya, kamu istirahat saja di dalam. Ada ranjang yang akan nyaman untukmu " tuturnya
Queen mengangguk kecil. Mulai melepaskan sabuk pengamannya kemudian mulai beranjak. Kepalanya sungguh sangat sakit. Queen memegangi kepalanya.
Edgar yang melihatnya segera ikut beranjak dari duduknya. Dia sungguh tidak menyangka dengan respon yang dia lakukan. Segera merangkul tubuh istrinya dan menuntunnya menuju ke dalam ruangan tersebut.
***
Beberapa jam telah berlalu.
Queen mengerjapkan matanya beberapa kali. Menatap buram ke segala arah. Namun, dia masih bisa membedakan dengan jelas jika saat ini dirinya telah berada di kamar yang berbeda.
Wanita itu sungguh tidak menyangka jika saat ini dirinya sudah berada didalam kamar yang super mewah. Sangat berbeda sekali dengan ruangan yang ada di dalam pesawat jet tadi.
" Kau sudah bangun ? " tanya edgar yang saat ini telah berdiri disamping ranjang dengan hanya menggunakan handuk kimono.
__ADS_1
Queen menatapnya kemudian segera mengangguk.
" Apa kita sudah sampai ? " tanyanya dengan suara khas orang baru bangun tidur
" Kenapa kau tidak bilang jika kau mabuk udara ? Kita sudah sampai tiga jam yang lalu. " jelas Edgar
" Minumlah, obat itu untuk mengurangi rasa sakit di kepala mu " titahnya pada sang istri. Edgar mengarahkan kepalanya kearah nakas yang disana terdapat sebotol obat dan segelas air minum.
Queen mencoba untuk bangkit dari posisinya. Menyandarkan kepalanya pada sandaran ranjang dan segera meminum obat tersebut.
" Kau akan pergi ? " tanyanya pada Edgar yang saat ini sedang mengambil pakaiannya dari dalam koper
" Heeemmm " Edgar berdehem pelan sembari melangkah pergi menuju ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya
Beberapa menit berlalu. Queen masih sama ditempatnya. Rasa sakitnya mulai berangsur membaik. Kini maniknya telah menangkap sosok suaminya yang telah rapi dengan pakaiannya.
Setelan jas beserta dasinya telah menambahkan kesempurnaan pada sosok lelaki itu. Queen tampak tertegun melihatnya. Memuji ketampanan sang suami namun hanya didalam hati.
Edgar kini tampak telah bersiap di depan cermin. Sekilas maniknya menatap kearah istrinya yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
" Ada apa kau melihatku seperti itu ? " tanyanya
Queen tersentak kecil namun tidak kentara. Wanita itu segera menggeleng.
Edgar tersenyum tipis. Sekali lagi mematut dirinya didepan cermin. Setelah dirasa cukup lelaki itu segera berbalik.
" Aku akan pergi sebentar. Jika terjadi sesuatu atau kau akan melakukan sesuatu, jangan lupa kabari aku. " tuturnya
Sejenak queen terdiam, sesaat kemudian dia mengangguk patuh.
" Baiklah. Aku pergi dulu " pamitnya yang diikuti dengan langkah kakinya yang telah melangkah pergi.
Queen masih tetap di posisinya. Menatap kearah pintu kamar hotelnya yang telah tertutup.
" Lalu untuk apa aku ikut dengannya jika dia tidak berniat mengajakku jalan-jalan. Sungguh menyebalkan sekali " ucapnya malas
Wanita itu dengan sekuat tenaga menahan perasaannya. Takdir telah memilihnya untuk menjalani kehidupan semacam ini. Terjebak oleh pernikahan yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Hingga saat ini pun mereka masih sama-sama saling menahan diri dan saling menjaga jarak. Lalu harus bagaimana kedepannya ? Akan kah dia harus tetap bertahan dengan hubungan yang tidak jelas ini?
Pikiran queen mulai berkecamuk tidak karuan. Hati kecilnya meronta ingin kebebasan, namun disisi lain dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Melawan atau bahkan menolak maka taruhannya adalah Keluarga. Sungguh malang sekali nasibnya.
__ADS_1
Queen menghela nafasnya. Begitu berat jalan hidupnya hingga dia harus mempertaruhkan nyawanya.
" Sebaiknya aku pun juga pergi. Kurasa jalan-jalan sebentar disekitar hotel tidak akan menjadi masalah " gumamnya sendiri
Merasakan tubuhnya yang kini telah kembali pulih. Membuat queen segera beranjak dari posisinya dan menuju ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.
Wanita itu mulai membersihkan tubuhnya di dalam sana. Melakukan ritualnya hingga beberapa menit dan setelah selesai queen segera keluar dan mengganti pakaiannya.
Merias tipis wajahnya menggunakan aplikasi make-up. Tersenyum manis ketika menatap dirinya dari pantulan cermin.
" Kurasa sudah cukup. Edgar sungguh sukses membuatku sesak nafas beberapa hari terakhir. Mungkin setelah kembali dari jalan-jalan pikiranku akan kembali tenang " gumamnya sendiri
Queen segera meraih tas kecilnya. Tidak lupa membawa ponselnya dan card berwarna gold pemberian dari Edgar waktu itu.
***
" Kenapa disekitar sini sepi sekali ? "
Queen tampak mengalihkan pandangannya ke segala arah. Sudah beberapa menit berlalu wanita itu telah pergi meninggalkan kamar hotelnya.
Beberapa restoran telah dikunjungi olehnya. Bahkan beberapa toko yang ada disekitar sana pun juga sudah dikunjunginya. Namun queen sama sekali tidak berniat untuk membeli sesuatu.
" Hah.. Haus sekali. Sepertinya restoran di depan itu tampak menarik "
Maniknya berbinar ketika melihat sebuah restoran Jepang yang ada diujung jalan. Tanpa ragu dia segera mengajak kedua kakinya untuk melangkah menuju restoran tersebut.
Rasa haus dan laparnya seketika itu meningkat dengan hanya mencium aroma makanannya saja.
Tak menunggu lagi queen segera masuk kedalam. Memesan berbagai menu makanan yang ingin dia makan. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya makanan yang dia pesan kini telah tersaji diatas meja.
" Jika saja dia mau mengajakku untuk pergi kemanapun itu, sungguh aku tidak akan merasa kesepian seperti ini "
gumam queen sembari menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Wanita itu mencoba untuk menikmati makanannya sendiri dengan suasana hatinya yang sedang kesepian.
Setelah menghabiskan makanannya, queen segera beranjak dari tempatnya. Melangkah pergi untuk segera kembali ke kamar hotelnya. Namun ketika dirinya telah berbalik seseorang yang sedang berjalan pun tak dengan ditabrak olehnya.
" Astaga ... Maaf ... Maafkan saya, tuan " ucap queen dengan panik
Keduanya saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
" Kamu," ucap keduanya.
Tbc