Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 35


__ADS_3

" Tuan, ini laporan yang tuan minta. Semua datanya lengkap dan terpercaya. " ucap sekertaris morgan dwngan menyodorkan dokumen diatas meja.


Suasana hatinya masih tidak menentu. Lelaki itu hanya mengangkat tangannya untuk memberikan kode pada morgan. Setelahnya, dia pun membungkuk hormat dan segera pergi dari ruangan tersebut.


Edgar yang masih sibuk menatap layar laptopnya pun hanya melirik sekilas kearah berkas yang baru saja di berikan oleh sekertarisnya.


Bertepatan dengan morgan yang keluar, sosok roy datang dengan setelan kemeja yang tampak rapi.


" Selamat pagi, tuan. "


Edgar pun segera mengalihkan pandangannya dan kembali sibuk pada layar laptopnya.


" Oh, kau sudah datang rupanya. Duduklah ! Dimana Louis dan Eric. Aku punya tugas penting untuk kalian. " ucap edgar


Dia tampak sangat serius menatap layar laptopnya. Raut wajahnya terlihat tegas dan keras. Entah apa yang sedang ada dipikirannya saat ini.


" Mereka masih dalam perjalanan, tuan. "


Hemm


Edgar berdehem pelan. Masih tak mengalihkan pandangannya. Kedua matanya masih tak ingin beralih dari sana.


Suasana begitu hening. Keduanya saling terdiam. Hingga beberapa menit terdengar suara ketukan dari arah luar.


" Masuk ! " teriak edgar.


Dua orang berpakaian santai masuk dengan senyuman lebar. Tak lupa menutup pintu sebelum mereka melangkah ke dalam.


Menatap kearah roy yang seperti sedang tegang membuat keduanya pun mengurungkan niatnya untuk menyapa edgar dengan candaan.


" Selamat pagi, tuan. " sapa mereka berdua.


Hemm..


Edgar berdehem.


" Duduklah ! Aku ingin memberikan tugas pada kalian. " ucap edgar dengan berat dan serius.


Seketika itu suasana di dalam sana pun berubah menjadi tegang. Edgar menggeram samar, namun ketiganya masih bisa mendengarnya.


" Sial. " umpatnya


Ketiganya hanya bisa menatap kebingungan, namun juga merasa penasaran.


" Aku ingin kalian berangkat ke Italia besok pagi. "


Edgar dengan cepat memutar layar laptopnya. Sedikit mendorongnya agar ketiga orang yang duduk didepannya itu bisa melihat dengan jelas apa yang tersaji didalam sana.


" Ada seseorang yang meretas sistem perusahan. Datanglah kesana dan selidiki semuanya. Aku tidak ikut bersama dengan kalian, karena queen pasti akan melarang. "


Ketiganya mengangguk.


" Lalu bagaimana dengan masalah disini, tuan ? Perusahaan ini juga sedang mengalami masalah. " tanya eric

__ADS_1


" Biar aku sendiri yang mengurusnya. Kurasa dalang dari kekacauan ini adalah orang yang sama. Sepertinya ada orang dalam yang terlibat dan membantunya untuk meretas sistim perusahaan dengan waktu yang bersamaan. " ucap edgar


" Apa anda sedang mencurigai seseorang, tuan ? " tanya louis


Hemm..


" Aku masih melacaknya. Aku harus memastikan sesuatu sebelum kalian berangkat besok. Nanti malam, datanglah ke rumah. Bersikaplah biasa di depan istriku ! "


" Baik, tuan. "


" Ehmm, tuan. Apa tidak sebaiknya kita bicarakan masalah ini di markas saja. ? "


" Istriku tidak akan mengijinkanku untuk pergi seperti waktu itu. Dia menjadi semakin parno setelah kejadian di pemakaman tempo hari. "


" Baiklah, tuan. " ucapnya.


Ketiganya pun hanya bisa mengangguk kecil. Merasa sependapat dengannya.


" Yasudah, kalian boleh pergi. Bersenang-senanglah sebelum memulai misi kalian. ! " tutur edgar.


Ketiganya terkekeh kecil.


" Tentu, tuan. "


Kini tampak ketiganya sudah beranjak berdiri. Masing-masing membungkuk hormat padanya, kemudian segera pergi dari ruangan kerjanya.


Edgar pun segera membuka laporan yang baru diberikan oleh morgan. Lelaki itu mulai menggunakan kacamatanya. Mengeja setiap kata dengan sangat detail.


Berulang kali mengumpat ketika mendapati ketidaksesuaian laporan dengan kenyataan. Secepat kilat, dia meraih telepon seluler dan segera menghubungi sekertarisnya.


Tidak ingin mendengar balasan apapun, edgar segera mengakhiri Panggilannya. Morgan pun bisa tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


Kini edgar menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya. Memijit keningnya yang sedikit berdenyut.


" Aku harus menyingkirkannya. "


Edgar tidak bisa mentolerir perbuatan pegawai yang bekerja dengan tidak jujur. Menghabiskan sebagian uang perusahaan dan juga memberikan laporan palsu. Hal itu sungguh tidak termaafkan.


Mungkin setelah ini, dia akan memutar otak untuk mencari keuntungan kembali. Menutupi kerugian perusahaan yang dibilang cukup besar itu.


***


" Pelan-pelan sayang. "


Diatas ranjang mewahnya, dia sedang merengkuh sayang bayi gembulnya. Queen sedang memberikan asi pada baby gerard.


Sore itu tampak mendung, Langit menggelap seperti malam. Kilatan petir menghiasi langit gelap dengan suara yang dapat menggetarkan telinga.


Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.


Berulang kali, queen mengalihkan pandangannya kearah pintu. Berharap sang suami akan segera pulang. Namun nyatanya tidak. Merasa khawatir dan juga takut.


Merasa tidak tenang, akhirnya queen meraih ponselnya diatas nakas. Mencoba untuk menghubungi suaminya.

__ADS_1


" Tidak bisa dihubungi. "


Sekali lagi dia melihat kearah pintu kamarnya. Masih tertutup rapat. Kemudian beralih melihat kearah dinding. Benda berbentuk bulat itu tampak cepat sekali berputar.


" Seharusnya, dia sudah pulang dua jam yang lalu. Apa banyak sekali pekerjaannya ? "


Melihat wajah gembul putranya yang sudah tertidur pulas. Queen pun menarik diri. merapikan pakaiannya yang terbuka setelah memberi asi.


Mengambil bantal dan guling untuk di letakkan di samping putranya agar aman.


Kini wanita cantik itu segera turun dari atas ranjang. Perlahan menganjak kedua kakinya untuk segera keluar dari kamarnya.


Masih merasakan kekhawatiran, namun dia mencoba untuk tetap tenang. Walaupun pikirannya sudah melayang tidak karuan.


Queen segera keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga dan menuju ke halaman depan. Sejenak mematung. Dua lelaki bertubuh kekar datang menghampirinya.


" Nyonya, ada apa ? " tanya keduanya.


" Apa tuan belum datang ? " tanya queen.


Sekilas keduanya saling memandang.


" Belum, nyonya. " jawabnya.


Queen hanya mengangguk kecil. Namun dia masih tidak berpindah dari tempatnya. Menatap langit gelap yang mendung. Dengan perasaan kacau queen berusaha untuk tetap tenang.


Semoga saja tidak terjadi sesuatu padanya.


" Nyonya, diluar udaranya sangat dingin. Sebaiknya nyonya masuk saja kedalam. " tutur salah satu dari mereka berdua.


" Sebentar. Biarkan aku disini sebentar. " ucapnya lirih.


kenapa aku merasa tidak tenang seperti ini.


Queen masih berdiri ditempatnya. Didepan pintu berukuran besar itu. Bahkan beberapa pelayan menghampirinya untuk mengajaknya masuk kedalam, namun queen masih ingin berada didepan sana.


" Elia, tolong. Biarkan aku sebentar disini. ! " ucapnya pada elia.


" Baiklah, pakai mantelnya dulu, nyonya. "


Sekali lagi queen mencoba menghubungi suaminya. Namun, lagi dan lagi hanya suara operator yang menyambutnya.


Kilatan petir menghiasi Langit. Rintik hujan pun mulai turun. Queen merasakan tubuhnya yang menggigil. Membuatnya untuk segera memeluk tubuhnya sendiri.


Masih menatap lurus kearah pintu gerbang rumah mewah tersebut. Berharap jika mobil suaminya akan segera datang.


" Astaga elia, aku meninggalkan baby gerard sendiri di kamar. Tolong jaga dia. ! " pinta queen.


" Nouri sudah membawa baby gerard ke kamarnya sendiri. " jelas elia.


" Nyonya, udaranya semakin dingin. Sebaiknya kita tunggu saja tuan didalam. " lanjutnya.


" Entah kenapa aku merasa sangat tidak tenang. Bahkan, ponselnya tidak bisa di hubungi. " ucap queen.

__ADS_1


Terdengar suara deru mobil. Queen pun segera menatap kearah mobil tersebut. Keningnya mengerut. Merasa asing dengan mobil tersebut.


Tbc.


__ADS_2