
Suara gelak tawa terdengar nyaring dari sudut cafe. Queen terlihat begitu senangnya berbicara dengan lelaki yang tadi tidak sengaja ditabraknya.
" Kau tahu, kami semua sungguh terkejut mendengar kabarnya. Semuanya tidak menyangka jika kamu resign dari perusahaan karena saat ini telah menikah dengan putra dari seorang konglomerat kaya " ucapnya dengan heboh
" Astaga, Roy. Kau sangat berlebihan. Semuanya berjalan tanpa rencana sebelumnya. Begitu mendadak dan terburu-buru " jelas queen
" Oh.. Apa kau sedang hamil ? " tanya Roy yang semakin melantur
Queen kembali terbahak mendengar tuduhan dari Roy, teman sekaligus fotografer profesional yang dulu sering memotret dirinya.
" Tidaklah.. Aku belum hamil. pertanyaanmu semakin melantur saja, Roy. " ucap queen
Tak lama setelahnya, queen telah mengalihkan pandangannya kearah luar jendela. Melototkan matanya seketika setelah mendapati langit sore telah berubah menjadi gelap.
" Astaga, Roy. Aku melupakan sesuatu. Sebaiknya, aku segera kembali. Suamiku pasti sedang mencariku " ucap queen dengan panik
Roy tampak mengernyitkan keningnya. Merasa ada yang aneh dengan wanita cantik yang ada didepannya itu.
" Memangnya kamu tidak menghubunginya, jika kamu sedang keluar dan berada disini " ucap Roy.
Mendengar penuturan dari temannya itu, queen merasa semakin panik.
Aduh.. Bagaimana ini ? Aku lupa memberitahukan padanya
" Aku pergi dulu, Roy.. Sampai bertemu lagi " ucap queen sambil melambaikan tangannya dan segera melangkah pergi.
Wanita itu tampak melangkah besar-besar dengan hati dan pikirannya yang sudah tidak karuan. Jantungnya berdegup kencang ketika kembali mengingat setiap pesan yang tadi sempat diucapkan oleh suaminya.
" Ya Tuhan... Sekarang apa lagi ? Dia bisa saja membunuhku seperti Ben dan juga Nick " gumamnya sendiri sambil terus berjalan.
Menolehkan kepalanya kesegala arah. Mencoba untuk menghafalkan kembali jalanan yang tadi sempat di lewati olehnya.
" Bagaimana ini ? Aku lupa jalan kembali " gumam queen.
Wanita itu kini tampak panik. Sejenak dia menghentikan langkahnya. Merogoh ponselnya yang ada didalam tas miliknya.
" Ya ammpunn.. Bagaimana bisa aku lupa mengisi daya ? " gumamnya yang saat ini dia dengan kuat menekan perasaannya yang ingin menangis.
Pasalnya memang queen tidak pernah pergi sendirian seperti sekarang ini. Kali ini seakan memberi pelajaran tersendiri bagi wanita cantik itu.
" Hiks.. hiks.. hiks.. Bagaimana ini ? Aku lupa jalan kembali. Edgar pasti sudah menungguku. Dia pasti marah besar padaku " gumamnya lirih
Jalanan di sekitar sana tampak sepi. Queen kini semakin dibuat panik ketika maniknya menangkap sosok dua orang pria yang dari kejauhan melangkah semakin mendekat kearahnya.
" Astaga siapa mereka ? "
__ADS_1
Queen tampak mulai berlari kecil sembari menolehkan kepalanya beberapa kali melihat kearah belakang. Dia semakin mempercepat larinya ketika melihat dua orang pria tersebut juga telah berlari untuk menyusul dirinya.
" Tolong.. Tolong.. " Teriak queen beberapa kali
Jantungnya berdegup kencang dengan nafasnya yang semakin terbuang cepat. Wanita itu sekuat tenaga untuk terus berlari untuk menghindari kejaran dua orang pria tak dikenal itu.
Namun sayang sungguh sayang. Kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan yang kedua lelaki itu miliki.
" Ayo ikut kami ! "
" jangan berteriak atau kutembak ! " ancamnya
" Apa mungkin bos tega menyakiti wanita secantik ini ? "
" Entahlah. ! Itu bukan urusan kita "
Kedua orang pria itu saling berbicara tak tentu arah. Queen masih bisa mendengar percakapan mereka. Karena memang saat ini queen telah di geret paksa oleh kedua pria tersebut.
Dia sungguh tidak punya pilihan lain lagi selain menuruti perkataan mereka. Namun, sesaat dia terkesiap setelah keduanya menggeret masuk dirinya kedalam lobby hotel tempat dia menginap.
Apa mereka berdua adalah orang suruhan edgar. Ya Tuhan.. Semoga saja Edgar tidak melakukan hal buruk padaku.
***
Pintu tertutup dengan kerasnya. Queen telah masuk kedalam kamarnya. Benar dugaannya jika kedua orang tadi adalah orang suruhan suaminya. Merasa sedikit lega namun juga was-was.
" Aku sudah mengatakannya berulang kali, jangan membatah perintah dariku, queen. Kenapa kau pergi hingga selarut ini ? Bahkan kau sama sekali tidak memberikan kabar padaku. " Bentaknya pada queen.
Siapa yang tahu, jika lelaki itu telah kembali sedari tadi, bahkan dia merasa begitu khawatir jika queen akan pergi meninggalkan dirinya.
Tubuh queen tampak sedikit gemetar ketika melihat sosok suaminya itu telah melangkah semakin mendekat
" A-aku lupa. Tolong maafkan aku, Ed ! " ucapnya lirih dan ketakutan
" Dari mana saja kau seharian ini ? " bentaknya lagi
" A-aku hanya jalan-jalan dan mampir mencicipi makanan direstoran Jepang. "
" Benarkah ? "
Wajah Edgar terlihat mengeras. Dengan kasar dia merogoh kantong celananya. Mengeluarkan ponsel miliknya dan segera membuka galeri.
" Lihatlah ! " Bentaknya sekali lagi
Seketika itu mata queen melebar sempurna. Menampakkan potret dirinya dan juga Roy yang tadi sedang asyik berbincang.
__ADS_1
Astaga.. Bagaimana ini ?
" Kurasa aku harus memberimu sedikit pelajaran, queen. " ucapnya dengan penuh penekanan
Dengan kasar, Edgar menarik tangan queen. Membawanya menuju ranjang. Tak segan menghempaskan tubuh wanita itu diatas sana.
" Akan ku tunjukkan dimana posisimu " ucapnya sembari mulai melepaskan pakaiannya.
Queen melotot melihat sosok suaminya yang kini telah bertelanjang dada. Menggeleng pelan sambil mencoba untuk menghindar.
" Ed.. Jangan.! Jangan lakukan itu ! " pintanya
Queen yang hendak beranjak dari tempatnya. Dengan cepat Edgar menarik kakinya sehingga queen pun kembali terjatuh diatas ranjang. Edgar dengan mudahnya segera merangkak naik diatas tubuh istrinya itu dan segera menindihnya.
" Kau akan tau dimana posisimu sebentar lagi, queen " bisik Edgar.
Queen menggeleng cepat, Air matanya mulai luruh dengan gerakan tangannya yang mulai memukuli dada sang suami.
" Jangan Ed..! Kumohon ! " pinta queen
Edgar yang saat ini telah dikuasai oleh rasa amarahnya seakan begitu sulit untuk mengembalikan kesadarannya. Mungkin lebih tepatnya dia sedang cemburu. Bahkan melihat sang istri yang terlihat begitu riang ketika di dalam foto itu, membuat Edgar menjadi semakin meradang kala mengingatnya.
Edgar mencengkram kuat kedua tangan queen dan diarahkan keatas. Lelaki itu mulai mencumbu istrinya dengan rakus. Seakan dia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya yang ingin dia lebur dalam pergulatannya.
Lelaki itu nampak diselimuti oleh gairahnya sendiri. Entah sejak kapan dia mulai mendambakan sosok istrinya itu. Namun, dia begitu pandai dalam menyembunyikan perasaannya.
Setelah beberapa menit mencium dan mencumbu istrinya. Memberikan tanda kepemilikan di tubuh bagian atas istrinya yang mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi kemerahan. Tanpa ragu Edgar merobek gaun yang dipakai oleh wanita itu.
" Jangan ! " ucap queen melemah ketika kini Edgar telah berhasil melihat tubuh polosnya.
Lelaki itu telah hanyut kedalam gairahnya. Hasratnya bercampur dengan rasa cemburu membuatnya tidak bisa menahan diri lagi.
" Kau masih perawan ? " tanyanya ketika lelaki itu telah bersiap menginginkan penyatuan.
Queen menggigit bibir bawahnya sembari mengangguk kecil. Tampak Edgar tertegun sesaat, namun hal itu semakin membuatnya ingin segera menyatukan diri. Bersamaan dengan itu terdengar rintihan pelan yang keluar dari mulut queen.
Queen mencengkram kuat seprei ketika merasakan sesuatu miliknya dibawah yang terasa sangat sakit dan itu sangat menyiksa. Air matanya lolos begitu saja.
Wanita cantik itu kini hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya. Menerima setiap sentuhan dan cumbuan lembut yang diberikan oleh lelaki itu.
Suara merdu lolos begitu saja dari mulut queen. Sehingga Edgar pun tampak semakin menggila. Pergulatan panas itu dia lakukan dengan hasrat yang menggelora. Edgar bahkan sangat tidak rela untuk segera mengakhiri permainannya.
Ini adalah pertama kali baginya melakukan hubungan dengan wanita yang masih perawan. Ada rasa senang dan juga bangga karena dia adalah orang pertama bagi istrinya itu.
Tbc.
__ADS_1